Entertainment

Fakta Lengkap Deretan Kontroversi YouTuber Bigmo, dari Fitnah hingga Dugaan Penghinaan Etnis Sunda

×

Fakta Lengkap Deretan Kontroversi YouTuber Bigmo, dari Fitnah hingga Dugaan Penghinaan Etnis Sunda

Sebarkan artikel ini
YouTuber Bigmo
YDeretan Kontroversi YouTuber Bigmo

Ringkasan Berita

  • Kedua figur ini, yang sebelumnya dikenal sebagai kreator konten dengan pengikut setia di berbagai platform, kini just…
  • Azizah sendiri bukanlah sosok asing bagi publik.
  • Ia adalah istri dari pesepak bola Timnas Indonesia Pratama Arhan dan juga putri dari politisi ternama Andre Rosiade, …

Topikseru.com – Kasus yang menyeret nama Youtuber Bigmo atau  Muhammad Jannah, bersama sang kakak Resbobb, menjadi salah satu topik terpanas di dunia hiburan digital Indonesia pada Agustus 2025.

Kedua figur ini, yang sebelumnya dikenal sebagai kreator konten dengan pengikut setia di berbagai platform, kini justru berada di sorotan publik karena dugaan keterlibatan mereka dalam penyebaran fitnah terhadap Azizah Salsha.

Azizah sendiri bukanlah sosok asing bagi publik. Ia adalah istri dari pesepak bola Timnas Indonesia Pratama Arhan dan juga putri dari politisi ternama Andre Rosiade, anggota DPR RI dari Partai Gerindra.

Dengan status sosial yang tinggi dan popularitas yang luas, kabar fitnah yang diarahkan padanya dengan cepat memicu kehebohan di media sosial dan menjadi perbincangan di berbagai kanal berita.

Puncak ketegangan terjadi pada Jumat, 8 Agustus 2025, ketika Andre Rosiade mendampingi Azizah Salsha secara langsung mendatangi Bareskrim Polri.

Dalam kesempatan itu, Andre dengan tegas melaporkan Resbobb atas tuduhan penyebaran fitnah yang dinilai sudah melampaui batas kewajaran.

Langkah ini menunjukkan keseriusan pihak keluarga Azizah untuk menindaklanjuti kasus ini ke jalur hukum, sekaligus memberikan sinyal kepada publik bahwa serangan verbal dan tuduhan palsu di dunia maya tidak bisa dianggap remeh.

Andre Rosiade bahkan menyebut bahwa laporan ini bukan hanya demi kehormatan keluarganya, tetapi juga sebagai bentuk pembelajaran bagi kreator konten dan warganet agar lebih bijak dalam berkomentar.

Profil Bigmo: Kreator Konten Blak-blakan yang Penuh Kontroversi

Bigmo dikenal sebagai kreator konten YouTube yang membangun popularitasnya melalui live streaming dengan topik hangat, mulai dari gosip selebritas, isu sosial, hingga pembahasan kehidupan pribadi narasumber. Gaya bicaranya yang lugas, ceplas-ceplos, dan terkadang memicu emosi penonton membuatnya dengan cepat mendapatkan perhatian.

Namun, karakter tersebut juga menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, Bigmo berhasil menciptakan engagement tinggi.

Di sisi lain, ia sering dianggap melewati batas etika, terlebih saat membahas isu sensitif atau menyentuh kehidupan pribadi orang lain.

Bigmo kerap mengundang narasumber dari berbagai kalangan—figur publik, sesama kreator, bahkan anggota keluarganya—namun sering kali garis pembeda antara konten informatif dan sensasi murahan menjadi kabur. Kondisi inilah yang membuatnya berkali-kali terseret kontroversi.

Kasus Bintang Emon: Walk Out yang Menggemparkan Dunia Stand-Up Comedy

Salah satu insiden paling viral terjadi pada Juli 2025, saat Bigmo mengundang komika terkenal Bintang Emon sebagai bintang tamu.

Percakapan awal berjalan lancar, hingga Emon membagikan kisah masa lalunya—terlilit utang ratusan juta rupiah sebelum sukses di dunia komedi.

Alih-alih memberikan dukungan atau apresiasi, Bigmo justru menanggapi dengan komentar yang dianggap merendahkan perjuangan Emon. Ia bahkan menuduh Emon pernah menjual “bakso tikus” dan menyatakan bahwa Emon tidak pantas disebut miskin.

“Kalau udah miskin, f* nyaman, f*** happy, gue lakuin apa yang bisa gue lakuin,”** ujar Bigmo.

Pernyataan tersebut langsung memicu walk out dari Bintang Emon, yang dinilai publik sebagai bentuk penolakan terhadap kurangnya empati di ruang obrolan publik.

Kata-kata Bigmo dianggap mereduksi makna kemiskinan menjadi sekadar “tidak punya uang” dan mengabaikan aspek-aspek lain seperti kesehatan mental, akses pendidikan, peluang karier, hingga keberanian untuk keluar dari lingkaran kesulitan.

Kondisi miskin adalah fenomena multidimensi. Bagi sebagian orang, memilih untuk bertahan hidup sambil menjaga martabat adalah bentuk perjuangan yang tidak bisa diukur dengan standar “harus nekat lakukan apa saja”.

