Piala Dunia 2026

Piala Dunia 2026: Poin Pertama Qatar Hasil Perjuangan Selama 22 tahun

×

Piala Dunia 2026: Poin Pertama Qatar Hasil Perjuangan Selama 22 tahun

Sebarkan artikel ini
Piala Dunia 2026
Pada Piala Dunia 2026 kali ini, sejarah sepak bola Qatar tercipta di Stadion San Fransisco Bay Area, Amerika Serikat, saat tim nasional mereka menahan imbang Swiss 1-1 pada laga Grup B Piala Dunia 2026, Minggu (14/6) WIB.
Intinya Sih
  • Pada Piala Dunia 2026 kali ini, sejarah sepak bola Qatar tercipta di Stadion San Fransisco Bay Area, Amerika Serikat, saat tim nasional mereka menahan imbang Swiss 1-1 pada laga Grup B Piala Dunia 2026, Minggu (14/6) WIB.
  • Gol bunuh diri bek Swiss Miro Muheim pada menit 90+4,memaksakan kedudukan imbang setelah Swiss unggul lebih dahulu lewat penalti Breel Embolo (17').
  • Itu membuat Qatar meraup satu poin, poin pertama sepanjang keikutsertaan mereka di Piala Dunia.
Disclaimer: Ringkasan ini dibuat menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI)

Topikseru.com, AS – Pada Piala Dunia 2026 kali ini, sejarah sepak bola Qatar tercipta di Stadion San Fransisco Bay Area, Amerika Serikat, saat tim nasional mereka menahan imbang Swiss 1-1 pada laga Grup B Piala Dunia 2026, Minggu (14/6) WIB.

Gol bunuh diri bek Swiss Miro Muheim pada menit 90+4,memaksakan kedudukan imbang setelah Swiss unggul lebih dahulu lewat penalti Breel Embolo (17′). Itu membuat Qatar meraup satu poin, poin pertama sepanjang keikutsertaan mereka di Piala Dunia.

Para pemain, suporter dan masyarakat Qatar merayakan hasil tersebut dengan sangat meriah. Sebelumnya, saat debut di turnamen empat tahunan itu pada 2022, Qatar yang berstatus tuan rumah selalu kalah di fase grup.

Meski hanya satu poin, apa yang dicapai Qatar tersebut layak mendapatkan tepuk tangan lantaran itu buah kerja keras mereka setidak-tidaknya selama 22 tahun.

Dengan jumlah penduduk cuma sekitar tiga juta jiwa, pemerintah Qatar menyadari mereka harus melakukan sesuatu yang sangat serius untuk mendapatkan talenta-talenta unggul dalam dunia olahraga, termasuk sepak bola.

Oleh karena itu, sebuah langkah strategis diambil pada tahun 2004, ketika pemerintah Qatar resmi membentuk Academy for Sports Execellence (Aspire).

Ini merupakan wadah untuk mencari, membina dan mengasah kemampuan bakat-bakat muda olahraga Qatar.

Di Aspire, selanjutnya disebut Aspire Academy, semua kebutuhan para atlet belia dipenuhi secara cuma-cuma, begitu pun pendidikan mereka (student-athletes).

Akademi ini fokus pada beberapa cabang olahraga yakni sepak bola, tenis meja, atletik, anggar, dan skuas.

Untuk sepak bola, Aspire Academy tidak menerima pendaftaran. Semua yang terpilih untuk program tersebut berasal dari pencarian bakat (scouting) yang kemudian diseleksi ketat.

Setiap tahun lebih dari 4.000 pesepak bola bertalenta dari usia delapan sampai 18 tahun masuk dalam radar.

Aspire menyebut, mereka sejatinya baru memberikan akses penuh akademi untuk mereka yang berusia minimal 12 tahun.

Meski begitu, mereka sudah mencari anak-anak dari usia lima tahun untuk dibina secara berjenjang untuk menuju ke sana.

Di laman resminya, Aspire memaparkan bahwa pelatihan awal sebelum mendapatkan program penuh dibagi ke dalam dua kelompok usia yakni 5-8 tahun dan 9-11 tahun sebagai tahap lanjutan. Mereka ditangani di berbagai tempat di Qatar.

Kemudian, mulai umur 12 tahun mereka bisa masuk ke akademi Aspire, lalu disaring lagi. Nantinya, dari ribuan anak, hanya sekitar 40 orang berhak mendapatkan pembiayaan penuh di Aspire Academy sebagai student-athletes sampai usia mereka 18 tahun.

Di Aspire Academy, para pesepak bola muda mendapatkan fasilitas nomor satu. Mereka berhak atas infrastruktur latihan kelas dunia.

