Sosok

Dari Antropologi ke Google: Kisah Mahasiswa Unimed yang Menembus 2.000 Google Student Ambassador Indonesia

×

Dari Antropologi ke Google: Kisah Mahasiswa Unimed yang Menembus 2.000 Google Student Ambassador Indonesia

Sebarkan artikel ini

Saat Banyak Orang Meragukan Jurusannya, Gabriel Josua Saputra Siregar Justru Membuktikan Bahwa Mahasiswa Antropologi Bisa Menjadi Penggerak Teknologi dan Inovasi di Era AI

Mahasiswa Antropologi Google Student Ambassador
Gabriel Josua Saputra Siregar, mahasiswa Pendidikan Antropologi Unimed, berhasil lolos Google Student Ambassador 2026

Topikseru.com, Medan – “Anak Antropologi mau jadi apa?” Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi Gabriel Josua Saputra Siregar, mahasiswa Pendidikan Antropologi Universitas Negeri Medan (Unimed), kalimat tersebut berkali-kali datang dengan nada meremehkan.

Ada yang menganggap antropologi hanya berkutat pada penelitian budaya di pedalaman. Ada pula yang menganggap jurusan itu tidak relevan di tengah ledakan teknologi dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Tetapi Gabriel memilih jalan berbeda. Alih-alih membiarkan stigma itu tumbuh, mahasiswa semester enam yang tengah menyelesaikan skripsinya tersebut justru menjadikan keraguan orang lain sebagai bahan bakar untuk melangkah lebih jauh.

Dari seorang anak kampung yang berkuliah dengan bantuan beasiswa, Gabriel kini menjadi salah satu wajah muda yang memperkenalkan teknologi AI di lingkungan kampus melalui program bergengsi Google Student Ambassador (GSA) 2026.

Ketika Antropologi Bertemu Artificial Intelligence

Perjalanan Gabriel tidak dimulai dari dunia teknologi. Pada tahun-tahun awal perkuliahan, ia mengaku sama seperti kebanyakan mahasiswa lainnya yang tidak terlalu peduli terhadap perkembangan AI.

Saat itu, pikirannya masih dipenuhi pertanyaan sederhana. “Untuk apa anak Pendidikan Antropologi belajar AI?”

Namun sebuah kegelisahan perlahan muncul. Dia mulai mempertanyakan peran dirinya sebagai mahasiswa. Apakah hanya akan datang ke kampus, mengerjakan tugas, lalu lulus seperti biasa? Atau justru menciptakan sesuatu yang berdampak bagi jurusan yang selama ini sering dipandang sebelah mata?

Pertanyaan itu mengubah arah hidupnya. Gabriel kemudian mulai mengeksplorasi berbagai teknologi digital dan menemukan satu alat yang kemudian menjadi titik balik dalam perjalanan akademiknya: Gemini AI.

Gemini AI Jadi Teman Diskusi hingga Raih Juara Nasional

Mahasiswa Antropologi Google Student Ambassador

Ketertarikan Gabriel terhadap dunia digital sebenarnya berawal dari hobinya mengedit video. Kemampuan itu membawanya mengikuti berbagai kompetisi dokumenter tingkat nasional.

Pada 2024, ia berhasil meraih Juara 1 Lomba Video Dokumenter Nasional bertema Membumikan Sumpah Pemuda Melalui Digital Art yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan.

Setahun kemudian, ia kembali menorehkan prestasi dengan meraih Juara 3 Lomba Video Dokumenter Nasional bertema Pahlawan di Balik Layar Bangsa.

Di balik layar proses kreatif tersebut, Gemini AI menjadi partner yang membantunya menyusun narasi, mengembangkan alur cerita, hingga merancang konsep visual yang lebih kuat dan emosional.

Bagi Gabriel, AI bukan alat untuk menggantikan kreativitas manusia. Sebaliknya, teknologi menjadi kolaborator yang membantu memperkuat ide-ide yang lahir dari pemikiran manusia.

MangiWash: Saat AI Membantu Anak Antropologi Berwirausaha

Pemanfaatan Gemini tidak berhenti di dunia konten. Gabriel juga mengembangkan produk kewirausahaan bernama MangiWash, sabun cuci tangan berbentuk tablet berbahan dasar ekstrak daun kemangi.

Dalam proses pengembangannya, Gemini digunakan untuk membantu merancang identitas merek, konsep kemasan, strategi pemasaran, hingga pembuatan konten promosi digital.

