Ekonomi dan Bisnis

Harga Bitcoin (BTC) Menguat 0,26% dan Masih Bertahan di Level US$ 105.777

×

Harga Bitcoin (BTC) Menguat 0,26% dan Masih Bertahan di Level US$ 105.777

Sebarkan artikel ini
Harga Bitcoin (BTC) masih bertahan di level US$ 105.777, menguat 0,26% secara harian. Sepanjang awal Juni 2025 ini, BTC masih bergerak dalam rentang US$ 104.000 – US$ 106.000 atau sekitar Rp 1,69 miliar – Rp 1,72 miliar. 
Harga Bitcoin (BTC) masih bertahan di level US$ 105.777, menguat 0,26% secara harian. Sepanjang awal Juni 2025 ini, BTC masih bergerak dalam rentang US$ 104.000 – US$ 106.000 atau sekitar Rp 1,69 miliar – Rp 1,72 miliar. 

Ringkasan Berita

  • Periode terpanjang sejak pertama kali Bitcoin menembus angka enam digit pada Januari 2025.
  • Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menjelaskan, pergerakan BTC yang konsisten dalam rentang ini merupakan bagian dari s…
  • Pada 3 Juni, tercatat arus masuk bersih sebesar US$ 375,1 juta, menahan tren arus keluar selama tiga hari sebelumnya.

Topikseru.com – Harga Bitcoin mencatat tonggak sejarah dengan kemampuannya bertahan di level US$ 100.000 selama sebulan penuh.

Periode terpanjang sejak pertama kali Bitcoin menembus angka enam digit pada Januari 2025.

BACA: Harga Bitcoin Sempat Rontok di Level $100.200, Analis Pasar: 2 Level Dukungan Utama Harga Bitcoin (BTC) Minggu Ini

Berdasarkan data real-time Coinmarketcap, Senin (9/6) pukul 15.42 WIB, Bitcoin (BTC) masih bertahan di level US$ 105.777, menguat 0,26% secara harian.

Sepanjang awal Juni 2025 ini, BTC masih bergerak dalam rentang US$ 104.000 – US$ 106.000 atau sekitar Rp 1,69 miliar – Rp 1,72 miliar.

Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menjelaskan, pergerakan BTC yang konsisten dalam rentang ini merupakan bagian dari siklus pasar yang normal.

Fyqieh bilang saat ini memang banyak investor jangka panjang yang mengambil untung dari aset yang dibeli saat harga masih rendah.

“Namun pasar masih menunjukkan kekuatan karena tidak ada tekanan makroekonomi besar yang menekan harga lebih dalam,” ujar Fyqieh.

Fyqieh menyebut posisi Bitcoin dalam zona ini merupakan fase konsolidasi yang sehat sebelum mencoba menembus resistance terdekat di level US$ 107.500, level penting yang dapat membuka peluang menuju rekor harga baru.

Namun memang, Fyqieh menilai saat ini belum ada katalis ekonomi besar yang mampu mendorong pergerakan signifikan di pasar kripto.

Salah satu faktor yang bisa menahan tekanan jual adalah arus masuk ke ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat (AS).

Pada 3 Juni, tercatat arus masuk bersih sebesar US$ 375,1 juta, menahan tren arus keluar selama tiga hari sebelumnya.

Baca Juga  Harga Bitcoin (BTC) Menguat 0,85% Bersandar di Level US$ 111.157 Per Koin atau Setara Rp1,82 Miliar Per Koin

Memang, sentimen terhadap kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump dan ketidakpastian arah suku bunga The Fed sempat membebani permintaan ETF.

Investor tetap berhati-hati menjelang pembicaraan dagang AS-China dan rilis laporan ketenagakerjaan AS.

Selanjutnya, data ekonomi yang akan menjadi perhatian adalah laporan inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) bulan Mei yang akan dirilis pada 11 Juni. Perkiraan dari Federal Reserve Atlanta menunjukkan inflasi bulanan sebesar 0,12%, atau 0,23% jika tidak termasuk makanan dan energi. Angka ini sejalan dengan laporan inflasi bulan April.

Namun, angka-angka tersebut belum memperhitungkan potensi dampak dari tarif baru yang mulai diberlakukan. Fahmi menilai masih banyak perusahaan besar, seperti produsen mobil dan pengecer, yang belum menyesuaikan harga mereka.

Alhasil, dampaknya mungkin belum tercermin dalam CPI bulan Mei. Kenaikan harga kemungkinan baru akan terlihat di laporan CPI bulan Juni atau Juli.

Selain itu, Federal Open Market Committee (FOMC) dijadwalkan akan menetapkan suku bunga pada 18 Juni, setelah data CPI dirilis. Pasar memperkirakan suku bunga akan tetap stabil di kisaran 4,25%–4,5%, sesuai dengan proyeksi CME FedWatch Tool.

FOMC sendiri masih bersikap hati-hati dan menunggu data ekonomi lebih lanjut sebelum mengambil keputusan pemangkasan suku bunga yang mungkin terjadi di akhir tahun.

Pergerakan pasar dalam waktu dekat diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh rilis data ketenagakerjaan AS, terutama laporan Non-Farm Payrolls (NFP) yang bisa menjadi pemicu volatilitas jika hasilnya jauh dari ekspektasi.

“Jika tidak ada katalis eksternal yang signifikan dalam waktu dekat, kemungkinan besar Bitcoin akan tetap bergerak sideways. Namun secara struktur pasar tetap kuat, didukung volume transaksi yang tinggi dan antusiasme investor yang solid,” pungkas Fyqieh.