Ringkasan Berita
- Banyak dari mereka terpaksa berjalan kaki puluhan kilometer untuk mencari jalur aman sekaligus mendapatkan bantuan.
- Salah satu warga yang berhasil keluar dari wilayah terdampak adalah Safrizal, warga Kota Sibolga.
- Ia mengaku terjebak selama empat hari tanpa makanan yang cukup sebelum akhirnya memutuskan berjalan kaki demi menyela…
Topikseru.com – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara, termasuk Kota Sibolga, membuat ribuan warga terisolasi selama berhari-hari tanpa pasokan makanan dan akses komunikasi. Banyak dari mereka terpaksa berjalan kaki puluhan kilometer untuk mencari jalur aman sekaligus mendapatkan bantuan.
Salah satu warga yang berhasil keluar dari wilayah terdampak adalah Safrizal, warga Kota Sibolga. Ia mengaku terjebak selama empat hari tanpa makanan yang cukup sebelum akhirnya memutuskan berjalan kaki demi menyelamatkan diri.
“Saya berjalan kaki satu hari satu malam. Saya ingin mencari keluarga yang belum ditemukan dan sekaligus mencari bantuan logistik, karena selama terisolir kami kekurangan makanan,” ujar Safrizal saat ditemui pada Selasa (2/12/2025).

Jaringan Komunikasi Putus Total
Safrizal menuturkan, selama berada di Sibolga pasca bencana, seluruh jaringan telekomunikasi terputus. Warga tidak bisa menghubungi keluarga maupun pihak luar untuk meminta pertolongan.
“Banjir dan longsor ada di mana-mana. Akses jalan, internet, dan jaringan seluler semuanya putus,” jelasnya.
Untuk keluar dari wilayah terdampak, Safrizal berjalan menyusuri jalur ekstrem melalui Kabupaten Tapanuli Tengah menuju Tapanuli Selatan.
Bahkan, dia harus melewati aliran sungai deras dengan jembatan darurat dari kayu dan bantuan tali untuk bertahan dari arus.
“Jalannya sangat berbahaya. Kami melintasi sungai yang deras dengan jembatan seadanya,” tambahnya.
Safrizal mengungkapkan bahwa setelah melewati dua kabupaten, dia masih melanjutkan perjalanan menuju Dumai untuk mencari keluarganya.
Irmayanti: Rumah Hancur, Keluarga Terpisah
Irmayanti, korban selamat lainnya. Dia berjalan kaki bersama beberapa warga lain untuk menyusul keluarganya yang kabarnya dirawat di Puskesmas Batang Toru.
Namun setibanya di lokasi, puskesmas tersebut sudah hancur tanpa sisa.
“Aku mau melihat adik ipar, katanya dirawat di Batang Toru. Tapi lihatlah, semua sudah habis,” ucap Irmayanti sambil menangis.
Dia berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan secara merata dan memperbaiki rumah-rumah yang hancur karena bagi sebagian besar warga, rumah itu satu-satunya tempat tinggal.
“Kami mohon perbaiki segera rumah kami. Hanya itu yang kami punya,” harapnya.
Korban Tewas Capai 283 Jiwa
Banjir bandang dan longsor yang menerjang sejumlah kabupaten/kota di Sumatera Utara telah menimbulkan kerusakan besar.
Banyak rumah warga rata dengan tanah, jembatan hanyut, dan jalan lintas provinsi tidak bisa dilalui baik kendaraan roda dua maupun roda empat.
Berdasarkan data BNPB per 2 Desember 2025, tercatat 283 orang meninggal dunia dan 173 warga masih hilang. Tim gabungan masih terus melakukan pencarian di titik-titik yang sulit terjangkau.













