HeadlineKomunitas

MLFC Tembus Desa Terisolir di Aceh Tamiang, Bertarung dengan Lumpur Demi Salurkan Bantuan

×

MLFC Tembus Desa Terisolir di Aceh Tamiang, Bertarung dengan Lumpur Demi Salurkan Bantuan

Sebarkan artikel ini
MLFC Aceh Tamiang
Relawan MLFC membagikan makanan siap saji kepada anak-anak di perkampungan terisolir di Aceh Tamiang. Foto: Dok MLFC

Ringkasan Berita

  • Sudah sembilan hari mereka menyusuri kawasan terisolir di Kecamatan Kejuruan Muda, menembus empat desa yang hingga ki…
  • Gumilar Aditya Nugroho, Presiden MLFC, bercerita bahwa timnya mulai bergerak sejak 2 Desember 2025, tak lama setelah …
  • Desa Hancur, Warga Bertahan dengan Sisa Tenaga Kondisi desa terisolir di Aceh Tamiang porak poranda diterjang banjir…

Topikseru.com – Di tengah medan berlumpur, jalan yang patah, dan desa-desa yang masih terputus sejak banjir besar menerjang Aceh Tamiang, sekelompok sukarelawan dari komunitas Medan Lawyer FC (MLFC) terus bergerak. Mereka bukan tim besar, bukan lembaga negara, hanya warga biasa yang memilih hadir saat banyak pintu tertutup.

Sudah sembilan hari mereka menyusuri kawasan terisolir di Kecamatan Kejuruan Muda, menembus empat desa yang hingga kini masih berjuang bangkit dari kehancuran: Desa Sidodadi, Desa Tanjung Mancang, Dusun Alor Gantung, dan Desa Sungai Liput.

Medan Berbahaya, Tapi Bantuan Harus Masuk

MLFC Aceh Tamiang
Tim relawan MLFC berjibaku membuka akses jalan menuju desa terisolir di Aceh Tamiang. Foto: Dok.MLFC

Material banjir masih berserakan. Pohon tumbang, jembatan rusak, dan kubangan lumpur yang dalam membuat akses menuju desa-desa itu hampir mustahil dilalui. Tapi para relawan MLFC tidak mundur.

Gumilar Aditya Nugroho, Presiden MLFC, bercerita bahwa timnya mulai bergerak sejak 2 Desember 2025, tak lama setelah menuntaskan operasi evakuasi di Kota Medan.

“Kami tahu akses ke Aceh Tamiang berat, tapi saudara-saudara kita di sana butuh bantuan. Kami tak mungkin menunggu,” ujar Gumilar, Minggu (7/12/2025).

Tim relawan terpaksa membuka jalan secara manual, mengangkat kayu, membersihkan runtuhan, dan menuntun kendaraan agar tidak terjebak.

Desa Hancur, Warga Bertahan dengan Sisa Tenaga

MLFC Aceh Tamiang
Kondisi desa terisolir di Aceh Tamiang porak poranda diterjang banjir

Saat tim akhirnya berhasil masuk, pemandangan yang mereka temui tak mudah dilupakan.

Baca Juga  Banjir Putuskan Komunikasi, Seorang Ayah Pengungsi Aceh Tamiang Akhirnya Bisa Video Call dengan Anaknya

Rumah-rumah terbelah, sekolah rusak, dan warga bertahan dengan air seadanya. Banyak yang belum menerima suplai logistik sejak hari pertama banjir.

Namun, di tengah gelapnya situasi, kedatangan relawan MLFC menjadi pengingat bahwa mereka tidak sendirian.

“Alhamdulillah, ini hari ke-9 MLFC menyalurkan bantuan. Bantuan ini titipan solidaritas dari warga Medan untuk saudara-saudara kita di Aceh Tamiang,” ucap Gumilar.

Awalnya, seluruh logistik berasal dari kantong pribadi anggota MLFC. Tetapi, ketika kabar perjuangan tim menyebar, bantuan dari masyarakat mulai berdatangan.

Menembus Malam, Membawa Harapan

Dengan mobil pickup dan kendaraan semi off-road, relawan MLFC menyusuri jalanan gelap. Tak jarang mereka harus berhenti untuk menyingkirkan lumpur atau melintasi jalur air.

Di setiap desa yang mereka masuki, mereka bukan cuma membagikan paket sembako. Mereka memberi pelukan, obrolan singkat, dan harapan.

Karena di banyak titik, bantuan bukan soal beras atau air, tapi soal memastikan warga tidak merasa ditinggalkan.

MLFC Aceh Tamiang
Tim relawan MLFC menyalurkan bantuan kepada korban banjir di desa terisolir di Aceh Tamiang.

Kebutuhan Mendesak: Obat-obatan dan Makanan Bayi Mulai Menipis

Memasuki hari ke-12 pasca banjir, MLFC mencatat masih banyak desa yang belum bisa terakses kendaraan besar.

Kondisi ini membuat distribusi bantuan sering terhambat dan warga terpaksa bertahan dengan apa yang tersisa.

Kebutuhan paling mendesak saat ini:

  • Sembako
  • Air bersih
  • Makanan bayi
  • Susu bayi
  • Obat-obatan
  • Kebutuhan khusus perempuan

“Obat-obatan sangat kritis. Banyak warga mulai sakit karena terpaksa minum air banjir untuk bertahan hidup,” kata Gumilar.