Nasional

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Diteriaki “Penipu” oleh Aktivis Lingkungan Raja Ampat

×

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Diteriaki “Penipu” oleh Aktivis Lingkungan Raja Ampat

Sebarkan artikel ini
Bahlil Lahadalia
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang juga Ketum Partai Golkar Bahlil Lahadalia. Foto: Antara

Ringkasan Berita

  • Bahlil yang tiba sekitar pukul 06.22 WIT dan dijadwalkan melakukan kunjungan kerja ke Raja Ampat untuk meninjau tamba…
  • Massa menuntut pencabutan izin seluruh perusahaan tambang nikel yang dinilai merusak ekosistem Raja Ampat.
  • "Ini menunjukkan tidak adanya komitmen serius dari pemerintah untuk menjaga lingkungan Raja Ampat," tegasnya.

Topikseru.com – Kedatangan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, di Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Sorong, Papua Barat Daya, Sabtu (7/6), diwarnai aksi demonstrasi dari puluhan aktivis lingkungan dan pemuda adat Raja Ampat.

Massa menuntut pencabutan izin seluruh perusahaan tambang nikel yang dinilai merusak ekosistem Raja Ampat.

Bahlil yang tiba sekitar pukul 06.22 WIT dan dijadwalkan melakukan kunjungan kerja ke Raja Ampat untuk meninjau tambang nikel, langsung disambut teriakan dan spanduk protes.

“Tutup tambang nikel di Raja Ampat! Hentikan perampokan alam kami!” teriak massa sambil membentangkan pamflet berisi tuntutan.

Salah satu teriakan paling nyaring yang terdengar dari massa adalah tudingan bahwa Menteri Bahlil “menipu rakyat Indonesia.”

Aksi tersebut dipicu oleh manuver Bahlil yang memilih keluar dari bandara melalui pintu belakang sekitar pukul 07.02 WIT, saat massa hendak masuk ke ruang terminal untuk berdialog.

Baca Juga  Luhut Pandjaitan Batal Pensiun dari Pemerintahan, Bahlil: Masih Dibutuhkan

“Bahlil Lahadalia hari ini menipu rakyat Indonesia dan sembunyi dari massa lewat pintu belakang Bandara DEO Sorong,” ujar Uno Klawen, seorang pemuda adat Raja Ampat yang turut berorasi di lokasi.

Aktivis Soroti Tambang Nikel di Raja Ampat

Aksi protes ini menyoroti keberadaan empat perusahaan tambang nikel yang masih aktif di wilayah Raja Ampat, yakni:

PT Gag Nikel

PT Kawei Sejahtera Mining

PT Anugerah Surya Pratama

PT Mulya Raymon Perkasa

Uno menilai pemerintah hanya berani menindak satu perusahaan, yakni PT Gag Nikel, sementara tiga lainnya tetap bebas beroperasi.

“Ini menunjukkan tidak adanya komitmen serius dari pemerintah untuk menjaga lingkungan Raja Ampat,” tegasnya.

Menurut massa aksi, tambang-tambang tersebut telah merusak lanskap hutan dan wilayah pesisir Raja Ampat yang dikenal sebagai salah satu ekosistem laut paling kaya di dunia.

Desakan Anak Adat Raja Ampat

Aktivis dan perwakilan anak adat Raja Ampat meminta pemerintah pusat agar tidak tunduk pada kepentingan korporasi.

Mereka menilai pembangunan tidak boleh dilakukan dengan cara merusak alam.

“Kami sebagai anak adat Raja Ampat meminta agar jangan tutup mata dengan permainan elite pusat. Alam kami dirusak dan dirampok atas nama pembangunan oleh negara,” ujar Uno.