BursaEkonomi dan Bisnis

Rupiah Berhasil Membalikkan Keadaan Ditutup di Level Rp16.648 Per Dolar AS

×

Rupiah Berhasil Membalikkan Keadaan Ditutup di Level Rp16.648 Per Dolar AS

Sebarkan artikel ini
Rupiah
rupiah menguat tipis 0,03% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 16.653 per dolar AS. Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia.

Ringkasan Berita

  • Ini membuat rupiah menguat tipis 0,03% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 16.653 per dolar AS.
  • Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia.
  • Hingga pukul 15.00 WIB, bahdt Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,47%.

Topikseru.com – Pada akhir perdagangan Jumat (5/12/2025) rupiah di pasar spot berhasil membalikkan keadaan ditutup di Rp 16.648 per dolar Amerika Serikat (AS).

Ini membuat rupiah menguat tipis 0,03% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 16.653 per dolar AS. Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia.

Hingga pukul 15.00 WIB, bahdt Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,47%. Disusul, yen Jepang yang terkerek 0,31%.

Selanjutnya ada dolar Taiwan yang sudah ditutup terangkat 0,22% dan won Korea Selatan yang menanjak 0,21%. Lalu ringgit Malaysia yang naik 0,15%.

Berikutnya, peso Filipina yang ditutup terapresiasi 0,14%. Diikuti dolar Singapura yang terangkat 0,08% serta yuan China menguat 0,04%.

Sementara itu, rupee India kembali melemah dan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah terkoreksi 0,06%.

Kemudian ada dolar Hongkong yang melemah tipis 0,02% terhadap the greenback pada hari ini.

Rupiah Dibuka Melemah 0,02% Bersandar di Level Rp16.656 Per Dolar AS

Pada perdagangan Jumat (5/12/2025) pagi rupiah spot melemah tipis berada di level Rp 16.656 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,02% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.653 per dolar AS.

Di Asia, mayoritas mata uang menguat terhadap dolar AS pagi ini. Won Korea mencatat penguatan terbesar yakni 0,19%.

Disusul baht Thailand yang menguat 0,05%, yen Jepang menguat 0,04%, dolar Singapura menguat 0,04%, dan yuan China menguat 0,03% terhadap dolar AS.

Sedangkan mata uang Asia lainnya melemah terhadap dolar AS pagi ini. Peso Filipina melemah 0,10%, dolar Taiwan melemah 0,10%.

Ringit Malaysia melemah 0,09%, rupiah melemah 0,02% dan dolar Hong Kong melemah 0,01% terhadap dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 99,00, naik dari sehari sebelumnya yang ada di 98,98.

Baca Juga  Rupiah Spot Dibuka Menguat 0,13% di Level Rp16.581 Per Dolar AS di Perdagangan Rabu (15/10/2025) Pagi Ini

Analis Pasar: Rupiah spot akan Bergerak Fluktuatif Cenderung Melemah

Pada penutupan perdagangan Kamis (4/12/2025) rupiah kembali tertekan di mana sejumlah analis menilai tekanan rupiah kemungkinan berlanjut pada perdagangan esok hari Jumat (5/12/2025), seiring sensitivitas pasar terhadap data PCE dan cadangan devisa (cadev).

Nilai tukar rupiah di pasar spot tertekan pada penutupan Kamis (4/12/2025), rupiah ditutup di level Rp 16.653 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,15% dibanding penutupan hari sebelumnya ke level Rp 16.628 per dolar AS.

Sejalan dengan itu, Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,08% dibanding hari kemarin yakni menjadi Rp 16.646 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memproyeksikan, pergerakan rupiah akan dipengaruhi data cadangan devisa (cadev) yang dikhawatirkan bisa berdampak atau tergerus intervensi Bank Indonesia (BI).

Menurut Lukman, apabila tidak ada kejutan pada data cadev atau tidak ada kenaikan signifikan, maka rupiah masih akan berkonsolidasi karena investor masih akan menghadapi data ekonomi penting AS, yaitu inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures) pada malamnya.

“Namun apabila cadev menurun, rupiah akan kembali tertekan,” jelas Lukman.

Kalau Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut, rupiah akan dipengaruhi indeks jasa Institute for Supply Management (ISM) yang ekspansi moderat pada bulan November.

Investor kini menunggu sinyal yang lebih pasti dari Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bulan September yang tertunda, tolok ukur inflasi pilihan The Fed, yang akan dirilis Jumat, untuk mengonfirmasi seberapa agresif kemungkinan penurunan suku bunga.

Yang menambah ketidakpastian adalah laporan media bahwa pemerintahan Trump tiba-tiba membatalkan wawancara dengan beberapa kandidat pengganti Jerome Powell.

Memperkuat spekulasi bahwa Kevin Hassett dapat muncul sebagai ketua The Fed berikutnya.

“Laporan tersebut telah memperkuat ekspektasi akan sikap The Fed yang lebih dovish di bawah kepemimpinan baru,” ujar Ibrahim.

Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah Jumat (5/12/2025) akan bergerak fluktuatif cenderung melemah di Rp 16.650 – Rp 16.690 per dolar AS.

Sementara Lukman memperkirakan rupiah di kisaran Rp 16.600 – Rp 16.700 per dolar AS.