Ringkasan Berita
- Harga Bitcoin (BTC) hari ini melejit 3% lebih, setekah sempat anjlok parah di akhir pekan lalu.
- Dikutip dari CoinTelegraph, ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China tampak mulai mereda setelah kedua…
- Kenaikan itu terjadi seiring dengan ketegangan dagang AS–China mulai mencair, pasar berharap pulih.
Topikseru.com – Pada perdagangan Senin (13/10/2025) pasar kripto melonjak tajam dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin (BTC) hari ini melejit 3% lebih, setekah sempat anjlok parah di akhir pekan lalu.
Kenaikan itu terjadi seiring dengan ketegangan dagang AS–China mulai mencair, pasar berharap pulih.
Berdasarkan data dari Coinmarketcap, kapitalisasi pasar kripto global melonjak 5,55% menjadi US$ 3,9 triliun dalam 24 jam.
Kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin (BTC) hari ini terlihat melejit 3,72% dalam 24 jam terakhir. Saat ini, harga Bitcoin di level US$ 115.459 per koin atau setara Rp 1,91 miliar (Kurs Rp 16.618).
Harga Bitcoin (BTC) sempat menembus rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di level US$ 126.223 yang tercatat pada 7 Oktober 2025.
Penguatan juga terjadi pada Ethereum (ETH) sebesar 10,41% menjadi US$ 4.147, Binance (BNB) juga meningkat 12,39% menjadi US$ 1.284, Solana melesat 11,45% menjadi US$ 197, Dogecoin (DOGE) melambung 12,03% menjadi US$ 0,23, XRP terkerek 5,85% menjadi US$ 2,53.
Dikutip dari CoinTelegraph, ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China tampak mulai mereda setelah kedua negara menyampaikan sinyal kesiapan untuk melanjutkan negosiasi perdagangan.
Pernyataan dari kedua pihak pada Minggu (12/10/2025) memunculkan harapan baru di kalangan analis akan potensi rebound pasar global.
Kementerian Perdagangan China dalam pernyataan resminya menyebut siap untuk ‘memperkuat dialog’ dengan negara lain terkait isu perdagangan dan kebijakan ekspor mineral tanah jarang yang sempat memicu ketegangan dengan AS.
Juru bicara kementerian tersebut juga menambahkan bahwa China akan “mempertimbangkan secara aktif” ketentuan dalam kebijakan ekspor mineral tanah jarang untuk memfasilitasi perdagangan dan memperkuat rantai pasokan global, termasuk melalui “pengecualian izin ekspor.”
Pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump menulis di platform X. “Jangan khawatir tentang China, semuanya akan baik-baik saja! Presiden Xi yang sangat saya hormati hanya sedang mengalami masa sulit.
Ia tidak ingin depresiasi bagi negaranya, dan saya pun tidak. AS ingin membantu China, bukan menyakitinya!!!,” tulis Trump.
Reaksi Pasar dan Harapan Baru
Sebelumnya, pengumuman kebijakan ekspor mineral tanah jarang dari China pada Jumat (10/10/2025) memicu gejolak besar di pasar kripto, dengan nilai likuidasi 24 jam terbesar dalam sejarah industri tersebut, setelah Trump menanggapi dengan nada keras dan mengumumkan tarif tambahan 100% terhadap impor dari China.
Namun, perubahan nada Trump pada Minggu dinilai sebagai tanda potensi deeskalasi ketegangan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia tersebut.
Langkah ini diharapkan dapat mengakhiri bulan-bulan ketidakpastian perdagangan global yang sebelumnya mengguncang pasar keuangan.
Analis investasi dari The Kobeissi Letter menulis pada Minggu, jika Presiden Trump benar-benar menurunkan tensi pada Minggu ini, pasar berpotensi melonjak pada Senin. Reaksi pasar terhadap setiap unggahan Trump masih sangat tinggi.
Pada Jumat sebelumnya, Trump sempat mengatakan tidak ada alasan untuk bertemu Presiden China Xi Jinping di sela KTT APEC yang akan digelar di Seoul, Korea Selatan, pada 31 Oktober 2025. Pernyataan itu disampaikan setelah China mengumumkan kebijakan kontrol ekspor tanah jarang.
Meski begitu, Jeff Park, penasihat investasi di Bitwise, menilai pertemuan antara kedua pemimpin besar itu tetap ‘pasti akan terjadi’.
“Ini tidak ada kaitannya dengan tarif. Trump akan hadir karena ia menyukai hal-hal bersejarah, momen foto, dan upacara megah untuk mengabadikan namanya dalam sejarah,” ujar Park.
Dengan meredanya nada konfrontatif dari kedua pihak, pelaku pasar kini menaruh harapan bahwa dialog dagang AS–China akan kembali terbuka, memberi peluang bagi stabilisasi ekonomi global yang sempat terguncang akibat perang dagang berkepanjangan.













