Peristiwa

Debu Pascabanjir di Aceh Tamiang Makin Pekat, Warga Khawatir Dampak Kesehatan

×

Debu Pascabanjir di Aceh Tamiang Makin Pekat, Warga Khawatir Dampak Kesehatan

Sebarkan artikel ini
Debu tebal beterbangan dari sisa lumpur banjir di permukiman Aceh Tamiang usai pendaratan helikopter, memicu kekhawatiran warga terhadap dampak kesehatan.
Ancaman debu dari sisa lumpur banjir di Aceh Tamiang semakin mengkhawatirkan warga, terutama saat aktivitas kendaraan dan pendaratan helikopter memicu debu beterbangan. (Instagram/berita_aceh_tamiang_offical)

Ringkasan Berita

  • Lumpur sisa banjir bandang yang belum sepenuhnya dibersihkan kini mulai mengering dan beterbangan, terutama saat akti…
  • Kondisi tersebut terekam dalam sebuah video yang beredar luas di media sosial.
  • Beberapa anggota Brimob yang berada di sekitar lokasi terlihat berlarian untuk menghindari paparan debu.

Topikseru.com, Tamiang – Permasalahan debu pascabanjir di Kabupaten Aceh Tamiang kian mengkhawatirkan warga.

Lumpur sisa banjir bandang yang belum sepenuhnya dibersihkan kini mulai mengering dan beterbangan, terutama saat aktivitas kendaraan melintas di jalan raya.

Kondisi tersebut terekam dalam sebuah video yang beredar luas di media sosial.

Dalam video itu, debu tampak mengepul tebal hingga menggelapkan suasana permukiman warga setelah sebuah helikopter mendarat di lokasi.

“Helikopter turun, jadi gelap debunya sampai kayak begitu,” ujar seorang warga dalam video yang diunggah akun Instagram @berita_aceh_tamiang_offical, Kamis (29/1/2026).

Awalnya, suasana di lokasi terlihat terang. Namun seketika berubah pekat saat suara baling-baling helikopter semakin mendekat dan debu beterbangan ke segala arah.

Beberapa anggota Brimob yang berada di sekitar lokasi terlihat berlarian untuk menghindari paparan debu.

Hujan Belum Turun, Lumpur Mengering dan Mudah Beterbangan

Pekatnya debu di Aceh Tamiang salah satunya dipicu kondisi cuaca. Hujan belum turun kembali dalam beberapa hari terakhir, sehingga lumpur yang sebelumnya basah kini mengering dan mudah terangkat ke udara.

“Kondisi saat ini di Tamiang. Hujan jadi Kuala Lumpur, panas jadi padang pasir,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut.

Baca Juga  Rumah Terkubur Lumpur Pascabanjir, Warga Hanya Bisa Masuk dengan Cara Merunduk dan Merangkak

Di kolom komentar, sejumlah warga mengungkapkan kebimbangan. Upaya penyiraman jalan dinilai berisiko karena dapat menyebabkan permukaan jalan licin dan membahayakan pengendara.

Pemerintah Pusat Soroti Lambannya Pembersihan Lumpur

Kondisi tersebut turut menjadi perhatian pemerintah pusat.

Dalam rapat koordinasi percepatan pemulihan dan rekonstruksi pascabencana di Sumatera pada 26 Januari 2026, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menegaskan pentingnya percepatan pembersihan lumpur di Aceh Tamiang.

Menurut Tito, Aceh Tamiang yang berada di wilayah dataran rendah menjadi salah satu daerah dengan dampak terparah akibat banjir bandang dan tanah longsor.

Selain Aceh Tamiang, sejumlah daerah lain seperti Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie Jaya juga menghadapi persoalan serupa.

Hampir 10.000 Personel Dikerahkan untuk Pemulihan

Pemerintah pusat mengerahkan hampir 10.000 personel gabungan untuk membantu pembersihan lumpur di Aceh Tamiang.

Personel tersebut berasal dari berbagai unsur, termasuk TNI, Polri, praja IPDN, mahasiswa Politeknik Statistika STIS, taruna kementerian, serta peserta Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitardanus).

“Jadi kekuatan di Tamiang itu mungkin mendekati hampir 10.000 personel. Karena memang paling banyak kolam dan kawasan yang terdampak lumpur,” ujar Tito.

Pembersihan difokuskan pada fasilitas pemerintahan, sekolah, pasar, hingga rumah warga guna mempercepat pemulihan aktivitas masyarakat dan menekan risiko gangguan kesehatan akibat paparan debu berkepanjangan.