BursaEkonomi dan Bisnis

IHSG Menguat 65,81 Poin Dibuka di Level 8.763,34 di Awal Perdagangan Kamis (11/12/2025)

×

IHSG Menguat 65,81 Poin Dibuka di Level 8.763,34 di Awal Perdagangan Kamis (11/12/2025)

Sebarkan artikel ini
IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 65,81 poin atau 0,77% ke 8.763,34 di pasar spot. Ada sebanyak 315 saham naik, 118 saham turun dan 196 saham stagnan

Ringkasan Berita

  • Ada sebanyak 315 saham naik, 118 saham turun dan 196 saham stagnan.
  • PT Kalbe Darma Tbk (KLBF) (-1,10%) Analis Pasar: IHSG Diproyeksikan Bergerak Sideways dengan Bias Menguat Menunggu Na…
  • Sementara, ada sembilan indeks sektoral menguat, menopang kenaikan IHSG.

Topikseru.com – Pada awal perdagangan Kamis (11/12/2025) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 65,81 poin atau 0,77% ke 8.763,34 di pasar spot.

Ada sebanyak 315 saham naik, 118 saham turun dan 196 saham stagnan.

Sementara, ada sembilan indeks sektoral menguat, menopang kenaikan IHSG. Sedangkan dua indeks sektoral tergelincir ke zona merah.

Sedangkan, Indeks sektoral dengan kenaikan terbesar adalah sektor infrastruktur yang naik 3,73%, sektor energi naik 0,97% dan sektor barang baku yang naik 0,88%.

Kemudian, indeks sektoral yang melemah adalah sektor transportas yang turun 0,53% dan sektor teknologi yang turun 0,07%.

Total volume perdagangan saham di bursa pagi ini mencapai 2,43 miliar saham dengan total nilai Rp 1,44 triliun.

Top gainers LQ45 pagi ini adalah:

1. PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) (4,31%)
2. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) (3,07%)
3. PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) (2,14%)

Top losers LQ45 pagi ini adalah:

1. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) (-1,43%)
2. PT United Tractors Tbk (UNTR) (-1,33%)
3. PT Kalbe Darma Tbk (KLBF) (-1,10%)

Analis Pasar: IHSG Diproyeksikan Bergerak Sideways dengan Bias Menguat Menunggu Nada The Fed

pada perdagangan Rabu (10/12/2025) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 0,51% ke level 8.700,92 di pasar spot.

Kenaikan IHSG mencerminkan pemulihan pasar di tengah sikap wait and see investor menjelang keputusan suku bunga The Federal Reserve.

Meski indeks menguat, investor asing masih membukukan net sell sekitar Rp126 miliar, sehingga penguatan lebih banyak ditopang oleh aksi beli selektif pada sejumlah saham.

Baca Juga  IHSG Tercatat Menguat 91,19 Poin Dalam Sepekan

Dari eksternal, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin menjadi sentimen utama yang mendukung risk appetite pelaku pasar.

Sementara dari domestik, stabilnya nilai tukar rupiah di kisaran Rp16.680 per dolar AS serta penurunan tipis JISDOR memberikan tambahan kenyamanan bagi investor.

Penguatan IHSG juga ditopang oleh sektor energi, basic materials, dan infrastruktur yang mencatatkan kinerja positif sepanjang hari.

Secara teknikal, IHSG dinilai masih berada dalam fase konsolidasi menguat setelah reli sebelumnya. Indeks masih bertahan di atas area support penting 8.650-8.690, yang menjadi penentu keberlanjutan tren jangka pendek.

“Selama level ini bertahan, peluang penguatan lanjutan masih terbuka dengan resistance terdekat di 8.720-8.745,” ujar Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana.

Ia menambahkan, penembusan resistance dengan dukungan volume akan memperkuat peluang breakout, meski volatilitas diperkirakan tetap tinggi seiring pasar mencermati arah kebijakan moneter global.

Untuk perdagangan Kamis (11/12/2025), IHSG diproyeksikan bergerak sideways dengan bias menguat, seiring pelaku pasar menunggu nada pernyataan The Fed dan proyeksi ekonomi Amerika Serikat.

Rotasi sektor dan pergerakan saham berkapitalisasi besar diperkirakan masih menjadi penggerak indeks, dengan pola transaksi yang tetap selektif.

Dalam jangka pendek, Hendra menilai sektor energi, basic materials, dan infrastruktur masih menarik untuk diperhatikan.

Ia merekomendasikan BRPT untuk buy dengan target Rp 4.070 serta SCMA untuk trading buy dengan target Rp450.

Selain itu, BBYB dan BULL juga dinilai menarik untuk strategi trading jangka pendek, dengan target masing-masing Rp 494 dan Rp348.

Sementara itu, saham BUMI mencuri perhatian setelah mencatatkan lonjakan volume dan harga, dengan asing membukukan net buy sekitar Rp539 miliar di saham tersebut.

“Pasar saat ini bergerak sangat selektif, mengandalkan momentum serta katalis spesifik pada masing-masing saham,” pungkas Hendra.