Fenomena Live Streaming: Antara Hiburan dan Eksploitasi

Insiden ini semakin kontroversial karena di tengah perbincangan yang memanas, terdapat saweran sebesar Rp 8.888.888 dari penonton. Fakta ini membuat publik bertanya-tanya apakah drama tersebut sengaja dibangun untuk memancing interaksi dan keuntungan finansial.

Baca Juga  Kasus YouTuber Bigmo dan Resbobb: Kronologi Lengkap dari Bentakan hingga Tuduhan Fitnah

Fenomena live streaming yang mengutamakan konten spontan memang menjadi tren, namun risiko eksploitasi kisah pribadi narasumber menjadi semakin besar. Kreator konten yang mengejar sensasi sering kali mengabaikan batas etika demi views dan donasi.

Deretan Pernyataan Kontroversial Bigmo

Selain insiden dengan Bintang Emon, Bigmo tercatat beberapa kali membuat pernyataan yang memicu kemarahan publik.

1. Hina Etnis Sunda

Pada siaran langsung YouTube tanggal 27 Juli 2025, Bigmo menyebut orang Sunda “aneh” dan menilai mereka licik, dua muka, serta baperan.

“Gua belum nemu cewek Sunda yang green flag. Orang Sunda deh yang general,” ujarnya.

Pernyataan ini viral di media sosial, memicu debat panas, dan banyak pihak menilai komentarnya mengandung bias stereotip yang berpotensi memecah belah.

2. Hina Kota Surabaya

Pada 17 Mei 2025, Bigmo kembali menjadi sorotan setelah video di TikTok memperlihatkan dirinya menyebut Surabaya sebagai kota ‘ter-L’ (merujuk pada kata “loser”). Ia mengkritik lalu lintas, kualitas jaringan internet, hingga meremehkan popularitas tokoh publik asal kota tersebut.

Komentar ini memicu kemarahan warga Surabaya dan mendapat tanggapan tegas dari Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, yang menyebut ucapan Bigmo sebagai bentuk pelecehan terhadap martabat kota.

Pengakuan Soal Kasus Korupsi Ayahnya

Dalam sebuah kolaborasi konten bersama komedian dan podcaster ternama Pandji Pragiwaksono, Muhammad Jannah alias Bigmo membuat pengakuan mengejutkan yang sontak menjadi sorotan publik.

Ia secara terbuka mengungkap bahwa sang ayah, Muhammad Nashihan, pernah terjerat kasus korupsi yang cukup besar.

Berdasarkan data resmi dari Diskominfo Batam, Nashihan merupakan terpidana korupsi dengan nilai kerugian negara yang ditaksir mencapai Rp 4,8 miliar.

Momen pengakuan ini terjadi ketika Pandji menanyakan latar belakang keluarga Bigmo, termasuk bagaimana perjalanan hidupnya hingga bisa menjadi figur publik di dunia digital.

Awalnya, pembicaraan mengalir santai, namun kemudian Bigmo dengan nada tenang menyebut bahwa ayahnya pernah bermasalah dengan hukum.

Ia tidak menutup-nutupi fakta tersebut, meskipun secara jelas enggan masuk ke detail kronologi atau modus kasus yang menjerat sang ayah.

Pandji sempat mencoba menggali lebih dalam, namun Bigmo memilih mengalihkan pembahasan.

Sikap ini kemudian menimbulkan beragam persepsi di kalangan warganet. Sebagian menilai langkah Bigmo sebagai bentuk penghormatan terhadap privasi keluarga, terutama mengingat kasus tersebut telah berlalu dan memiliki konsekuensi hukum yang sudah dijalani.

Namun, tidak sedikit pula yang menganggap hal tersebut sebagai strategi komunikasi—menyebut fakta sensasional untuk menarik perhatian publik, tetapi sengaja meninggalkan “ruang kosong” yang memancing rasa penasaran audiens.

Serangkaian kontroversi ini membuat reputasi Bigmo berada di ujung tanduk. Sebagian warganet menganggapnya tidak peka dan kurang empati, sementara sebagian lainnya menilai gaya komunikasinya memang sengaja provokatif untuk menarik perhatian.

Tagar boikot mulai bermunculan, dan beberapa influencer ikut mengkritik gaya bicara Bigmo yang dianggap menyerang identitas dan martabat orang lain.

Kasus ini menegaskan bahwa di era media sosial, kata-kata yang diucapkan di ruang publik memiliki konsekuensi langsung. Kreator konten tidak hanya bersaing untuk mendapatkan penonton, tetapi juga menghadapi tuntutan publik untuk menjaga etika dan menghormati keberagaman.

Batas tipis antara konten menghibur dan menyerang martabat orang lain harus dipahami secara mendalam, terutama ketika setiap pernyataan dapat disebarkan jutaan kali dalam hitungan menit.

Pelajaran dari Kontroversi Bigmo dan Resbobb

Kontroversi ini menjadi pelajaran penting bahwa popularitas di dunia digital harus diimbangi dengan tanggung jawab sosial. Kreator konten perlu memahami bahwa kebebasan berekspresi tidak berarti bebas dari dampak hukum dan sosial.

Kasus Bigmo dan Resbobb juga membuktikan bahwa publik semakin kritis dalam menilai perilaku figur publik, dan sekali reputasi rusak, memulihkannya akan sangat sulit. (*)