International

Khamenei Tuding Trump Bertanggung Jawab atas Korban dan Kerusakan Aksi Protes Iran

×

Khamenei Tuding Trump Bertanggung Jawab atas Korban dan Kerusakan Aksi Protes Iran

Sebarkan artikel ini
Khamenei tuding Trump
Arsip foto - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Foto: Anadolu

Ringkasan Berita

  • Dalam pidato di hadapan pejabat dan tokoh masyarakat di Teheran, Sabtu (17/1), Khamenei menilai Washington terlibat l…
  • "Saya tegaskan dengan jelas bahwa tujuan Amerika dalam hasutan terbaru ini adalah menelan Iran," kata Khamenei dalam …
  • Tuduhan Keterlibatan Langsung AS Menurut Khamenei, Presiden AS tidak hanya melontarkan ancaman, tetapi juga secara te…

Topikseru.com, Teheran – Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menuding Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas jatuhnya korban jiwa dan kerusakan besar dalam gelombang protes terbaru di Iran.

Dalam pidato di hadapan pejabat dan tokoh masyarakat di Teheran, Sabtu (17/1), Khamenei menilai Washington terlibat langsung dalam apa yang ia sebut sebagai “hasutan” terhadap stabilitas Iran.

“Saya tegaskan dengan jelas bahwa tujuan Amerika dalam hasutan terbaru ini adalah menelan Iran,” kata Khamenei dalam pernyataannya.

Tuduhan Keterlibatan Langsung AS

Menurut Khamenei, Presiden AS tidak hanya melontarkan ancaman, tetapi juga secara terbuka mendorong dan mendukung para penghasut, yang oleh pemerintah Iran disebut sebagai kelompok bersenjata.

Dia menilai, berbeda dengan periode sebelumnya ketika keterlibatan dilakukan melalui tokoh media Barat, kini presiden AS sendiri berada di garis depan dalam memicu ketegangan di Iran.

Khamenei juga menuduh Amerika Serikat dan Israel telah mengidentifikasi, melatih, dan mendukung sejumlah individu di dalam negeri Iran untuk menciptakan ketakutan serta melakukan aksi perusakan.

Protes Berujung Kekerasan

Aksi protes antipemerintah di Iran pecah pada akhir bulan lalu, dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi, melonjaknya harga kebutuhan pokok, serta anjloknya nilai mata uang nasional, rial.

Situasi semakin memanas pada 8 Januari, ketika putra mantan raja Iran yang bermukim di AS menyerukan masyarakat untuk turun ke jalan memprotes pemerintah. Sejak saat itu, demonstrasi berubah menjadi bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan.

Baca Juga  Seskab Teddy Bocorkan Rahasia Presiden Prabowo 'Menjinakkan' Tarif Impor Trump, DPR Memuji: Indonesia Naik Kelas di Mata Dunia

Pemerintah Iran melaporkan ratusan korban berjatuhan, terutama di provinsi-provinsi bagian barat, meski hingga kini jumlah resmi korban tewas belum diumumkan.

Perkiraan tidak resmi menyebutkan korban mencapai ratusan hingga ribuan orang.

Klaim Perusakan dan Kerugian Besar

Kepolisian Iran menyatakan aksi protes damai telah “dibajak oleh perusuh” yang didukung oleh badan intelijen asing.

Sejumlah serangan dilaporkan terjadi terhadap gedung pemerintah, kantor polisi, bank, toko, dan masjid di berbagai wilayah, termasuk Teheran.

Khamenei menyebut sekitar 250 masjid dibakar selama kerusuhan berlangsung. Kerugian material akibat kerusakan tersebut diperkirakan mencapai ratusan juta dolar AS berdasarkan perhitungan awal.

Dia juga mengatakan aparat keamanan telah menangkap “sejumlah besar” individu yang diduga terlibat dalam aksi kekerasan.

Iran Tak Ingin Perang, tapi Siap Bertindak

Dalam pidatonya, Khamenei menegaskan Iran tidak menginginkan perang, namun tidak akan membiarkan apa yang ia sebut sebagai “penjahat domestik dan internasional” lolos tanpa pertanggungjawaban hukum.

Dia menyinggung sejarah hubungan Iran-AS sejak Revolusi Iran 1979, yang menurutnya diwarnai upaya Washington untuk mengembalikan dominasinya atas Iran, terlepas dari siapa pun yang berkuasa di Gedung Putih.

Akui Tekanan Ekonomi Nasional

Di sisi lain, Khamenei mengakui kondisi ekonomi Iran sedang berada dalam tekanan berat. Ia meminta otoritas terkait untuk bekerja lebih serius dalam menjamin ketersediaan pangan, pakan ternak, serta kebutuhan pokok lainnya bagi masyarakat.

Pernyataan Khamenei ini disampaikan tak lama setelah Donald Trump menyatakan telah menangguhkan rencana serangan terhadap Iran, serta mengklaim bahwa Teheran telah menghentikan eksekusi terhadap para pengunjuk rasa.

Namun, lembaga peradilan Iran menegaskan bahwa hingga kini belum ada seorang pun yang dijatuhi hukuman mati terkait aksi protes terbaru tersebut.