Olahraga

5 Penyebab Timnas Indonesia Kalah Melawan Arab Saudi di Kualifikasi Piala Dunia

×

5 Penyebab Timnas Indonesia Kalah Melawan Arab Saudi di Kualifikasi Piala Dunia

Sebarkan artikel ini
Patrick Kluivert
Timnas Indonesia menghadapi laga hidup mati saat bersua Irak. Foto : Instagram.com/timnasindonesia

Ringkasan Berita

  • Meski dua gol Kevin Diks sempat memberi asa, tim asuhan Patrick Kluivert tetap gagal mengamankan poin penting.
  • Lebih dari sekadar hasil, pertandingan ini menunjukkan sejumlah persoalan mendasar dari pemilihan starting eleven, te…
  • Berikut 5 penyebab utama mengapa Timnas Indonesia harus mengakui keunggulan Arab Saudi malam itu.

Topikseru.com – Laga panas antara Timnas Indonesia melawan Arab Saudi dalam lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia berakhir dengan kekalahan tipis 2–3 untuk Skuad Garuda. Meski dua gol Kevin Diks sempat memberi asa, tim asuhan Patrick Kluivert tetap gagal mengamankan poin penting.

Lebih dari sekadar hasil, pertandingan ini menunjukkan sejumlah persoalan mendasar dari pemilihan starting eleven, tempo permainan, hingga pergantian pemain yang tidak efektif.

Berikut 5 penyebab utama mengapa Timnas Indonesia harus mengakui keunggulan Arab Saudi malam itu.

1. Starting Eleven Penuh Risiko

Keputusan Patrick Kluivert menurunkan komposisi awal yang terbilang eksperimental menjadi sorotan tajam. Nama-nama seperti Beckham Putra, Marc Klok, dan Yakob Sayuri tampil sejak menit pertama, menggantikan beberapa pemain inti yang selama ini menjadi tulang punggung tim.

Di atas kertas, keputusan ini mungkin dimaksudkan untuk memberi warna baru dan memperluas rotasi skuad. Namun dalam pertandingan dengan tensi setinggi melawan Arab Saudi lawan yang agresif dan berpengalaman di ajang Asia, langkah itu justru terlihat berisiko tinggi dan tidak tepat momentum.

Beckham Putra terlihat kesulitan menjaga intensitas permainan. Ia beberapa kali kehilangan bola dalam situasi krusial dan gagal menutup ruang di lini tengah. Posisi defensifnya yang sering terlambat membuat lini belakang dan tengah Indonesia terekspos sejak awal babak pertama.

Marc Klok juga tidak mampu menjalankan peran sentral sebagaimana yang biasa dimainkan Thom Haye. Aliran bola ke depan menjadi kaku, sementara transisi dari bertahan ke menyerang kehilangan arah. Umpan-umpan progresif yang menjadi ciri khas Thom Haye tak lagi terlihat, membuat serangan Indonesia terasa berat, dan mudah dipatahkan.

Sementara di sisi kanan, Yakob Sayuri menghadapi ujian berat menghadapi kecepatan pemain sayap Arab Saudi. Ia beberapa kali kalah duel fisik, gagal membaca arah pergerakan lawan, dan tidak mampu menahan penetrasi yang datang bertubi-tubi dari sisi kanan pertahanan. Eksperimen ini akhirnya menjadi titik lemah yang dieksploitasi dengan cerdas oleh lawan.

Kluivert tampaknya ingin menanamkan pendekatan ball possession dengan pemain-pemain yang punya teknik baik, tetapi dalam konteks laga kompetitif, strategi ini justru membuat lini tengah rapuh dan hilang kepercayaan diri. Keputusan menurunkan pemain-pemain yang minim jam terbang di laga krusial terbukti menjadi awal ketidakteraturan dan montonnya taktik Indonesia malam itu.

2. Pemain dari Liga Super Gagal Mengimbangi Tempo Tinggi Laga

Perbedaan tempo permainan menjadi salah satu masalah paling mencolok. Pemain-pemain dari Liga Super tampak tidak mampu menyesuaikan diri dengan intensitas dan kecepatan permainan internasional.

Beckham Putra beberapa kali gagal melakukan pressing, penetrasi dengan bola, dan keeping ball yang mudah dicuri lawan. Ia terlambat menutup ruang, dan dalam beberapa momen, bahkan terlihat bingung menentukan arah pressing. Kondisi ini membuat pemain Arab Saudi lebih leluasa mengatur tempo dan mendikte ritme permainan.

