Gaya Hidup

Tradisi Mistis Malam Satu Suro: Mengapa Tidak Boleh Keluar Rumah?

×

Tradisi Mistis Malam Satu Suro: Mengapa Tidak Boleh Keluar Rumah?

Sebarkan artikel ini
malam satu suro
Tradisi dan larangan di malam satu suro

Ringkasan Berita

  • Perayaan ini bertepatan dengan 1 Muharram, yaitu Tahun Baru Hijriah, yang menandai dimulainya tahun baru Islam.
  • Sedangkan malam satu Suro merujuk pada malam yang datang setelah waktu magrib sebelum tanggal 1 Suro itu sendiri, kar…
  • Kementerian Agama RI juga menyatakan bahwa bulan Suro diyakini sebagai bulan yang sangat sakral oleh masyarakat Jawa,…

Topikseru.com – Malam Satu Suro adalah salah satu momen paling sakral dan penuh makna dalam kebudayaan Jawa. Perayaan ini bertepatan dengan 1 Muharram, yaitu Tahun Baru Hijriah, yang menandai dimulainya tahun baru Islam.

Bagi masyarakat Jawa, malam ini bukan hanya malam pergantian tahun, melainkan malam yang dipenuhi nuansa mistis, spiritual, dan refleksi diri.

Istilah “Suro” sendiri berasal dari penyebutan bulan Muharram dalam bahasa Jawa.

Pengertian Malam Satu Suro

Menurut situs Kemendikbud RI, Satu Suro adalah penanda awal bulan pertama dalam kalender Jawa, yaitu bulan Suro, yang sistem penanggalannya mengacu pada kalender Jawa.

Sedangkan malam satu Suro merujuk pada malam yang datang setelah waktu magrib sebelum tanggal 1 Suro itu sendiri, karena pergantian hari dalam kalender Jawa dimulai saat matahari terbenam, bukan tengah malam seperti dalam kalender Masehi.

Kementerian Agama RI juga menyatakan bahwa bulan Suro diyakini sebagai bulan yang sangat sakral oleh masyarakat Jawa, bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Islam.

Masyarakat Jawa percaya bahwa malam ini adalah saat di mana dunia gaib dan dunia manusia menjadi lebih dekat, sehingga banyak ritual dilakukan untuk menolak bala, introspeksi, dan mendekatkan diri pada Tuhan.

Sejarah dan Asal Usul Malam Satu Suro

Penciptaan kalender Jawa tidak terlepas dari sosok besar Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja Kesultanan Mataram Islam.

Pada tahun 1633 Masehi atau 1555 Saka, Sultan Agung memperkenalkan kalender Jawa sebagai hasil perpaduan kalender Saka (Hindu), kalender Hijriah (Islam), dan kalender Masehi (Barat).

Langkah ini bukan tanpa tujuan. Sultan Agung ingin menyatukan berbagai kelompok masyarakat, terutama antara santri (Islam) dan abangan (kepercayaan lokal/Hindu-Buddha).

Dalam kalender ini, 1 Suro ditetapkan sebagai hari pertama dalam tahun baru Jawa dan diselaraskan dengan 1 Muharram, sebagai bentuk Islamisasi budaya lokal tanpa menghapus nilai-nilai tradisional.

Mengutip dari Tirto.id, penyesuaian kalender ini juga dilakukan oleh Sunan Giri II, seorang tokoh penting dalam Kerajaan Demak pada sekitar tahun 931 H (Hijriah).

Penyatuan penanggalan ini menjadi dasar penting dalam mengukuhkan identitas Jawa-Islam yang unik dan penuh filosofi.

Makna Filosofis dan Spiritual Malam Satu Suro

Malam satu Suro bukan sekadar malam tahun baru, melainkan momen perenungan spiritual yang sangat mendalam.

Bagi masyarakat Jawa, malam ini diyakini sebagai waktu terbaik untuk menyepi, bertafakur, melakukan lelaku, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Dalam praktiknya, banyak orang melakukan tirakat, puasa, zikir, membaca doa, hingga ziarah ke makam leluhur.

Hal ini mencerminkan keyakinan bahwa dunia metafisik sangat aktif pada malam ini, sehingga manusia perlu menjaga diri dan tidak melakukan aktivitas berlebihan atau pesta pora.

Sultan Agung dan Jumat Legi

Menurut data dari Tirto.id, Sultan Agung juga mengaitkan malam 1 Suro dengan hari Jumat Legi, sebuah kombinasi hari pasaran dalam kalender Jawa yang dianggap sangat keramat.

Setiap Jumat Legi, masyarakat kerajaan melakukan pengajian, ziarah kubur, dan pelaporan pemerintahan daerah. Tradisi ini kemudian menyatu dalam kebudayaan Jawa-Islam dan diwariskan turun-temurun hingga kini.

Jika 1 Suro jatuh pada Jumat Legi, maka masyarakat akan menganggapnya sebagai hari yang sangat suci.

Bahkan, terdapat kepercayaan bahwa jika malam 1 Suro digunakan untuk selain kegiatan spiritual, maka orang yang melakukannya bisa terkena kesialan atau malapetaka.

