Ekonomi dan Bisnis

Harga Bitcoin (BTC) Turun 0,52% Berada di Level $115,643 Atau Setara Dengan Rp1.877.679.114 Usai Cetak Rekor Tertinggi

×

Harga Bitcoin (BTC) Turun 0,52% Berada di Level $115,643 Atau Setara Dengan Rp1.877.679.114 Usai Cetak Rekor Tertinggi

Sebarkan artikel ini
Harga Bitcoin (BTC)
harga Bitcoin tercatat berada di level $115,643 atau setara dengan Rp1.877.679.114 mengalami kenaikan 0,42% dalam 24 jam terakhir.

Ringkasan Berita

  • harga Bitcoin tercatat berada di level $115,643 atau setara dengan Rp1.877.679.114 mengalami kenaikan 0,42% dalam 24 …
  • Harga bitcoin (BTC) ada di US$ 115.830 atau turun 0,52% secara harian, serta terkoreksi 2,74% secara mingguan.
  • Adapun untuk ke depan, analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur mengatakan, pergerakan harga BTC akan dipengaruhi faktor kebi…

Topikseru.com – Pada perdagangan Selasa (19/8/2025) setelah sempat mencetak rekor tertinggi atau all-time high (ATH) di US$ 124.000 pekan lalu, harga aset kripto harga Bitcoin (BTC) bergerak di kisaran US$ 116.000.

Harga bitcoin (BTC) ada di US$ 115.830 atau turun 0,52% secara harian, serta terkoreksi 2,74% secara mingguan.

harga Bitcoin tercatat berada di level $115,643 atau setara dengan Rp1.877.679.114 mengalami kenaikan 0,42% dalam 24 jam terakhir.

Sepanjang periode ini, BTC menyentuh level terendahnya di Rp1.859.212.684 dan harga tertingginya di Rp1.896.256.592.

Saat penulisan, kapitalisasi pasar Bitcoin berada di sekitar Rp37.497 triliun, dengan volume perdagangan dalam 24 jam terakhir yang naik 24% menjadi Rp635,73 triliun.

Koreksi ini masih terjadi usai pernyataan Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent yang menegaskan pemerintah tak menambah pembelian untuk cadangan strategis.

Adapun untuk ke depan, analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur mengatakan, pergerakan harga BTC akan dipengaruhi faktor kebijakan, makroekonomi, dan adopsi institusional.

Ia bilang, tekanan pada BTC salah satunya dapat dipengaruhi dari data inflasi produsen (PPI) AS yang lebih tinggi dari perkiraan.

Pasalnya, ini menimbulkan kekhawatiran bahwa The Fed akan menunda pemangkasan suku bunga.

“Pada gilirannya hal ini dapat menekan aset berisiko seperti kripto,” ujarnya.

Meski begitu, Fyqieh menilai derasnya arus masuk ETF Bitcoin menjadi sentimen positif. Dengan total inflow sejak awal tahun menembus US$ 50 miliar.

Sedangkan, produk seperti iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock kini mengelola aset hampir US$ 88 miliar,

“Hal ini menunjukkan masih kuatnya permintaan institusional,” imbuh Fyqieh.

Tak hanya itu, kepemilikan on-chain investor jangka panjang juga tetap solid, serta regulasi di AS yang semakin memberi legitimasi pada aset digital.

Untuk sepekan, Fyqieh memprediksi BTC bergerak dalam rentang US$ 113.000–122.000.

“Dengan adanya potensi rebound, jika arus masuk ETF tetap solid dan volatilitas pasar mereda,” tutupnya.

Analis Memperingatkan Potensi Penurunan Bitcoin
Kondisi makroekonomi Amerika Serikat menunjukkan bahwa Bitcoin berisiko mengalami penurunan, dan pasar secara luas kemungkinan akan mengikuti tren ini.

Berdasarkan data ICE BofA Option-Adjusted Spreads (OASs)—metrik makroekonomi yang memantau selera risiko investor di AS—pergerakan potensial Bitcoin seringkali bisa diprediksi.

Biasanya, lonjakan pada metrik ini mendahului kenaikan signifikan harga Bitcoin, dengan aset tersebut membentuk titik bawah lokal. Saat ini, metrik tersebut berada di kisaran rendah, menandakan kemungkinan penurunan yang lambat sedang berlangsung.

Analis kripto Joao Wedson mencatat bahwa sentimen bearish dalam lanskap makro AS telah berkembang sejak 2022.

Ia menambahkan bahwa “euforia kemungkinan besar akan terjadi” sebelum Bitcoin memasuki pasar bearish agresif “pada satu titik,” dengan proyeksi bahwa tren hingga 2026 akan lebih menguntungkan bagi pihak bear.

Wedson menyatakan: “Saya percaya sebagian besar tahun 2026 dan seterusnya akan sangat buruk bagi perekonomian AS.”

Bitcoin Mengungguli Pasar Saham AS
Perbandingan Bitcoin dengan indeks saham utama menunjukkan bahwa Bitcoin terus mengungguli S&P 500.

Menurut Artemis, dalam setahun terakhir, Bitcoin mencatatkan kenaikan 101%, dibandingkan S&P 500 yang hanya naik 17,2%.

Hal ini menunjukkan bahwa investor mendapatkan keuntungan jauh lebih besar dari memegang Bitcoin dibandingkan indeks saham, menegaskan posisi aset ini sebagai tujuan likuiditas yang menarik.

Dengan kinerja yang menguntungkan, semakin banyak investor kemungkinan akan tertarik pada Bitcoin karena potensi imbal hasil yang lebih tinggi.

Disclaimer: Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli crypto memiliki risiko dan volatilitas tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli bitcoin dan investasi aset crypto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi: Ambcrypto. Bitcoin faces bearish risk as U.S. macro clouds outlook; what’s next. Diakses pada tanggal 19 Agustus 2025