Topikseru.com – Di gang sempit yang bahkan lampu jalannya sering padam, seorang perempuan paruh baya berjalan dengan sandal jepit. Namanya Ustazah Jamilah, seorang Penyuluh Agama Islam Non-PNS yang memilih jalan sunyi: memberantas buta aksara Al-Qur’an di sudut-sudut desa Sumatera Utara, tepatnya di Kecamatan Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang.
Tak ada kendaraan dinas, tak ada kantor megah, tak ada gaji tetap. Yang ada hanyalah segenggam tekad, segunung sabar, dan tas kecil berisi lembar-lembar Iqra’.
“Kadang saya kejar anjing waktu lewat sawah. Ya saya lari sambil bawa kitab Iqra’,” kata Jamilah, Rabu (23/7/2025).
Ia tertawa kecil mengenang kenangan yang bagi orang lain mungkin derita, tapi baginya bukti pengabdian.
Satu Huruf Hijaiyah, Satu Kemenangan
Dusun Skepel di Paluh Kemiri, Gang Purwo di Desa Bakaran Batu, sampai lorong sempit di Sekip Jalan Mesjid II – semua pernah disambangi Jamilah. Ia menapaki jalan tanah berdebu atau becek, demi satu misi, yakni membebaskan masyarakat dari buta aksara Al-Qur’an.
Beranda rumah warga, teras masjid yang remang, balai desa yang dingin – semua berubah menjadi ruang kelas Quran.
Tak hanya anak-anak yang diajarnya. Ibu-ibu yang tak pernah sekolah formal, kakek-nenek yang gemetar memegang mushaf, semua dirangkul dengan sabar.
“Bagi saya, satu orang bisa membaca Al-Qur’an itu satu kemenangan besar. Itu bisa jadi amal jariyah saya,” tutur Jamilah, sang pengidola Syekh Abdurrahman as-Sudais.
Ustazah Jamilah Mengabdi 10 Tahun
Lebih dari 1.000 orang telah disentuh tangannya dalam satu dekade. Ia menularkan bukan hanya huruf hijaiyah, tetapi juga kasih sayang, kesederhanaan, moderasi beragama, dan cinta damai.
Jamilah membuktikan bahwa dakwah tak melulu mimbar, tapi bisa berwujud tikar lusuh di beranda rumah warga, di mana huruf-huruf suci dibacakan perlahan. Itulah jihadnya: memastikan Kalamullah tak berhenti di kota, tetapi bergema sampai dusun paling sunyi.
Dari Non-PNS ke PPPK: Pengakuan Langit, Persetujuan Bumi
Pada 2024, negara akhirnya mendengar langkahnya. Ustazah Jamilah diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Kementerian Agama. Baginya, status baru ini bukan tujuan akhir.
“Bukan status yang saya kejar, tapi keberkahan. Menjadi PPPK bukan akhir, ini babak baru,” katanya pelan.
Kini, dengan pengakuan resmi, Jamilah merancang mimpi baru “program literasi Qur’ani yang lebih luas, terstruktur, dan berkelanjutan”.
Tak Akan Berhenti
Hingga kini, saban sore Jamilah tetap menenteng Iqra’, menyapa lorong-lorong, merangkul tangan-tangan gemetar yang ingin membaca Kalamullah.
Ia teladan bagi para Penyuluh Agama Islam lainnya: bahwa pengabdian sunyi pun bisa menggema ke langit, lalu bergaung kembali di bumi.
“Selama masih ada yang belum bisa membaca Al-Qur’an, saya akan terus berjalan,” pungkasnya.