Yakob Sayuri yang diharapkan memberi energi dan kecepatan di sisi sayap justru kewalahan. Ia kalah dalam duel kecepatan, mudah kehilangan posisi, dan gagal memberikan kontribusi berarti dalam fase menyerang. Ketika ditugaskan membantu pertahanan, ia pun sering tertinggal dan mudah dilewati lawan.

Marc Klok, meski berpengalaman, juga terlihat kehilangan sentuhan terbaiknya. Ia tidak bisa menjadi jembatan antara lini belakang dan lini depan. Distribusi bolanya lambat dan sering mudah dibaca. Dalam laga yang menuntut efisiensi tinggi, permainan seperti ini menjadi liability bagi tim.

Performa para pemain tersebut memperlihatkan jurang kualitas antara kompetisi domestik dan level internasional. Ketika menghadapi tim-tim Timur Tengah yang terbiasa dengan tempo cepat dan duel fisik keras, pemain Liga Super tampak belum terbiasa dengan tekanan sebesar itu.

3. Aliran Bola Mandek, Jauh dari Ciri Era Shin Tae-yong

Salah satu perbedaan paling mencolok antara era Shin Tae-yong (STY) dan era Patrick Kluivert adalah bagaimana tim membangun serangan.

Di era STY, Indonesia dikenal dengan disiplin bertahan, transisi cepat, dan serangan balik efektif. Gaya bermain itu memanfaatkan kecepatan pemain sayap dan kecermatan posisi saat counter attack. Tim mampu menciptakan peluang berbahaya dari situasi bertahan, dengan garis pertahanan yang rapat dan koordinasi solid.

Namun di bawah Kluivert, filosofi permainan berubah drastis. Tim mencoba memainkan bola dari kaki ke kaki di area pertahanan, membangun serangan dari bawah, lalu mengandalkan umpan panjang (long ball) ke depan. Sayangnya, pola ini justru mudah terbaca oleh lawan. Arab Saudi dengan cepat menutup jalur umpan dan menekan sejak bola pertama.

Hasilnya, Indonesia kesulitan mengalirkan bola ke lini depan. Kombinasi di lini tengah tidak berjalan, dan pemain depan seperti Ragnar Oratmangoen atau Miliano Jonathans jarang mendapat suplai bola matang. Dalam banyak momen, bola kembali ke lini belakang tanpa progres berarti.

Baca Juga  Timnas Indonesia Gagal ke Piala Dunia 2026: Tagar #KluivertOut Menggema, Nama Shin Tae-yong Kembali Dirindukan

Situasi ini membuat Indonesia kehilangan efektivitasnya. Serangan balik cepat yang dulu menjadi senjata mematikan kini hilang sama sekali. Arab Saudi dengan mudah mendikte tempo dan menguasai ruang, sementara Indonesia hanya sesekali mengandalkan bola mati dan momen individual.

Jika di bawah STY Indonesia dikenal dengan permainan reaktif tapi efisien, maka di bawah Kluivert tim justru menjadi proaktif tapi tanpa arah yang jelas.

4. Lini Belakang Kalah Cepat dan Mudah Dieksploitasi

Masalah lain yang tampak jelas adalah ketidaksiapan lini belakang menghadapi kecepatan Arab Saudi. Serangan-serangan cepat lawan sering kali membuat barisan pertahanan Indonesia panik.

Dalam beberapa situasi, Jay Idzes dan Kevin diks terlalu lambat menutup ruang di belakang. Arab Saudi memanfaatkan celah di antara bek sayap dan fullback  terutama di sisi kanan yang dijaga Yakob Sayuri untuk menusuk lewat sayap dan mencoba umpan silang datar.

Gol pertama dan ketiga Arab Saudi lahir dari situasi transisi cepat di mana para bek tidak mampu menyesuaikan posisi. Kelelahan, miskomunikasi, dan terlambatnya menutup ruang menjadi faktor yang membuat mereka terlambat bereaksi.

Menariknya, pola ini sudah terlihat sejak beberapa laga terakhir di bawah Kluivert. Timnas Indonesia kerap kebobolan dari skema serangan cepat dan situasi bola kedua. Hal ini menunjukkan bahwa struktur pertahanan belum kompak dan stabil

Berbeda dengan era Shin Tae-yong, di mana organisasi pertahanan menjadi prioritas utama dengan compact line dan disiplin jarak antar pemain, kini pertahanan Indonesia terlihat longgar dan sering kehilangan bentuk.

