Topikseru.com, Jakarta – Rencana ekspansi manufaktur kembali mencuat dari merek otomotif global Ford Motor Company. Melalui agen pemegang merek, RMA Indonesia, Ford tengah mengkaji peluang pembangunan pabrik atau fasilitas perakitan kendaraan di Indonesia.
Country Manager RMA Group Indonesia, Toto Suharto, mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini masih melakukan studi komprehensif terkait rencana tersebut, termasuk kemungkinan penerapan skema Completely Knocked Down (CKD).
“Kami terus melakukan studi. Dalam waktu dekat mungkin bisa kami sampaikan detailnya seperti apa,” ujar Toto dalam keterangannya, Selasa (5/5/2026).
Fokus CKD, Tapi Masih Tahap Kajian
Menurut Toto, keinginan untuk melokalisasi produk melalui perakitan lokal cukup besar. Namun, keputusan Investasi tidak bisa diambil secara terburu-buru mengingat kompleksitas bisnis otomotif yang membutuhkan perencanaan jangka panjang.
RMA Indonesia saat ini tengah menilai berbagai aspek, mulai dari potensi pasar domestik, efisiensi biaya, hingga risiko investasi yang harus ditanggung.
“Ini bukan keputusan jangka pendek. Kami harus melihat kelayakan ekonomi secara menyeluruh,” jelasnya.
Investasi Besar, Perlu Perhitungan Matang
Pembangunan fasilitas produksi otomotif dikenal membutuhkan belanja modal (capital expenditure) yang besar. Oleh karena itu, RMA Indonesia juga membandingkan peluang investasi di Indonesia dengan negara lain sebelum mengambil keputusan final.
Toto menambahkan, hampir semua merek otomotif global memiliki ambisi membangun basis produksi di pasar potensial seperti Indonesia. Namun, faktor keekonomian tetap menjadi penentu utama.
Kilas Balik: Ford Pernah Hengkang
Sebagai catatan, Ford Motor Company sempat keluar dari pasar Indonesia pada 2016 akibat tekanan persaingan. Namun, melalui RMA Indonesia, Ford kembali masuk ke pasar domestik pada 2022.
Kehadiran kembali Ford sejalan dengan peluncuran sejumlah model andalan seperti Ford Ranger, Ford Everest, hingga Ford Mustang.
Sinyal Positif Industri Otomotif
Jika rencana pembangunan pabrik terealisasi, langkah ini berpotensi memperkuat industri otomotif nasional, terutama dalam mendorong transfer teknologi, penyerapan tenaga kerja, serta peningkatan ekspor kendaraan.
Namun hingga saat ini, RMA Indonesia masih menahan diri untuk mengumumkan timeline maupun lokasi proyek, sembari menunggu hasil studi kelayakan yang tengah berlangsung.












