Internasional

Israel Khawatir AS-Iran Capai Kesepakatan Nuklir, Eks Pejabat Ungkap Potensi Intervensi

×

Israel Khawatir AS-Iran Capai Kesepakatan Nuklir, Eks Pejabat Ungkap Potensi Intervensi

Sebarkan artikel ini
negosiasi nuklir Iran
Iran menuding Amerika Serikat berada di balik serangan rudal Tomahawk ke sekolah perempuan di Minab

Topikseru.com – Kekhawatiran Israel terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran kembali mencuat. Hal ini diungkapkan oleh mantan Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional AS, Joe Kent.

Dalam pernyataannya di sebuah siniar yang dipandu jurnalis Scott Horton, Kent menyebut Israel khawatir Washington akan berhasil mencapai kesepakatan dengan Teheran, yang kemudian dapat memicu upaya intervensi untuk menggagalkannya.

“Inilah yang dikhawatirkan Israel. Karena mereka tahu bahwa Presiden Donald Trump dan tim negosiasinya kemungkinan bisa mencapai kesepakatan,” ujar Kent.

Negosiasi Dinilai Hampir Tercapai

Kent menilai pembicaraan terkait program nuklir Iran, khususnya soal pengayaan uranium, menunjukkan perkembangan positif dan berada dalam jangkauan kesepakatan.

Ia menyebut diskusi antara kedua pihak berlangsung intens dan mencerminkan adanya kemajuan substansial.

“Pembicaraan itu berjalan sangat baik. Mereka terus bertemu dan membahas isu pengayaan secara nyata,” katanya.

Namun, di tengah proses tersebut, Israel disebut aktif menyuarakan kekhawatiran mengenai potensi pengembangan senjata nuklir oleh Iran, termasuk kemampuan rudal yang diklaim dapat menjangkau wilayah Amerika Serikat.

Iran Dinilai Bersikap Terukur

Kent juga menilai respons Iran dalam konflik terbaru menunjukkan sikap yang relatif terkendali. Ia mencontohkan serangan balasan melalui Operasi Midnight Hammer pada Juni, di mana jumlah rudal yang diluncurkan Iran disebut sebanding dengan serangan yang diterima dari AS.

Baca Juga  Harga Bitcoin Melorot 1,08 Persen Dibanderol USD 118.151 Per Koin atau Setara Rp1,922 Miliar

Menurutnya, langkah tersebut menjadi sinyal bahwa Teheran masih membuka peluang untuk mencapai kesepakatan diplomatik.

Mundur karena Tidak Sepakat Kebijakan

Kent diketahui mengundurkan diri dari posisinya sebagai pejabat kontraterorisme di pemerintahan Trump. Ia menyebut ketidaksepakatannya terhadap kebijakan militer AS terhadap Iran sebagai alasan utama.

Ia bahkan menuding adanya kampanye disinformasi dari pejabat senior Israel yang dinilai turut mendorong keterlibatan Washington dalam konflik tersebut.

Ketegangan Memuncak Sejak Februari

Ketegangan antara AS, Israel, dan Iran meningkat sejak 28 Februari lalu, ketika Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran.

Serangan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban sipil. Sebagai balasan, Iran menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.

Pada awalnya, AS dan Israel menyatakan operasi militer dilakukan untuk merespons ancaman dari program nuklir Iran. Namun, dalam perkembangan berikutnya, kedua negara juga menyuarakan keinginan adanya perubahan kekuasaan di Iran.

Pengamat menilai dinamika ini berpotensi memperumit upaya diplomasi dan meningkatkan risiko konflik terbuka di kawasan. Ketidakpastian mengenai arah negosiasi nuklir menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi stabilitas geopolitik global saat ini.