Hasilnya tidak main-main. Produk tersebut berhasil meraih penghargaan Produk Kewirausahaan Terbaik, sekaligus menjadi bukti bahwa mahasiswa dari rumpun ilmu sosial juga mampu berinovasi dengan memanfaatkan teknologi modern.

Menjadi Satu-satunya Mahasiswa Antropologi di Google Student Ambassador 2026

Puncak perjalanan Gabriel datang ketika ia dinyatakan lolos sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2026.

Program tersebut merupakan salah satu inisiatif Google Indonesia untuk mencetak mahasiswa yang mampu menjadi agen perubahan melalui pemanfaatan teknologi.

Dari lebih dari 81.000 pendaftar yang berasal dari lebih dari 1.900 kampus di Indonesia, Gabriel berhasil masuk dalam 2.000 peserta terpilih.

Lebih membanggakan lagi, ia menjadi satu-satunya mahasiswa Pendidikan Antropologi yang berhasil menembus program tersebut.

“Saya ingin membuktikan bahwa teknologi tidak pernah memilih jurusan. Yang dibutuhkan adalah kemauan belajar dan keberanian untuk memberi dampak,” ujar Gabriel.

Terbang ke Jakarta, Membawa Nama Antropologi Unimed

Keberhasilan itu membuka pintu kesempatan yang lebih besar. Gabriel kemudian kembali lolos seleksi lanjutan dan masuk ke dalam kelompok 150 peserta terbaik yang diundang menghadiri Inauguration Google Student Ambassador dan Google Office Tour di Jakarta pada April 2026.

Seluruh kegiatan tersebut dibiayai penuh oleh Google Indonesia.

Bagi Gabriel, momen itu terasa sangat emosional. Ia yang berasal dari kampung, berkuliah dengan beasiswa, dan berasal dari jurusan yang kerap dipandang sebelah mata, kini berdiri sejajar dengan mahasiswa-mahasiswa terbaik dari berbagai kampus ternama di Indonesia.

“Itu menjadi bukti bahwa asal-usul tidak pernah menentukan batas kemampuan seseorang,” kata Gabriel.

Mendapat Julukan “Abang Google” di Kampus

Aktivitasnya sebagai Google Student Ambassador membuat Gabriel semakin aktif mengedukasi mahasiswa mengenai pemanfaatan teknologi AI. Dia kerap menjadi narasumber seminar, pembicara podcast kampus, hingga penyelenggara berbagai kegiatan literasi digital.

Tidak sedikit mahasiswa yang kemudian mengenalnya dengan julukan unik.

“Abang Google.”

Julukan tersebut justru ia terima dengan bangga. Baginya, panggilan itu menjadi simbol bahwa perjuangannya memperkenalkan teknologi di lingkungan Pendidikan Antropologi mulai membuahkan hasil.

Sosok Dosen yang Selalu Mendukung

Gabriel mengakui perjalanan panjang tersebut tidak akan mungkin ia tempuh seorang diri.

Dia menyebut sosok dosen Pendidikan Antropologi Unimed, Rivie Selvianti, M.Pd, sebagai salah satu figur penting yang terus memberikan dukungan, arahan, dan kepercayaan selama proses dia berkembang.

Menurut Gabriel, kehadiran mentor yang percaya terhadap potensi mahasiswa menjadi faktor penting dalam mendorong lahirnya inovasi dan keberanian untuk mencoba hal-hal baru.

Membuktikan Bahwa Jurusan Bukan Batasan

Kini, Gabriel memiliki misi yang lebih besar. Ia ingin terus memperkenalkan teknologi Google dan Gemini AI kepada mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan.

Baginya, transformasi digital bukan hanya milik mahasiswa teknik atau ilmu komputer.

Mahasiswa antropologi, sejarah, sastra, pendidikan, hingga ilmu sosial lainnya juga memiliki ruang yang sama untuk tumbuh bersama teknologi.

Perjalanan Gabriel menjadi pengingat bahwa penentu masa depan bukan jurusan kuliah semata.

Yang membedakan adalah keberanian untuk belajar, beradaptasi, dan memberikan dampak bagi lingkungan sekitar.

Dari ruang kelas Pendidikan Antropologi di Universitas Negeri Medan, seorang mahasiswa telah membuktikan bahwa teknologi dan ilmu sosial bisa berjalan berdampingan.

Dan kisah itu baru saja mulai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *