NewsPolitik

Airlangga Hartarto Mundur Sebagai Ketum Golkar, Begini Kata Pengamat Politik

×

Airlangga Hartarto Mundur Sebagai Ketum Golkar, Begini Kata Pengamat Politik

Sebarkan artikel ini
Airlangga Hartarto
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto

Ringkasan Berita

  • Dalam video resmi Golkar, Airlangga beralasan mundur sebagai ketua umum karena ingin menjaga keutuhan partai dan mema…
  • "Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, serta atas petunjuk Tuhan Yang Maha Besar, maka dengan ini saya menyata…
  • Pasalnya, kata Adi, pengunduran diri Airlangga berbanding terbalik dengan kepemimpinannya yang membuat perolehan kurs…

TOPIKSERU.COM, JAKARTA – Airlangga Hartarto secara mendadak mengumumkan mundur dari jabatan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Minggu (11/8).

Dalam video resmi Golkar, Airlangga beralasan mundur sebagai ketua umum karena ingin menjaga keutuhan partai dan memastikan stabilitas selama transisi pemerintahan.

“Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, serta atas petunjuk Tuhan Yang Maha Besar, maka dengan ini saya menyatakan pengunduran diri sebagai ketua umum DPP Partai Golkar,” kata Airlangga dalam video tersebut.

Airlangga Hartarto melanjutkan, dia mundur sebagai Ketua Umum Golkar terhitung sejak Sabtu malam (10/8).

“Selanjutnya, sebagai partai besar yang matang dan dewasa, DPP Partai Golkar akan segera menyiapkan mekanisme organisasi sesuai dengan ketentuan AD/ART organisasi yang berlaku,” kata Airlangga dalam video yang sama.

Begini Kata Pengamat

Menanggapi pernyataan pengunduran diri Airlangga itu, pengamat politik Adi Prayitno menyebut fenomena tersebut menimbulkan tanda tanya.

Pasalnya, kata Adi, pengunduran diri Airlangga berbanding terbalik dengan kepemimpinannya yang membuat perolehan kursi Partai Golkar pada Pemilihan Legislatif 2024 meningkat.

“Saya kira semua orang kaget dengan pengunduran Airlangga yang terkesan tiba-tiba dan mendadak karena selama ini memang isu terkait munaslub (musyawarah nasional luar biasa) itu tak pernah sukses ya,” kata Adi dalam keterangan di Jakarta, Minggu.

Baca Juga  Manuver Politik Bahlil Rebut Kembali Airin Rachmi Setelah Diusung PDIP

Kendati demikian, Adi menyebut bahwa ini sebagai kecenderungan bahwa pergantian kepemimpinan di Partai Golkar terjadi dalam situasi yang tidak wajar.

Sebelumnya, kata dia, sempat terjadi konflik internal saat Setya Novanto terpilih untuk menjabat sebagai ketua umum partai tersebut.

“Kalau kita melihat kecenderungan secara umum, Ketua Umum Partai Golkar itu selalu lahir dari situasi yang tidak normal. Ketua Umum Partai Golkar sebelum Airlangga, Setnov, itu jadi Ketum Partai Golkar di tengah konflik internal Golkar pada saat itu. Kalau tidak salah konflik internal antara kubu Aburizal Bakrie dan Agung Laksono,” jelasnya.

Dia juga mengingatkan bahwa Airlangga terpilih menjadi ketua umum pada saat Setnov berurusan dengan permasalahan hukum.

Bahkan, kata dia, pada tahun 2004, Akbar Tanjung yang menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar, dan berhasil meraih perolehan pileg terbanyak harus tersingkir dan Jusuf Kalla menggantikannya.

“Kondisi-kondisi yang semacam ini sebenarnya membuat pergantian Ketum Golkar memang selalu diawali oleh situasi yang sebenarnya tidak normal dan tidak kondusif. Jadi, kalau tiba-tiba Airlangga mundur, ya, ini tentu makin memperpanjang betapa suksesi kepemimpinan di Partai Golkar itu selalu dengan kondisi-kondisi yang tidak normal,” kata dia.(antara/topikseru.com)