Kepercayaan dan Mitos Seputar Malam Satu Suro

Banyak masyarakat Jawa menganggap malam 1 Suro sebagai pertemuan antara dunia manusia dan dunia gaib. Oleh karena itu, malam ini sering kali diselimuti dengan kesan mistis, bahkan menakutkan.
Tradisi seperti tirakat, semedi, ziarah makam, hingga ritual sesaji sering dijumpai pada malam ini.

Baca Juga  3 Agustus 2025 Hari Apa? Ini Penjelasan Lengkap Tanggal dan Maknanya

Dalam tulisan Zainuddin berjudul “Tradisi Suro dalam Masyarakat Jawa”, disebutkan bahwa banyak masyarakat percaya pada mitos-mitos tertentu yang menyertai malam ini.

Misalnya, siapa pun yang menyalahgunakan malam ini untuk tujuan selain spiritual, seperti berpesta atau bersenang-senang, diyakini akan mendapatkan kesialan.

Pantangan dan Larangan di Malam Satu Suro

Banyak pantangan yang diyakini masyarakat Jawa pada malam satu Suro. Hal ini dilandasi oleh anggapan bahwa malam ini adalah malam rawan dan penuh energi gaib. Berikut ini adalah beberapa larangan yang umum dipercaya:

1. Larangan Keluar Rumah

Masyarakat percaya bahwa malam satu Suro bukan waktu yang baik untuk berada di luar rumah. Orang dengan weton tertentu dianggap bisa mengalami nasib buruk jika keluar rumah, karena dipercaya bahwa makhluk halus atau dukun ilmu hitam sedang mencari tumbal.

2. Tidak Boleh Berisik atau Bicara Keras

Ritual tapa bisu dilakukan oleh sebagian masyarakat sebagai bentuk puasa bicara. Ritual ini biasanya dilakukan oleh abdi dalem Keraton Yogyakarta, yang berjalan mengelilingi benteng (mubeng beteng) tanpa berbicara sepatah kata pun. Bahkan, makan, minum, dan merokok pun dilarang saat menjalani ritual ini.

3. Tidak Menikah atau Pindah Rumah

Menikah atau pindah rumah pada malam 1 Suro diyakini membawa kesialan, meskipun tidak ada larangan dalam Islam. Masyarakat lebih memilih waktu lain yang dianggap lebih aman dan bersih dari gangguan gaib.

Tradisi dan Ritual Malam Satu Suro di Berbagai Daerah

1. Mubeng Beteng (Yogyakarta)

Ritual ini adalah tirakat berjalan kaki mengelilingi benteng keraton, dimulai dari alun-alun utara, menyusuri sisi barat, selatan, timur, hingga kembali ke utara. Para peserta tidak mengenakan alas kaki dan melafalkan doa sepanjang perjalanan. Ini dilakukan sebagai bentuk pengendalian diri dan penghormatan terhadap alam semesta.

2. Kirab Kebo Bule (Surakarta)

Mengutip dari Regional.Kontan.co.id, di Solo terdapat tradisi kirab Kebo Bule Kyai Slamet, seekor kerbau putih yang dianggap sebagai hewan keramat.

Kebo bule adalah hewan kesayangan Paku Buwono II, yang dipercaya membawa keselamatan jika disentuh saat kirab malam satu Suro.

3. Jamasan Pusaka

Keraton Yogyakarta dan Surakarta juga melakukan prosesi jamasan pusaka, yaitu pembersihan keris, tombak, gamelan, kereta kencana, hingga manuskrip kuno.

Menurut catatan Madhan Anis, kegiatan ini tidak hanya bersifat teknis tetapi juga spiritual, untuk menyambut tahun baru dengan hati dan benda yang bersih.

Peran Budaya dan Agama dalam Tradisi Malam Satu Suro

Tradisi malam 1 Suro mencerminkan sinkretisme budaya Jawa, di mana nilai-nilai keislaman, kejawen, dan spiritualitas berbaur secara harmonis. Malam ini adalah momen rekonsiliasi batin, evaluasi diri, dan memohon berkah untuk tahun yang akan datang.

Masyarakat Jawa memanfaatkan momen ini bukan untuk bersenang-senang, tetapi untuk mengingat kematian, kehidupan akhirat, dan pentingnya kesalehan spiritual.

Malam 1 Suro merupakan warisan budaya spiritual yang sangat kaya dan bermakna dalam. Dari sejarah Sultan Agung hingga tradisi masyarakat modern, malam ini tetap dijaga sebagai malam suci yang penuh dengan pantangan dan kebajikan.

Melalui berbagai ritual seperti mubeng beteng, jamasan pusaka, kirab kebo bule, hingga tirakat pribadi, masyarakat Jawa menjaga nilai-nilai spiritual dan kebudayaan lokal tetap hidup.

Perayaan malam satu Suro bukan hanya soal mitos atau mistis, tetapi juga soal identitas, harmoni sosial, dan penguatan nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi kebudayaan Nusantara. (*)