- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendorong agar hasil penelitian sastra tidak berhenti pada publikasi akademik semata.
- Karya dan pengetahuan yang dihasilkan perlu ditransformasikan ke berbagai platform kreatif agar lebih dekat dengan masyarakat sekaligus menghasilkan nilai budaya dan ekonomi.
- Hal itu dikatakan Kepala Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas (PRBSK) BRIN, Ade Mulyanah dalam siaran pers dikutip dari situs BRIN pada Sabtu (13/6/2026).
Topikseru.com, Medan – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendorong agar hasil penelitian sastra tidak berhenti pada publikasi akademik semata. Karya dan pengetahuan yang dihasilkan perlu ditransformasikan ke berbagai platform kreatif agar lebih dekat dengan masyarakat sekaligus menghasilkan nilai budaya dan ekonomi.
Hal itu dikatakan Kepala Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas (PRBSK) BRIN, Ade Mulyanah dalam siaran pers dikutip Topikseru.com dari situs BRIN pada Sabtu (13/6/2026).
Ade menjelaskan, PRBSK BRIN terus mendorong riset terkait digitalisasi dan transformasi karya sastra sebagai bagian dari upaya memperkuat pelestarian budaya sekaligus menghasilkan produk kreatif yang bermanfaat bagi masyarakat.
Menurut Ade, sastra memiliki potensi besar untuk dikembangkan ke dalam berbagai medium, seperti film, komik, animasi, gim, maupun platform digital lainnya. Transformasi tersebut tidak hanya memperluas akses masyarakat terhadap karya sastra, tetapi juga membuka peluang lahirnya inovasi berbasis budaya yang memiliki nilai ekonomi.
“Sastra bukan sekadar bacaan, tetapi juga sumber inspirasi dan inovasi kreatif yang dapat dikembangkan ke dalam berbagai platform,” ujarnya dalam Webinar Seri ke-81 bertema “Transformasi Sastra dalam Media Kreatif” yang diselenggarakan PRBSK BRIN, Kamis (11/6), di Jakarta.
Ekonomi Kreatif Menjadi Pilar Penting Pembangunan Ekonomi
Pada kesempatan yang sama, Peneliti PRBSK BRIN, Sri Yono menjelaskan, ekonomi kreatif kini menjadi salah satu pilar penting pembangunan ekonomi di berbagai negara. Dalam konteks tersebut, budaya tidak lagi dipandang semata sebagai identitas, tetapi juga sebagai aset strategis yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi.
Sebagai contoh, Sri Yono mengangkat film animasi Raya and the Last Dragon, yang dinilainya berhasil mengadaptasi berbagai unsur budaya Asia Tenggara ke dalam narasi modern yang diterima oleh audiens global.
Film tersebut menampilkan beragam inspirasi budaya kawasan, mulai dari kuliner tradisional, arsitektur lokal, motif tekstil seperti batik dan songket, hingga seni bela diri tradisional. Unsur-unsur budaya tersebut diolah menjadi representasi visual yang kuat sekaligus memperkaya cerita yang disampaikan.
Menurut Sri Yono, keberhasilan Raya and the Last Dragon menunjukkan, budaya lokal memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk kreatif yang mampu bersaing di pasar internasional.
Ia menambahkan, industri film dan animasi tidak hanya menghasilkan produk hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen diplomasi budaya dan komoditas ekonomi bernilai tinggi. Pengalaman sejumlah negara Asia menunjukkan bahwa investasi pada industri kreatif berbasis budaya dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan.
Meski demikian, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan riset budaya yang sistematis, belum optimalnya kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah, serta kebutuhan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang kreatif dan digital.
Karena itu, Sri Yono menilai diperlukan strategi yang lebih terarah melalui penguatan literasi digital, pengembangan talenta industri kreatif, serta dukungan kebijakan yang konsisten untuk membangun ekosistem kreatif berbasis budaya yang berkelanjutan.
Yono menegaskan, budaya lokal merupakan aset strategis yang dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Dengan pengelolaan yang tepat, kekayaan sastra dan budaya Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi kekuatan utama dalam industri kreatif global.
Pentingnya Kolaborasi Antarpelaku Kreatif dan Peneliti
Terkait itu, Ade Mulyanah menekankan pentingnya kolaborasi antara peneliti, sastrawan, pelaku industri kreatif, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya agar hasil riset dapat menjawab kebutuhan zaman serta memperkuat posisi sastra dalam ekosistem ekonomi kreatif nasional.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal besar berupa kekayaan budaya, tradisi, dan karya sastra yang tersebar di berbagai daerah. Potensi tersebut perlu dikelola dan dikembangkan menjadi produk kreatif yang memiliki daya saing di tingkat global.
“Kami berharap karya-karya sastra Indonesia dapat berkembang menjadi produk kreatif yang bernilai ekonomi sekaligus memperkuat identitas budaya bangsa,” katanya.
Ade menambahkan, transformasi sastra juga merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya. Melalui pemanfaatan teknologi dan media kreatif, nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra dapat terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi mendatang.












