BursaEkonomi dan Bisnis

Rupiah Spot Ditutup Menguat Tipis 0,02% Berada di Level Rp16.685 Per Dolar AS Sore Ini

×

Rupiah Spot Ditutup Menguat Tipis 0,02% Berada di Level Rp16.685 Per Dolar AS Sore Ini

Sebarkan artikel ini
Rupiah
rupiah spot ditutup menguat tipis 0,02% berada di level Rp16.685 per dolar Amerika Serikat (AS), dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.688 per dolar AS

Topikseru.com – Pada akhir perdagangan Rabu (24/9/2025) rupiah spot ditutup menguat tipis 0,02% berada di level Rp16.685 per dolar Amerika Serikat (AS), dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.688 per dolar AS.

Di Asia, rupiah menjadi satu-satunya mata uang yang menguat terhadap dolar AS sore ini dengan kenaikan 0,02%.

Sedangkan mata uang Asia lainnya melemah terhadap dolar AS. Pesso Filipina mencatat pelemahan terdalam 0,32%, yen Jepang melemah 0,29%, baht Thailand melemah 0,26%, won Korea melemah 0,20%.

Dolar Singapura melemah 0,19%, dolar Tawan melemah 0,15%, ringgit Malaysia melemah 0,12%, yuan China melemah 0,09%, rupee India melemah 0,008% dan dolar Hong Kong melemah 0,008% terhadap dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 97,46, naik dari sehari sebelumnya yang ada di 97,26.

Rupiah Spot Menguat 0,13% di perdagangan Rabu (24/9/2025) Siang Ini

Pada perdagangan Rabu (24/9/2025) rupiah spot menguat 0,13% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ke level Rp 16.665 per dolar AS di pasar spot.

Pengamat Mata Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, langkah IMF yang merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 4,7% menjadi 4,8% sebenarnya belum bisa menjadi katalis positif bagi rupiah.

Dia melihat kondisi saat ini memang tidak bisa membuat mata uang rupiah mengalami penguatan.

Indikasi tentang ekonomi di Indonesia terutama pasca pergantian menteri keuangan dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi membuat adanya penyesuaian dari pelaku pasar.

Menurut Ibrahim, pelaku pasar sebelumnya antusias terhadap kebijakan – kebijakan Sri Mulyani, saat ini sedang mengalami penurunan antusias terhadap kebijakan Purbaya Yudhi Sadewa.

“Kita melihat kebijakan – kebijakan Purbaya juga masih belum diterima oleh pasar,” ujar Ibrahim, Selasa (23/9/2025).

Selain itu, Ibrahim mengatakan, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed juga belum bisa menjadi sentimen positif mata uang rupiah. Ditambah masih adanya sentimen geopolitik perang Rusia Ukraina dan geopolitik di Timur Tengah.

Ibrahim memproyeksikan, rupiah bergerak di rentang Rp 16.720 – Rp 16.870 per dolar AS pada hari ini.

Rupiah Spot Berhasil Rebound Menguat Tipis di Level Rp16.679 Per Dolar AS Pagi Ini

Awal perdagangan Rabu (24/9/2025) rupiah spot berhasil rebound dan menguat tipis di level Rp16.679 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot.

Baca Juga  Rupiah Spot Masih Bergerak Tipis Terdampar di Level Rp16.586 per Dolar AS Siang Ini

Ini membuat rupiah menguat tipis 0,05% dibanding penutupan pada hari sebelumnya ke level Rp 16.688 per dolar AS. Namun, rupiah kembali melemah ke Rp 16.698 per dolar AS.

Hingga pukul 09.00 WIB, peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,29%. Disusul, baht Thailand yang turun 0,22%.

Selanjutnya, dolar Singapura yang terkoreksi 0,09% dan yen Jepang tertekan 0,08%. Lalu, ringgit Malaysia yang tergelincir 0,03%.

Berikutnya ada dolar Taiwan dan yuan China yang sama-sama turun 0,02%. Disusul, won Korea Selatan yang melemah tipis 0,009%.

Sementara itu, dolar Hongkong menguat tipis 0,02% terhadap the greenback di pagi ini.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas: Rupiah Masih akan Melemah di Kisaran Rp16.670–Rp16.720 Per Dolar AS

Pada perdagangan Selasa (23/9/2025) rupiah spot ditutup melemah. Pelemahan rupiah diprediksi masih akan berlanjut pada Rabu (24/9/2025).

Melansir Bloomberg, pada Selasa (23/9/2025), rupiah spot ditutup melemah 0,46% ke level Rp 16.688 per dolar AS.

Adapun berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah ditutup di posisi Rp 16.636 per dolar AS. Sehingga, rupiah melemah 0,17% dari penutupan perdagangan sebelumnya.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mencermati, nilai tukar rupiah sebenarnya dapat ditopang oleh International Monetary Fund (IMF) yang memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa naik dari 4,7% menjadi 4,8%.

Namun, ia melihat kondisi saat ini membuat mata uang rupiah gagal mengalami penguatan.

Pasalnya, menurut Ibrahim, dari domestik, rupiah masih melemah pasca pergantian Menteri Keuangan.

“Kebijakan-kebijakan saat ini, apa yang dilakukan Purbaya, pun juga masih belum diterima oleh pasar,” terangnya.

Sedangkan dari global, Ibrahim melihat bahwa gejolak geopolitik yang terus memanas memengaruhi pergerakan mata uang.

Sebab, diketahui, Rusia masih melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah Ukraina. Adapun dari Timur Tengah, Israel masih terus menyerang wilayah Gaza, Palestina.

“Hal ini pun mendapat kecaman dari negara-negara Arab, baik Mesir, Qatar, maupun Arab Saudi,” imbuh Ibrahim.

Adapun untuk perdagangan Rabu (24/9/2025), Ibrahim mencermati rupiah masih akan dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap Federal Reserve (The Fed) yang kemungkinan besar akan menurunkan suku bunga acuan di pertemuan bulan Oktober.

Dus, untuk perdagangan Selasa (23/9/2025), Ibrahim memprediksi rupiah masih akan melemah di kisaran Rp 16.670–Rp 16.720 per dolar AS.