Topikseru.com, Medan – Ikan asin jadi salah satu makanan populer di Indonesia. Tapi, tak sedikit juga orang yang khawatir akan berbagai kandungan yang ada di dalamnya.
Selain menyoal garam, banyak juga orang yang bertanya-tanya soal apakah ikan asin mengandung kolesterol?
Ikan asin sendiri pada dasarnya adalah ikan yang diawetkan dengan menggunakan garam.
Menukil laman CFE Seafoods, proses ini terjadi melalui osmosis. Pengawetan dilakukan dengan mengurangi kadar air dan meningkatkan konsentrasi garam di dalamnya untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Hasilnya, ikan yang kriuk dan asin gurih.
Di Indonesia, ikan asin dibuat dengan menggunakan bahan baku berbagai jenis ikan. Misalnya saja, peda yang umumnya menggunakan bahan baku ikan kembung. Ada juga ikan asin teri yang menggunakan ikan teri nasi atau jengki.
Di kawasan Pantai Utara (Pantura) Pulau Jawa, ikan manyung juga kerap diasinkan dan menjadi jenis ikan asin jambal roti. Ikan asin yang dikenal premium karena daging yang tebal dan tekstur yang empuk.
Apakah ikan asin mengandung kolesterol?
Kolesterol sendiri pada dasarnya merupakan salah satu jenis lemak yang dibutuhkan tubuh. Hanya saja, dalam kadar berlebih, kolesterol bisa memicu masalah kesehatan. Tak heran jika banyak orang menghindari asupan kolesterol berlebihan.
Lantas, apakah ikan asin mengandung kolesterol?
Pada dasarnya, mengutip Healthline, hampir setiap jenis ikan mengandung kolesterol, namun dalam jumlah berbeda. Kolesterol utamanya terkandung pada jenis ikan laut.
Ikan kembung yang sering dijadikan bahan peda, misalnya, umumnya mengandung sekitar 33-55 miligram (mg) kolesterol per 100 gram (g) dalam kondisi segar. Sementara ikan teri umumnya mengandung 60 mg kolesterol per 100 g.
Lalu, kandungan kolesterol pada ikan manyung tercatat sebesar 37-49 mg per 100 g. Kesemua contoh bahan baku ikan asin ini umumnya mengandung kolesterol di bawah batas maksimal asupan harian sebesar 300 mg.
Kendati demikian, ada hal lain yang perlu diperhatikan dari ikan asin, yakni kandungan garam yang ada di dalamnya. Meski kadar kolesterol terbilang aman, kandungan garam tak boleh disepelekan.
Ikan asin jelas mengandung kadar natrium yang tinggi. Menukil studi dalam International Journal Prima Husada Health 2024, asupan natrium berlebih berkaitan erat dengan peningkatan kadar kolesterol.
Hubungannya ada pada efek natrium terhadap perburukan kondisi jantung dan pembuluh darah, yang erat dengan peningkatan kadar kolesterol jahat.
Koleterol Baik atau Jahat
Kolesterol terdiri dari dua jenis utama: HDL (baik) yang mengangkut kelebihan kolesterol kembali ke hati untuk dibuang, dan LDL (jahat) yang menumpuk di dinding pembuluh darah, memicu risiko serangan jantung dan stroke jika kadarnya tinggi. Kadar normal: HDL \(>40-60\) mg/dL, LDL \(<100\) mg/dL.
Berikut adalah panduan mengenal perbedaan keduanya:
- Kolesterol Baik (HDL – High-Density Lipoprotein):
- Peran: Membersihkan kelebihan kolesterol di darah dan membawanya ke hati untuk dikeluarkan.
- Manfaat: Mencegah penyumbatan pembuluh darah dan melindungi jantung.
- Kadar Ideal: \(>50\) mg/dL (lebih tinggi lebih baik).
- Kolesterol Jahat (LDL – Low-Density Lipoprotein):
- Peran: Mengangkut kolesterol ke sel-sel tubuh, namun jika berlebih akan menumpuk di arteri.
- Dampak: Membentuk plak yang mengeraskan pembuluh darah (aterosklerosis) dan menghambat aliran darah.
- Kadar Ideal: \(<100\) mg/dL.
- Trigliserida: Jenis lemak lain di darah yang digunakan sebagai cadangan energi. Kadar normal adalah \(<150\) mg/dL.
Cara Menjaga Keseimbangan Kolesterol:
- Diet Sehat: Kurangi makanan berlemak jenuh, perbanyak serat dan lemak sehat (ikan, alpukat).
- Olahraga: Aktivitas fisik teratur dapat meningkatkan HDL dan menurunkan LDL.
- Hindari Merokok: Merokok dapat menurunkan kadar HDL.
Kadar kolesterol tinggi sering kali tidak bergejala, sehingga disarankan untuk melakukan pemeriksaan darah secara rutin di fasilitas kesehatan.












