Topikseru.com – Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berhasil mengembangkan perangkat deteksi dini kanker kulit berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Scanoma. Inovasi ini lahir dari keprihatinan meningkatnya kasus kanker kulit yang kerap baru terdiagnosis pada tahap lanjut.
Ketua tim pengembang, Salsa Faatin Al-Dhinar, mengungkapkan bahwa teknologi tersebut diciptakan untuk membantu pemeriksaan lebih dini di masyarakat.
“Kami ingin membuktikan bahwa teknologi bisa membantu masyarakat mengambil tindakan lebih cepat,” ujarnya, Sabtu (8/11).
Pengembangan Scanoma merupakan hasil kolaborasi lintas disiplin antara mahasiswa Fakultas Farmasi dan Teknik Elektro melalui program PKM Pendanaan Nasional 2025. Proses perancangannya berlangsung sejak 7 Juli hingga 3 November 2025.
Analisis Citra Real-Time Menggunakan CNN
Scanoma memanfaatkan metode Convolutional Neural Network (CNN) untuk menganalisis lesi kulit secara real time. Dalam pengujian, alat ini mampu mencapai tingkat akurasi 75,22%, angka yang dinilai cukup tinggi untuk pengembangan tahap awal.
Meski begitu, tim mengaku menghadapi sejumlah kendala teknis di awal perancangan, mulai dari keterlambatan kamera dermatoskop digital, kabel tidak kompatibel, dan kesalahan sistem perangkat lunak. Semua hambatan tersebut akhirnya teratasi melalui berbagai penyesuaian.
Portabel dan Hemat Daya
Sistem Scanoma dibangun menggunakan Raspberry Pi, sehingga mudah dibawa dan dioperasikan di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas.
Selain itu, perangkat ini dirancang hemat daya serta cocok digunakan oleh tenaga medis di daerah terpencil.
Dalam pengembangannya:
- Mahasiswa Farmasi menangani karakterisasi lesi dan parameter klinis.
- Mahasiswa Teknik Elektro menangani integrasi hardware serta pemrosesan citra digital.
Kolaborasi ini dinilai menjadi contoh konkret sinergi teknologi dan kesehatan dalam menjawab tantangan medis modern.
Harapan Meningkatkan Kesadaran Pemeriksaan Kulit
Salsa berharap Scanoma mampu membantu tenaga medis meningkatkan deteksi dini kanker kulit, sekaligus mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan rutin.
“Kalau alat ini bisa membantu satu orang saja mengenali gejala kanker lebih cepat, perjuangan kami sudah tidak sia-sia,” ujarnya.






