Pariwisata

Canyoneering di Air Terjun Sisundung, Sensasi Menaklukkan Tebing 23 Meter di Tapanuli Selatan

×

Canyoneering di Air Terjun Sisundung, Sensasi Menaklukkan Tebing 23 Meter di Tapanuli Selatan

Sebarkan artikel ini
Peserta canyoneering Tapanuli Selatan melakukan rappelling di Air Terjun Sisundung setinggi 23 meter di Kecamatan Angkola Barat, Sumatera Utara.
Peserta canyoneering Tapanuli Selatan menuruni tebing di bawah derasnya aliran Air Terjun Sisundung, Kecamatan Angkola Barat. Wisata petualangan yang menggabungkan teknik rappelling dan eksplorasi alam ini menjadi daya tarik baru bagi pencinta adrenalin di Sumatera Utara. Foto: ANTARA/Kodir Pohan

Topikseru.com, Tapanuli Selatan – Derasnya aliran air yang jatuh dari ketinggian sekitar 23 meter di Air Terjun Kembar Sisundung, Kecamatan Angkola Barat, kini tidak hanya menjadi daya tarik bagi pencinta wisata alam.

Kawasan yang selama ini dikenal karena keindahan panoramanya tersebut mulai menawarkan pengalaman baru yang memacu adrenalin melalui aktivitas canyoneering.

Wisata petualangan ini memberikan sensasi berbeda bagi pengunjung. Tidak sekadar menikmati pemandangan, peserta diajak menaklukkan tebing dan aliran air terjun dengan teknik khusus menggunakan tali pengaman. Perpaduan antara tantangan fisik dan keindahan alam membuat aktivitas ini mulai menarik perhatian wisatawan dari berbagai kalangan.

Canyoneering atau canyoning merupakan olahraga alam terbuka yang menggabungkan berbagai aktivitas petualangan seperti trekking, memanjat, melintasi bebatuan, berenang, hingga rappelling atau menuruni tebing dengan bantuan peralatan keselamatan.

Di sejumlah daerah di Indonesia, aktivitas ini telah berkembang menjadi salah satu wisata minat khusus yang diminati para pencinta tantangan.

Di Tapanuli Selatan, pengembangan wisata canyoneering dipelopori oleh komunitas pecinta alam bersama pemandu wisata lokal. Air Terjun Sisundung menjadi lokasi pertama yang dibuka untuk umum dan diharapkan menjadi pintu masuk berkembangnya wisata petualangan di wilayah tersebut.

Standar Keselamatan Ketat

Meski dikenal sebagai wisata yang memacu adrenalin, aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap kegiatan canyoneering di Air Terjun Sisundung.

Pengelola dari KPA Forester, Decky seperti yang dilansir dari Antara, menjelaskan bahwa seluruh peserta wajib menggunakan perlengkapan keselamatan sesuai standar, mulai dari helm, harness, tali pengaman, hingga perlengkapan pendukung lainnya. Selain itu, setiap kegiatan selalu didampingi instruktur yang memahami teknik dasar maupun prosedur keselamatan selama berada di lokasi.

Sebelum memulai aktivitas, peserta juga mendapatkan pengarahan mengenai penggunaan peralatan dan teknik dasar menuruni tebing. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh peserta memahami prosedur yang harus dijalankan selama kegiatan berlangsung.

Menurut Decky, wisata canyoneering memang menawarkan tantangan tersendiri, namun risiko dapat diminimalkan melalui penerapan standar operasional yang tepat serta pendampingan oleh tim yang berpengalaman.

Pendekatan ini menjadi penting karena sebagian besar peserta yang datang bukan hanya berasal dari komunitas pecinta alam, tetapi juga masyarakat umum yang ingin merasakan pengalaman baru di alam terbuka.

Peminat Terus Bertambah

Sejak diperkenalkan kepada publik, minat masyarakat terhadap wisata canyoneering di Tapanuli Selatan terus menunjukkan tren positif.

