Nasional

Gempa Poso 6,0 SR Guncang Sulawesi Tengah, Gereja Ambruk dan Satu Orang Dilaporkan Meninggal Dunia

×

Gempa Poso 6,0 SR Guncang Sulawesi Tengah, Gereja Ambruk dan Satu Orang Dilaporkan Meninggal Dunia

Sebarkan artikel ini
Gempa
Tangkapan layar momen pasca gempa yang terjadi di Poso, Sulawesi Tengah. (bnpb.go.id)

Ringkasan Berita

  • Gereja tersebut diketahui masih dalam tahap pembangunan dan sebagian strukturnya belum kokoh.
  • Kisah Jemaat yang Selamat Salah satu jemaat yang selamat, Meryana (34 tahun), menceritakan detik-detik mencekam saat …
  • “Korban meninggal merupakan pasien yang sebelumnya mengalami kritis usai tertimpa reruntuhan bangunan pascagempa di…

Topikseru.com – Satu orang tewas dan 32 orang mengalami luka akibat Gempa M 6,0 Guncang yang mengguncang poso Sulawesi Tengah, pada Minggu (17/8/2025).  Gempa yang terjadi pada sore hari itu menimbulkan kepanikan warga, terutama di Kecamatan Poso Pesisir yang menjadi salah satu daerah dengan dampak terparah.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan resminya menjelaskan satu orang dilaporkan meninggal dunia usai sebelumnya mengalami kondisi kritis akibat tertimpa material bangunan Gereja Elim Masani, Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir. Gereja tersebut diketahui masih dalam tahap pembangunan dan sebagian strukturnya belum kokoh.

“Korban meninggal merupakan pasien yang sebelumnya mengalami kritis usai tertimpa reruntuhan bangunan pascagempa di Gereja. Saat itu, jemaat sedang melaksanakan ibadah dan tidak sempat menyelamatkan diri.”

Gempa membuat dinding bata yang belum selesai diplester serta material kayu di bagian atap runtuh, mengenai sejumlah jemaat. Panik dan kepadatan dalam ruangan menyebabkan proses evakuasi berlangsung cukup sulit.

Kisah Jemaat yang Selamat

Salah satu jemaat yang selamat, Meryana (34 tahun), menceritakan detik-detik mencekam saat gempa mengguncang. Saat itu sebutnya semua orang panik, akibat guncangan gempa tersebut

“Semua orang panik, kami sedang menyanyi lalu tiba-tiba lantai berguncang sangat keras. Tiba-tiba batu bata jatuh dari atas, kayu juga ikut menimpa kursi di samping saya. Saya langsung berlari ke pintu keluar sambil menarik anak saya. Suara teriakan dan tangisan terdengar di mana-mana,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu, Yohanes (52 tahun), seorang jemaat lain, menuturkan bagaimana ia menolong korban yang tertimpa material bangunan.

“Saya melihat ada seorang bapak yang tertimpa kayu besar. Kami berusaha mengangkatnya bersama-sama, tapi kondisinya sudah sangat lemah. Saat itu sulit sekali karena semua orang berdesakan keluar,” katanya.

Kisah para jemaat ini menunjukkan betapa cepat dan dahsyatnya dampak gempa yang membuat suasana ibadah berubah menjadi kepanikan massal dalam hitungan detik.

Puluhan Jemaat Mengalami Luka-Luka

Selain korban meninggal, sedikitnya 32 orang dilaporkan mengalami luka-luka, baik luka ringan maupun berat. Sebagian besar korban mengalami patah tulang, luka sobek akibat terkena pecahan material, serta trauma pascagempa.

Baca Juga  Presiden Prabowo Reshuffle 5 Menteri: Sri Mulyani, Budi Gunawan, Budi Arie, Karding Hingga Dito Ariotedjo

Tim medis di Puskesmas setempat kewalahan karena banyak korban yang membutuhkan penanganan darurat. Sejumlah pasien kemudian dirujuk ke RSUD Poso untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

“Mayoritas korban adalah jemaat gereja yang saat itu tengah mengikuti ibadah. Beberapa di antaranya anak-anak dan lansia,” tambah Abdul Muhari.

Selain menelan korban jiwa, gempa juga menimbulkan kerusakan cukup parah pada permukiman warga. Dari laporan kaji cepat, sedikitnya 12 unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan berat hingga tidak bisa dihuni lagi, sementara 33 unit rumah lainnya mengalami kerusakan ringan.

Kerusakan juga menimpa fasilitas umum. Sejumlah jalan mengalami retakan, beberapa tiang listrik roboh, dan akses jaringan telekomunikasi sempat terganggu. Hal ini menyulitkan komunikasi warga dengan keluarga mereka di luar daerah.

Menanggapi bencana ini, BNPB segera mengirimkan Tim Reaksi Cepat (TRC) ke lokasi pada Senin (18/8/2025) dini hari. Kehadiran TRC bertujuan untuk melakukan asesmen mendetail, membantu penanganan medis, serta mendampingi pemerintah daerah dalam mengoordinasikan penanganan darurat.

Bantuan logistik tahap awal juga langsung disalurkan, meliputi, seperti makanan siap saji,  tenda pengungsi dan tenda keluarga, hygiene kit, selimut, dan matras untuk tempat tidur sementara.

BNPB menegaskan bahwa proses distribusi bantuan akan terus dilakukan untuk memastikan seluruh korban terdampak bisa mendapatkan dukungan yang layak.

Meski gempa ini tidak berpotensi tsunami, kepanikan sempat melanda warga di beberapa kecamatan. Banyak yang berlarian ke tempat terbuka dan enggan kembali ke rumah mereka karena khawatir terjadi gempa susulan.

Psikolog dari Dinas Sosial Sulawesi Tengah menyebutkan, perhatian pada kondisi mental warga—terutama anak-anak yang mengalami trauma—sangat diperlukan. Dukungan psikososial menjadi salah satu langkah penting untuk membantu warga pulih dari ketakutan.

Pemerintah Kabupaten Poso bekerja sama dengan BNPB, TNI, Polri, serta relawan setempat untuk mempercepat proses evakuasi, penyaluran bantuan, hingga pendataan kerusakan.

Gubernur Sulawesi Tengah dijadwalkan meninjau lokasi terdampak guna memastikan seluruh penanganan berjalan maksimal. Pemerintah pusat pun berkomitmen memberikan dukungan penuh, baik berupa logistik maupun dana siap pakai, untuk mempercepat pemulihan.

Bencana ini menjadi ujian berat bagi masyarakat Poso yang selama ini dikenal dengan solidaritas tinggi. Bantuan yang telah dikirimkan diharapkan dapat meringankan beban para pengungsi dan mempercepat proses pemulihan.

“Langkah cepat yang dilakukan diharapkan bisa mengurangi penderitaan masyarakat terdampak dan membantu mereka bangkit kembali pascabencana,” pungkas Abdul Muhari. (*)

Sumber BNPB