Daerah

Nelayan di Langkat Menjerit Tak Bisa Melaut: Harga LPG Subsidi Tembus Rp 50 Ribu dan Pertalite Rp 15 Ribu Per Liter

×

Nelayan di Langkat Menjerit Tak Bisa Melaut: Harga LPG Subsidi Tembus Rp 50 Ribu dan Pertalite Rp 15 Ribu Per Liter

Sebarkan artikel ini
Nelayan Kuala Serapuh
Nelayan di Desa Kuala Langkat dan Desa Kuala Serapuh, Kabupaten Langkat tempuh 4-5 jam lewat Sungai Wampu untuk mendapatkan gas LPG 3 KG, Selasa (2/12/2025). Foto: Topikseru.com/Agus Sinaga

Topikseru.com – Dampak banjir bandang yang melanda Kabupaten Langkat terus dirasakan warga, terutama para nelayan di Desa Kuala Serapuh dan Desa Kuala Langkat, Kecamatan Tanjung Pura. Hingga kini, aktivitas melaut terhenti total akibat kelangkaan bahan bakar dan hancurnya akses jalan menuju pusat ekonomi di Tanjung Pura.

Terputusnya jalur darat membuat pasokan bahan bakar, gas LPG, hingga es batu untuk menyimpan hasil tangkapan nyaris tidak masuk ke desa.

Kondisi ini memaksa nelayan menghentikan aktivitas melaut dan berimbas langsung pada pendapatan harian mereka.

“Kondisi kami sangat berat sekarang. Es tidak ada, jalan terendam, kampung kami pun terendam,” ujar Mahyudin (47), nelayan Kuala Serapuh, saat ditemui Topikseru.com di Desa Kebun Kelapa, Selasa (2/12/2025).

Menurutnya, para nelayan memilih tidak melaut karena BBM langka dan harganya melambung tinggi.

“Gas, bahan bakar, semua tidak ada di Kuala Serapuh,” tuturnya.

Baca Juga  Dua Desa di Langkat Terisolasi Akibat Banjir Bandang, Warga Krisis Logistik dan Energi

Mahyudin menjelaskan harga kebutuhan energi meroket jauh dari harga normal:

  • Gas LPG 3 kg: Rp 40.000 – Rp 50.000
  • Pertalite: Rp 15.000 per liter
  • Solar: Rp 9.000 per liter

“Kalaupun ada, harganya sangat tinggi,” katanya.

Akses Logistik Hanya Melalui Sungai dan Laut

Saat ini jalur satu-satunya untuk mendapatkan bantuan atau kebutuhan pokok hanyalah lewat sungai dan laut. Perjalanan menuju titik logistik membutuhkan waktu 4 – 5 jam dari desa.

Kelangkaan gas LPG juga berdampak pada warga rumah tangga. Makda, warga dari Desa Kuala Langkat, mengaku terpaksa memasak menggunakan kayu bakar.

“Gas sudah habis, jadi kami masak pakai kayu,” ujar Makda.

Dia berharap air segera surut agar akses menuju Tanjung Pura kembali dibuka dan aktivitas ekonomi warga pulih.

“Kami ingin keadaan cepat normal supaya bisa kembali bekerja seperti biasa,” tutupnya.