Arab Saudi dengan cermat membaca kelemahan ini. Mereka menyerang cepat, memanfaatkan kelonggaran ruang pertahanan, penetrasi melalui sayap dan beberapa kali mencoba melepaskan umpan silang ke area kosong. Koordinasi antarbek yang belum solid membuat gawang Indonesia mudah terancam.

Kelemahan ini menjadi alarm serius. Dalam laga internasional, pertahanan bukan hanya soal kemampuan individu, tapi juga sinkronisasi dan kecepatan membaca permainan, dua hal yang tampaknya belum maksimal dalam sistem Kluivert.

5. Pergantian Pemain yang Terlambat dan Kurang Efektif

Kritik paling keras datang pada aspek ini. Pergantian pemain Indonesia dinilai terlalu lambat, reaktif, dan tidak memberikan dampak signifikan.

Patrick Kluivert baru melakukan perubahan berarti setelah jeda babak pertama dengan memasukkan Eliano Reijnders menggantikan Beckham Putra. Keputusan ini memang memperbaiki ritme sedikit, namun momentum sudah terlanjur dimiliki Arab Saudi.

Di babak kedua, dua pergantian berikutnya Thom Haye dan Ole Romeny juga datang ketika pertandingan sudah berat sebelah. Thom Haye masuk untuk memperbaiki sirkulasi bola, sementara Romeny diharapkan menambah daya gedor. Masuknya mereka di fase akhir memberikan dampak, tetapi terkesan terlambat.

Pergantian yang dilakukan tidak sepenuhnya menjawab masalah utama di lapangan. Ketika Indonesia kesulitan membangun serangan dari tengah, seharusnya perubahan dilakukan lebih cepat dan strategis, misalnya menambah pemain kreatif lebih awal, mengganti pemain yang tidak bisa mengimbangi tempo jalannya pertandingan, atau mengubah formasi menjadi dua striker untuk memberi tekanan.

Selain itu, pergantian yang dilakukan tampak tidak sejalan dengan rencana taktis keseluruhan. Formasi dan karakter permainan tidak berubah signifikan setelah pergantian dilakukan. Tim tetap bermain dengan cara yang sama, padahal sudah tertinggal dua gol.

Ketidakseimbangan antara strategi dan substitusi ini menjadi catatan besar. Di level internasional, pelatih dituntut mampu membaca perubahan tempo permainan dan merespons cepat. Kluivert tampak ragu-ragu dalam mengambil keputusan, dan itu terlihat dari lambatnya respons di momen krusial.

Terakhir, kedalaman skuad juga menjadi isu tersendiri. Ketika pemain inti kelelahan, pilihan di bangku cadangan tidak memberikan solusi berarti. Artinya, perencanaan komposisi tim belum cukup matang untuk menghadapi laga berintensitas tinggi seperti ini.

Kekalahan yang Penuh Pelajaran

Kekalahan 2–3 dari Arab Saudi memang menyakitkan, tetapi juga membuka mata bahwa Timnas Indonesia masih dalam masa transisi identitas permainan. Patrick Kluivert mencoba membawa pendekatan baru, namun tampaknya belum cocok dengan karakter dan kultur pemain.

Kegagalan mengantisipasi kecepatan lawan, pemilihan pemain yang tidak ideal, serta pergantian yang terlambat membuat performa Indonesia tidak maksimal.

Namun di balik itu, ada hal positif mental para pemain tetap kuat hingga akhir, terbukti dengan gol kedua yang dicetak di menit akhir lewat penalti Kevin Diks. Ini menunjukkan semangat juang yang tidak pernah padam.

Ke depan, jika Indonesia ingin kembali kompetitif di level Asia, Kluivert harus segera mengevaluasi pendekatan taktisnya. Kombinasi antara efisiensi ala Shin Tae-yong dan struktur modern ala Kluivert bisa menjadi jalan tengah yang ideal.

Pertandingan ini menjadi pelajaran penting, di level tertinggi sepak bola, kesalahan kecil dalam pemilihan pemain, formasi, atau pergantian dapat menentukan segalanya.

Indonesia kalah 2–3 dari Arab Saudi pada laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, Selasa (8/10/2025). Pertandingan ini menunjukkan kelemahan pada pemilihan pemain dan strategi permainan yang kurang efektif di bawah arahan Patrick Kluivert.