Aktivitas yang digelar secara rutin setiap akhir pekan tersebut mulai dikenal luas melalui media sosial dan promosi dari komunitas pecinta alam. Banyak pengunjung yang tertarik mencoba sensasi menuruni air terjun secara langsung, sesuatu yang selama ini hanya mereka lihat melalui video atau dokumentasi wisata petualangan dari daerah lain.

Tidak hanya kalangan muda, peserta yang datang juga berasal dari berbagai latar belakang profesi. Sebagian besar mengaku tertarik karena ingin mendapatkan pengalaman berbeda dari wisata konvensional yang hanya berfokus pada menikmati pemandangan.

Antusiasme tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah pemesanan peserta. Hingga saat ini, jadwal kegiatan disebut telah terisi penuh sampai akhir Juli 2026.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tren wisata berbasis pengalaman atau experience tourism mulai berkembang di Tapanuli Selatan. Wisatawan kini tidak hanya mencari tempat yang indah untuk dikunjungi, tetapi juga aktivitas yang memberikan kesan mendalam dan pengalaman yang sulit dilupakan.

Untuk mengikuti kegiatan canyoneering di Air Terjun Sisundung, peserta dikenakan biaya promosi sebesar Rp95 ribu per orang hingga akhir Juni 2026. Mulai 1 Juli mendatang, tarif akan disesuaikan menjadi Rp120 ribu per orang.

Destinasi Baru Sedang Disiapkan

Keberhasilan pengembangan canyoneering di Air Terjun Sisundung mendorong pengelola untuk memperluas destinasi wisata petualangan di Tapanuli Selatan.

Saat ini, tim telah melakukan survei di Air Terjun Siadiasi yang berada di kawasan Desa Padang Lancat. Air terjun tersebut diperkirakan memiliki ketinggian sekitar 30 meter dan dinilai memiliki karakter alam yang sangat mendukung untuk aktivitas canyoneering.

Selain itu, Goa Aek Badak Julu di Kecamatan Sayur Matinggi juga masuk dalam daftar lokasi yang akan dikembangkan. Kawasan tersebut memiliki potensi besar sebagai destinasi eksplorasi alam karena menawarkan lanskap yang masih alami dan belum banyak dikenal wisatawan.

Kedua lokasi tersebut ditargetkan mulai diperkenalkan kepada publik pada awal Juli 2026 setelah seluruh proses survei dan persiapan teknis selesai dilakukan.

Dengan bertambahnya pilihan destinasi, Tapanuli Selatan berpeluang menjadi salah satu pusat wisata petualangan baru di Sumatera Utara yang mampu menarik wisatawan dari berbagai daerah.

Potensi Ekonomi Daerah

Di balik sensasi petualangan yang ditawarkan, wisata canyoneering juga menyimpan potensi ekonomi yang cukup menjanjikan bagi masyarakat sekitar.

Meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan dapat menciptakan peluang usaha baru, mulai dari jasa pemandu wisata, penyewaan perlengkapan, transportasi lokal, hingga sektor kuliner dan penginapan. Kehadiran wisatawan secara berkelanjutan juga dapat mendorong perputaran ekonomi di desa-desa sekitar lokasi wisata.

Namun demikian, pengembangan sektor ini masih menghadapi tantangan, terutama terkait infrastruktur. Sejumlah akses menuju lokasi wisata masih memerlukan perhatian lebih karena kondisi jalan yang belum sepenuhnya memadai.

Apabila dukungan infrastruktur dan promosi wisata terus ditingkatkan, canyoneering diyakini mampu menjadi salah satu ikon wisata unggulan Tapanuli Selatan. Tidak hanya memperkaya pilihan destinasi wisata alam di Sumatera Utara, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat setempat.

Dengan kekayaan alam yang dimiliki, Air Terjun Sisundung dan sejumlah destinasi lain yang sedang dipersiapkan berpotensi menjadi magnet baru bagi wisatawan pencinta petualangan. Ke depan, Tapanuli Selatan tidak hanya dikenal karena panorama alamnya yang memikat, tetapi juga sebagai tujuan wisata yang menawarkan pengalaman menantang dan berkesan. (ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *