Peristiwa

Tangis Pecah di Majenang: Hujan Deras Picu Longsor Besar, 21 Orang Belum Ditemukan

×

Tangis Pecah di Majenang: Hujan Deras Picu Longsor Besar, 21 Orang Belum Ditemukan

Sebarkan artikel ini
Petugas Tim SAR gabungan melakukan pencarian warga hilang di lokasi longsor Majenang dengan medan curam dan material tanah tebal.
Tim SAR gabungan terus melakukan pencarian terhadap warga yang masih hilang akibat longsor di Majenang. Operasi dilakukan di tengah medan ekstrem dan risiko longsor susulan. (Foto: Basarnas Cilacap)

Topikseru.comTanah longsor dahsyat yang melanda Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada Kamis malam (13/11/2025) sekitar pukul 20.00 WIB, masih menyisakan duka mendalam bagi masyarakat.

Hingga kini, 21 warga masih dinyatakan hilang, sementara tim SAR gabungan terus berupaya melakukan pencarian di tengah medan berat dan kondisi cuaca yang tidak menentu.

Hujan Deras Picu Longsor Besar yang Menimbun Tiga Dusun

Bencana ini dipicu oleh hujan deras berkepanjangan yang mengguyur wilayah Majenang selama beberapa jam. Curah hujan tinggi membuat tanah menjadi jenuh dan labil, sehingga memicu longsor besar yang menimpa permukiman warga di tiga dusun, yaitu, Dusun Cibeunying, Dusun Cibaduyut dan Dusun Tarakan

Material longsor berupa tanah gembur, bebatuan besar, dan batang pohon menimbun puluhan rumah yang berada di lereng bukit dan bantaran perbukitan.

Seorang warga mengaku tidak sempat menyelamatkan apapun saat bencana terjadi.

“Kami tidak sempat menyelamatkan apa pun. Hanya terdengar suara gemuruh besar, lalu semuanya gelap tertimbun tanah,” ucapnya dengan suara bergetar.

Respons Cepat BPBD dan BNPB: Evakuasi Berlangsung Sepanjang Malam

Tak lama setelah menerima laporan, BPBD Kabupaten Cilacap segera menuju lokasi kejadian. BNPB kemudian mengirimkan tim reaksi cepat beserta logistik darurat untuk mendukung operasi penyelamatan.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa upaya pencarian dilakukan sejak menit pertama kejadian.

“BPBD bersama tim SAR gabungan langsung turun ke lapangan untuk melakukan evakuasi. Kami bekerja maksimal dalam masa golden time untuk menemukan para korban,” ujarnya.

Data sementara hingga Jumat dini hari (14/11/2025) pukul 03.00 WIB:

Korban

  • 23 warga selamat

  • 3 warga luka ringan

  • 2 warga meninggal dunia

  • 21 warga masih hilang

Kerusakan Material

  • 12 rumah rusak berat

  • 16 rumah terancam longsor susulan

BNPB juga mengingatkan bahwa kondisi tanah masih labil sehingga pencarian harus dilakukan dengan kewaspadaan tinggi.

Cuaca Buruk Perburuk Situasi: Peringatan Longsor Susulan Dikeluarkan

Berdasarkan prakiraan cuaca, hujan ringan hingga sedang masih berpotensi mengguyur wilayah Majenang hingga Minggu (16/11/2025). Kondisi ini meningkatkan risiko longsor susulan dan menghambat mobilitas petugas.

“Kami harap masyarakat tetap waspada dan mematuhi instruksi petugas. Prioritas utama saat ini adalah keselamatan,” tegas Muhari.

Operasi SAR Hari Kedua: Area Pencarian Dibagi Menjadi Lima Worksite

Pada hari kedua pencarian, Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Cilacap, Priyo Prayudha Utama, menjelaskan strategi percepatan pencarian dengan membagi area terdampak menjadi lima titik kerja (worksite) berdasarkan dugaan lokasi tertimbunnya korban.

Baca Juga  Detik-Detik Longsor Cibeunying: Tanah Meluncur dari Bukit, Belasan Rumah Lenyap Seketika

Rincian Titik Pencarian

  • Worksite A-1 : 3 orang dalam pencarian

  • Worksite A-2 : 7 orang dalam pencarian

  • Worksite A-3 : 4 orang dalam pencarian

  • Worksite B-1 : 4 orang dalam pencarian

  • Worksite B-2 : 3 orang dalam pencarian

Priyo juga memaparkan data korban per dusun:

Dusun Tarakan

  • 15 korban selamat

  • 2 meninggal dunia

  • 7 hilang

  • 8 rumah tertimbun

Dusun Cibaduyut

  • 8 korban selamat

  • 14 hilang

  • 8 rumah tertimbun

“Kami menggunakan alat berat di area yang memungkinkan. Namun pada lokasi yang sulit dijangkau, kami mengandalkan alat manual dan peralatan ekstrikasi,” jelas Priyo.

“Medan sangat berat, banyak material tanah yang masih bergerak. Tapi kami tetap berusaha maksimal,” ucapnya menambahkan

Medan Ekstrem: Tantangan Terbesar Tim SAR

Lokasi longsor memiliki karakteristik yang menyulitkan, seperti:

  • Lereng curam

  • Material tanah setebal beberapa meter

  • Batu besar menghalangi akses

  • Lumpur yang licin dan dalam

  • Pohon-pohon tumbang memenuhi jalur

Dalam operasi pencarian, tim SAR diwajibkan menggunakan tali pengaman, helm, dan pelindung khusus untuk mencegah dampak longsor susulan.

Seorang anggota SAR menuturkan bahwa kondisi tanah masih bergerak.

“Setiap langkah harus dihitung. Namun kami tidak akan berhenti sampai semua korban ditemukan,” ucapnya.

Warga dan Relawan Bersatu Mendukung Operasi SAR

Meski dalam kondisi berduka, warga sekitar tetap memberikan dukungan moral dan logistik bagi petugas. Bantuan berupa makanan, minuman, dan tenaga sukarela sangat membantu tim SAR di lapangan.

Relawan dari berbagai organisasi kemanusiaan turut terlibat dalam:

  • Pendirian dapur umum

  • Pendataan keluarga korban

  • Pendistribusian logistik

  • Pencarian ringan di zona aman

Mitigasi Jangka Panjang: Relokasi dan Peringatan Dini

BNPB dan BPBD merencanakan pemetaan ulang kawasan rawan longsor di Majenang untuk meminimalkan risiko bencana di masa mendatang. Program mitigasi yang akan diterapkan antara lain:

  • Relokasi warga dari zona merah

  • Pemasangan sistem peringatan dini

  • Pembuatan talud dan drainase pencegah erosi

  • Penanaman vegetasi berakar kuat

  • Edukasi kesiapsiagaan bencana

Operasi pencarian korban longsor di Majenang masih terus berlangsung dan menjadi prioritas utama tim SAR. Dengan medan yang berat, cuaca buruk, serta risiko longsor susulan, kerja keras para petugas menjadi bukti nyata dedikasi kemanusiaan.

Semoga 21 warga yang masih hilang dapat segera ditemukan, dan proses pemulihan pascabencana berjalan cepat dan tepat.