Pelatih berlevel internasional dari berbagai negara, pembinaan berbasis sains olahraga, asupan gizi terbaik, dukungan kesehatan yang memadai dan pendidikan menengah berkualitas tinggi.

Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk menghadapi tim-tim luar negeri khususnya dari Eropa untuk meningkatkan pengalaman.

“Tujuan kami adalah merekrut pemain dan membuat mereka menjadi lebih baik. Itu adalah visinya. Akademi ini membawa kami melangkah ke depan serta menjadi penghubung antara klub dan tim nasjonal. Kami melihat ke masa depan,” ujar Direktur Teknik Aspire Academy Edorta Murua kepada FIFA, November 2022.

Timnas Qatar

Tanpa Aspire Academy, mungkin tim nasional Qatar tidak akan pernah mencicipi persaingan di Piala Dunia dan meraih beragam prestasi di Asia.

Faktanya, jebolan akademi tersebut menjadi pilar di skuad negara Qatar mulai dari kelompok umur sampai senior.

Pembinaan jangka panjang anak-anak muda itu menelurkan catatan-catatan positif. Pada 2014, misalnya, timnas Qatar yang 100 persen diperkuat para pemain Aspire Academy menjuarai Piala Asia U19 di Myanmar. Qatar pun mengunci satu slot di Piala Dunia U20 2015.

Ketika Qatar menjadi tim terbaik ketiga di Piala Asia U23 2018, sebanyak 95 persen pemainnya datang dari Aspire.

Di turnamen itu, pemain Qatar dari Aspire Academy yakni Hashim Ali menjadi pencetak gol termuda sepanjang Piala Asia U23 dengan usia 17 tahun, lima bulan dan dua hari.

Setahun berikutnya, jebolan Aspire Academy mengisi 70 persen pemain timnas Qatar yang menjadi kampiun Piala Asia 2019.

Bukan hanya itu, pada Piala Asia 2019, alumnus Aspire Almoez Ali memecahkan rekor gol terbanyak satu edisi Piala Asia yakni sembilan gol.

Yang membuatnya menjadi pemain terbaik dan tersubur di turnamen tersebut. Rekor gol sebelumnya dipegang legenda Iran Ali Daei (delapan gol pada Piala Asia 1996).

Saat ini, Almoez Ali masih menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa timnas Qatar dengan 55 gol, berdasarkan Transfermarkt.

Kala berkompetisi di Piala Dunia 2022, 70 persen pemain di skuad Qatar pun dari Aspire Academy.

Empat tahun kemudian, di Piala Dunia 2026, skuad yang dilatih Julen Lopetegui masih bertumpu pada pemain-pemain Aspire.

Tidak seperti edisi 2022 di mana mereka lolos lantaran tuan rumah, pada 2026 Qatar melaju berkat performa apik di kualifikasi zona Asia.

Mengawali langkah dari putaran kedua, di mana mereka menjadi yang terbaik di grup, Qatar sempat terpeleset di putaran ketiga hingga akhirnya harus memastikan tempat di Piala Dunia 2026 di putaran keempat di mana mereka lagi-lagi berstatus nomor satu di grup.

Sepanjang proses tersebut, Qatar bergantung kepada alumnus Aspire seperti penyerang Akram Afif, kiper Meshaal Barsham dan penyerang Almoez Ali.

Pelatih Julen Lopetegui pun memanggil mereka untuk memperkuat skuad Piala Dunia 2026. Bahkan, pemain binaan Aspire Academy dominan di skuad Qatar Piala Dunia 2026.

Sekurang-kurangnya ada 14 nama dari 26 pemain timnas Qatar di Piala Dunia 2026 berasal dari Aspire Academy.

Selain tiga nama tersebut, pemain Aspire Academy lainnya di skuad Qatar 2026 seperti Jassem Gaber, Ayoub Aloui, Homam Ahmed, Assim Madibo, Ahmed Fathy, Mahmoud Abunada, Sultan Al-Brake, Alhashmi Alhussein, Ahmed Alganehi, Ahmed Alaaeldin dan Tahsin Mohammed.

Strategi Qatar dalam mengembangkan olahraga, juga sepak bola, melalui Aspire Academy menjadi salah satu model terbaik yang dapat ditiru di negara-negara lain.

Dari Qatar kita belajar, mimpi-mimpi besar sepak bola ternyata dapat diwujudkan melalui pembinaan jangka panjang, bukan dengan kebijakan instan tanpa arah yang ujungnya hanya demi mendongkrak popularitas pihak-pihak tertentu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *