Ringkasan Berita
- Mengutip Bloomberg rupiah spot melemah ke Rp 16.605 per dolar AS.
- Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp 16.601 per dolar Amerika Serikat (AS) atau melemah 0,45% dari …
- Sementara itu, mengacu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), rupiah ditutup di posisi…
Topikseru.com – Pada perdagangan Senin (22/9/2025) pukul 12.00 WIB rupiah spot melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (22/9) siang. Mengutip Bloomberg rupiah spot melemah ke Rp 16.605 per dolar AS.
Ini membuat rupiah spot melemah 0,02% dibanding penutupan Jumat (19/9/2025) di level Rp 16.601 per dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, penyebab utama melemahnya rupiah adalah pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang dinilai tidak mencerminkan sebagai menteri keuangan.
Pernyataan yang disampaikan Menkeu Purbaya cendrung berbau politis, memudahkan, dan menggampangkan hal – hal yang sudah dilakukan menteri keuangan sebelumnya yaitu Sri Mulyani.
“Seharusnya yang dilakukan Purbaya adalah bekerja, bukan memberikan statement – statement yang membingungkan pasar sehingga banyak yang mengatakan bahwa menteri keuangan kebanyakan memberikan bumbu – bumbu politik dibandingkan bumbu ekonomi,” ujar Ibrahim, Senin (22/9/2025).
Rupiah Spot Diramalkan Bergerak Fluktuatif
Ibrahim memproyeksikan, rupiah bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp 16.600 – Rp 16.660 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
pada perdagangan hari ini (22/9/2025) nilai tukar rupiah diproyeksi lanjut melemah di pasar spot. Asal tahu saja, rupiah ditutup melemah ke level paling buruk sejak Mei 2025 pada Jumat (19/9/2025).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp 16.601 per dolar Amerika Serikat (AS) atau melemah 0,45% dari penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, mengacu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), rupiah ditutup di posisi Rp 16.578 atau melemah 0,49% dari perdagangan sebelumnya.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, mata uang regional pada umumnya termasuk rupiah melemah terhadap dolar AS yang masih rebound setelah hasil FOMC.
“Rupiah sendiri tertekan oleh kebijakan pro growth pemerintah, dengan stimulus-stimulus yang umumnya cenderung akan menekan mata uang,” lanjutnya.
Adapun Lukman memperkirakan, rupiah masih akan condong tertekan pada perdagangan hari ini. “Namun, BI diperkirakan akan aktif mengintervensi,” imbuhnya.
Meskipun dari domestik tak ada data ekonomi penting untuk sepekan, Lukman mencermati, mulai hari ini alias awal pekan, investor akan mengantisipasi data inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures) AS yang akan dirilis hari Jumat.













