Topikseru.com – Ketika naskah Proklamasi diketik di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 pada dini hari 17 Agustus 1945, sejarah Indonesia ditopang oleh tokoh-tokoh “di balik layar” yang sering luput dari sorotan.
Di balik nama besar Soekarno dan Hatta, ada sosok Laksamana Tadashi Maeda, Fatmawati sang penjahit bendera, hingga barisan pemuda revolusioner seperti Sayuti Melik, Wikana, dan Sukarni — yang berperan besar memaksa detik-detik Proklamasi lahir lebih cepat.
Laksamana Maeda, Penjaga Malam Proklamasi
Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, Laksamana Muda Tadashi Maeda adalah nama Jepang yang justru jadi pengaman kemerdekaan.
Saat situasi di Jakarta genting, Maeda – Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut Jepang – secara diam-diam meminjamkan rumah dinasnya di Jalan Imam Bonjol (dulu Jalan Meiji Dori) sebagai tempat penyusunan teks Proklamasi.
Maeda menjaga para tokoh bangsa yang sedang berunding agar tak diganggu tentara Jepang lain. Malam itu, di ruang tamu rumah Maeda, Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo merumuskan kalimat pembebas rakyat Indonesia dari penjajahan.
Ironis, Laksamana Maeda adalah perwira Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, namun dialah “penjaga malam” yang membiarkan Soekarno dan Hatta menyelesaikan tugas bersejarah.
Profil Laksamana Maeda
Tadashi Maeda lahir di Kagoshima, Jepang, 1898. Ia adalah perwira Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang bertugas di Indonesia pada masa pendudukan Jepang.
Nama Maeda mencuat karena sikapnya yang unik: di tengah ketatnya pengawasan militer Jepang, ia diam-diam membantu para tokoh bangsa mempersiapkan kemerdekaan.
Rumah dinasnya di Jalan Meiji Dori (sekarang Jalan Imam Bonjol Nomor 1) menjadi saksi bisu penyusunan naskah Proklamasi pada dini hari 17 Agustus 1945.
Maeda memastikan rumahnya aman dari tentara Jepang yang masih bertahan dengan Perang Asia Timur Raya. Berkat “perlindungan diam-diam” Maeda, Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo bisa merumuskan naskah tanpa gangguan.
Setelah perang usai, Maeda ditahan Sekutu tetapi kemudian diizinkan kembali ke Jepang pada 1946. Rumahnya kini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.
Fatmawati, Penjahit Sang Saka Merah Putih
Fatmawati Soekarno, istri muda Sang Proklamator, juga memiliki peran monumental. Di rumah kecil di Pegangsaan Timur, ia menjahit bendera pusaka Merah Putih dengan mesin jahit tangan.
Bendera yang dijahit dari kain katun sederhana itulah yang pertama kali dikibarkan di halaman rumah Soekarno pada 17 Agustus 1945.
“Kalau kita ingat bendera pusaka, ingatlah tangan Fatmawati yang menjahitnya dengan penuh harap,” demikian dikisahkan banyak sejarawan.
Profil Fatmawati
Lahir di Bengkulu, 5 Februari 1923, Fatmawati adalah istri muda Soekarno yang punya peran monumental. Ia yang menjahit sendiri bendera pusaka Merah Putih, dengan mesin jahit tangan di rumah mereka di Pegangsaan Timur.
Kainnya sederhana, jahitannya pun manual. Tapi dari tangannya, Sang Saka Merah Putih pertama kali dikibarkan tepat di halaman rumah Soekarno, detik-detik setelah Proklamasi dibacakan.
Bendera pusaka itu hanya dijahit Fatmawati sendirian – simbol sederhana namun abadi.
Fatmawati kelak menjadi Ibu Negara pertama Republik Indonesia. Ia wafat pada 14 Mei 1980 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Sayuti Melik, Wikana, dan Sukarni: Penculik Demi Merdeka
Sementara di sisi lain, para pemuda menjadi bensin revolusi. Sayuti Melik, Wikana, dan Sukarni mendesak Bung Karno dan Bung Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu “izin” Jepang.
Pada 16 Agustus dini hari, mereka “menculik” Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok, Karawang, agar jauh dari pengaruh Jepang. Di sanalah tekanan pemuda memuncak.
Soekarno akhirnya luluh, lalu dibawa kembali ke Jakarta untuk memproklamasikan kemerdekaan esok paginya.
Peran Sayuti Melik tak berhenti di situ. Dialah yang mengetik naskah Proklamasi setelah dirumuskan di rumah Maeda, sekaligus membubuhkan tanda tangan “atas nama bangsa Indonesia”.
Profil Sayuti Melik
Sayuti Melik lahir di Yogyakarta, 22 November 1908. Sebagai pemuda radikal, ia aktif di pergerakan nasional sejak muda, bahkan sempat dipenjara Belanda.
Namanya tercatat abadi karena dialah yang mengetik naskah Proklamasi yang dirumuskan oleh Soekarno, Hatta, dan Soebardjo di rumah Maeda. Sayuti juga yang membenahi kata-kata Proklamasi – misalnya mengganti “wakil-wakil bangsa Indonesia” menjadi “atas nama bangsa Indonesia”.
Setelah kemerdekaan, Sayuti Melik menjabat anggota DPR dan Konstituante. Ia meninggal pada 27 Februari 1989.
Profil Wikana
Wikana lahir di Sumedang, 16 Oktober 1914. Wikana adalah pentolan kelompok pemuda revolusioner. Bersama Chaerul Saleh dan Sukarni, Wikana mendesak Soekarno-Hatta agar Proklamasi tidak ditunda dengan alasan apapun.
Pada 16 Agustus 1945 dini hari, Wikana dan rekan-rekannya “menculik” Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok.
Tujuannya jelas: menjauhkan mereka dari pengaruh Jepang, agar kemerdekaan benar-benar hasil keputusan rakyat Indonesia sendiri.
Setelah kemerdekaan, Wikana aktif di politik sayap kiri dan menjabat Gubernur Militer di Sumatra Timur. Ia menjadi korban gejolak politik 1965, tewas tanpa kuburan yang jelas.
Profil Sukarni
Sukarni Kartodiwirjo lahir di Blitar, 14 Juli 1916. Sama seperti Wikana, Sukarni dikenal lantang menuntut kemerdekaan segera.
Dialah yang mendesak Bung Karno agar Proklamasi tidak ditunda-tunda, meski harus berhadapan dengan militer Jepang.
Setelah Proklamasi, Sukarni tetap aktif dalam organisasi pemuda dan menjadi tokoh penting di Angkatan Pemuda Indonesia (API).
Dia sempat menjadi anggota DPR dan Dewan Pertimbangan Agung. Sukarni wafat pada 7 Mei 1971 di Jakarta, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Sisi Lain Kemerdekaan yang Jarang Dibicarakan
Delapan puluh tahun Indonesia merdeka, nama-nama ini tak selalu muncul di buku teks sekolah. Padahal, tanpa rumah Maeda, bendera Fatmawati, dan nyali pemuda Rengasdengklok, Proklamasi bisa jadi tak bergema tepat 17 Agustus 1945.
Merekalah bukti sejarah bahwa kemerdekaan bukan sekadar milik para orator di mimbar, tapi juga kerja senyap para penjaga malam, penjahit, dan “penculik” revolusi.












