BursaEkonomi dan Bisnis

Harga Minyak WTI Terkoreksi 0,17% ke Level US$64,493 Per Barel Dipicu Perlambatan Ekonomi Global Khususnya AS

×

Harga Minyak WTI Terkoreksi 0,17% ke Level US$64,493 Per Barel Dipicu Perlambatan Ekonomi Global Khususnya AS

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak
Berdasarkan data yang dilansir dari Trading Economics, pada Jumat (29/8/2025) pukul 19.55 WIB, harga minyak WTI terkoreksi ke level US$ 64,493 per barel, melemah 0,17% secara harian.

Ringkasan Berita

  • Berdasarkan data yang dilansir dari Trading Economics, pada Jumat (29/8/2025) pukul 19.55 WIB, harga minyak WTI terko…
  • Dalam jangka panjang, prospek pelemahan ini diperkirakan bisa berlanjut.
  • Untuk ke depan, dalam jangka pendek, Wahyu mengamati sentimen pasar saat ini netral dengan kecenderungan ke bearish.

Topikseru.com – Pada perdagangan Jumat (29/8/2025) harga minyak dunia cenderung melemah. Dalam jangka panjang, prospek pelemahan ini diperkirakan bisa berlanjut.

Berdasarkan data yang dilansir dari Trading Economics, pada Jumat (29/8/2025) pukul 19.55 WIB, harga minyak WTI terkoreksi ke level US$ 64,493 per barel, melemah 0,17% secara harian.

Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono melihat, harga minyak WTI pekan ini cenderung melemah oleh kekhawatiran meredanya permintaan bahan bakar.

“Khususnya permintaan di AS, setelah musim liburan,” katanya.

Untuk ke depan, dalam jangka pendek, Wahyu mengamati sentimen pasar saat ini netral dengan kecenderungan ke bearish.

Pasalnya, kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global khususnya AS dan peningkatan pasokan dari OPEC+ masih menjadi pendorong utama.

Baca Juga  Harga Minyak Dunia Menguat Setelah Militer Israel Mengaku Melancarkan Serangan Terhadap Pimpinan Hamas di Ibukota Qatar

“Aksi jual (profit-taking) juga menekan harga setelah kenaikan sebelumnya,” imbuhnya.

Akan tetapi, dalam jangka panjang, prospeknya cenderung bearish. Pasalnya, Wahyu mengatakan, sebagian besar proyeksi menunjukkan, harga minyak WTI akan menghadapi tekanan ke bawah, mengingat pertumbuhan pasokan global yang melampaui pertumbuhan permintaan.

“Kompetisi dan outlook energi terbarukan juga menjadi salah satu faktor yg bisa menekan harga,” kata Wahyu.

Namun, potensi adanya konflik geopolitik atau stimulus ekonomi yang tak terduga dapat mengubah arah pergerakan harga.

Sentimen bearish ini juga didukung oleh peningkatan produksi OPEC+. Diketahui, OPEC+ telah menyepakati peningkatan produksi sebesar 548.000 barel per hari yang dimulai pada Agustus 2025.

“Keputusan ini, yang lebih cepat dari jadwal semula, menciptakan kelebihan pasokan global dan menekan harga,” ujar Wahyu.

Dus, hingga akhir tahun Wahyu memproyeksikan harga minyak global akan ada di rentang US$ 57 – US$ 65 per barel.