Hukum & Kriminal

Gara-gara Jalani Hukuman 20 Tahun Penjara, Seorang Napi di Lapas Bandar Lampung Gantung Diri di Kamar Mandi

×

Gara-gara Jalani Hukuman 20 Tahun Penjara, Seorang Napi di Lapas Bandar Lampung Gantung Diri di Kamar Mandi

Sebarkan artikel ini
Narapidana
seorang narapidana Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Bandar Lampung ditemukan meninggal dunia di kamar mandi umum pada Minggu (9/11/2025) siang.

Topikseru.com – Kabar duka datang dari seorang narapidana Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Bandar Lampung ditemukan meninggal dunia di kamar mandi umum pada Minggu (9/11/2025) siang.

Narapidana berinisial MI, warga Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Timur, diduga mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Lampung, Jalu Yuswa, membenarkan peristiwa tersebut.

Ia menjelaskan bahwa MI merupakan warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang sedang menjalani hukuman 20 tahun penjara atas kasus pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Anak.

Ditemukan Setelah Apel Siang Insiden ini diketahui ketika petugas lapas melakukan apel siang dan tidak menemukan MI di dalam kamar hunian.

Rekan sekamarnya kemudian memberi tahu bahwa MI terakhir kali terlihat berjalan menuju kamar mandi umum.

“Petugas segera memeriksa area kamar mandi dan mendapati salah satu pintu terkunci dari dalam. Setelah didobrak, ternyata MI sudah dalam keadaan tergantung,” ungkap Jalu saat dikonfirmasi, Senin (10/11/2025).

Petugas yang menemukan korban langsung melaporkan kejadian tersebut ke pimpinan lapas untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan.

Berdasarkan hasil identifikasi awal, korban dinyatakan telah meninggal dunia di tempat.

Jenazah Sudah Diserahkan ke Keluarga Pihak lapas memastikan jenazah MI telah diserahkan kepada keluarga dan diterima dengan baik tanpa ada kendala.

Jalu menyampaikan turut berduka atas kejadian ini dan berharap seluruh jajaran pemasyarakatan dapat memperketat pengawasan agar hal serupa tidak terulang.

“Kami mengimbau seluruh petugas agar meningkatkan kontrol keliling serta memastikan seluruh Standar Operasional Prosedur (SOP) berjalan dengan maksimal,” tegasnya.

Adakah Kaitan Gangguan Jiwa dengan Keinginan Bunuh Diri?

Ada beragam faktor yang bisa memicu keinginan bunuh diri muncul, mulai dari masalah ekonomi, sosial, hingga riwayat gangguan mental.

Tak dapat dimungkiri, gangguan jiwa atau masalah kesehatan mental nyatanya berkaitan dan bisa meningkatkan keinginan seseorang untuk mengakhiri hidup.

Sebagian besar kasus bunuh diri seringnya terjadi karena gangguan jiwa seperti stres yang berujung depresi, gangguan bipolar, PTSD, skizofrenia, hingga gangguan kepribadian ambang batas alias borderline personality disorder.

Dari semua jenis masalah mental yang ada, depresi disebut sebagai penyebab tersering muncul keinginan bunuh diri.

Bahkan, orang dengan depresi berat cenderung nekat dan berakhir dengan melakukan aksi bunuh diri.

Sayangnya, masih belum diketahui pasti mengapa hal ini bisa saling berhubungan.

Selain gangguan jiwa, ada faktor lain yang juga bisa meningkatkan risiko seseorang rentan berpikir untuk bunuh diri. Biar lebih jelas, simak pembahasannya di bawah ini!

Baca Juga  Kasus Joki CASN di Kejati Lampung Berlanjut, JPU Hadirkan 3 Saksi

Faktor Pemicu Bunuh Diri dan Cara Mengenalinya

Kehadiran orang sekitar sangat penting untuk mencegah seseorang melakukan aksi bunuh diri.

-Pasalnya, kebanyakan orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidup merasa bahwa dirinya tidak memiliki dukungan, stres, tidak mampu menghadapi masalah dalam hidup, mengalami kejadian traumatis, atau bahkan mengalami kecanduan, misalnya pada minuman beralkohol.

-Selain itu, kemungkinan bunuh diri juga meningkat pada orang yang sebelumnya pernah atau memiliki keinginan mengakhiri hidup, gangguan kesehatan yang bersifat kronis, hingga anggota keluarga yang juga melakukan hal ini.

-Ada beragam tanda yang ditunjukkan saat seseorang mulai kehilangan semangat hidup dan mungkin melakukan bunuh diri, di antaranya:

-Membicarakan soal kematian. Hal ini bisa menjadi tanda awal bahwa seseorang mulai memikirkan bunuh diri. Waspadai jika orang di sekitar mulai sering membicarakan tentang kematian, seperti “aku seharusnya tidak melanjutkan hidup ini” atau “dalam waktu dekat aku akan mengakhiri hidupku sendiri”.

-Terlihat dan mengutarakan keputusasaan. Sebenarnya hal ini normal dilakukan saat merasa lelah atau tidak puas dengan hidup. Namun, waspada jika seseorang mulai menunjukkan rasa putus asa dan mempertanyakan untuk apa menjalani hidup lagi.

-Mood swing alias perubahan suasana hati ekstrim. Hal ini juga bisa meningkatkan risiko seseorang berpikir untuk bunuh diri.

-Menyakiti diri sendiri, baik yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar.
Membeli dan menyimpan senjata atau alat yang mencurigakan, seperti tali atau obat-obatan yang bisa disalahgunakan.

-Menarik diri dari lingkungan sekitar dan selalu merasa sendirian. Semakin lama, hal ini bisa menyebabkan depresi semakin parah dan keinginan bunuh diri menjadi lebih kuat.

-Perubahan rutinitas, termasuk pada pola makan dan pola tidur. Orang yang mulai memikirkan untuk bunuh diri biasanya menunjukkan gaya hidup yang semakin tidak beraturan, bahkan terkesan sembrono.

-Hilang minat pada banyak hal, termasuk pada hal-hal yang sebelumnya disukai.

Jika ada orang sekitar yang mengalami tanda seperti itu, jangan diabaikan. Nyatanya, perhatian kecil bisa membantu menghilangkan keinginan bunuh diri dan membuat seseorang yakin untuk kembali menjalani hidup.

Kamu bisa menanyakan apa masalah yang tengah dihadapi, minta orang tersebut untuk bercerita, tetapi pastikan untuk tidak menghakimi dan memberi harapan berlebihan pada orang yang tengah mengalami depresi.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Suicide and suicidal thoughts.
NCBI. Diakses pada 2020. Suicide Risk and Mental Disorders.
Suicide Awareness Voices of Education. Diakses pada 2020. Mental Illness and Suicide.