Edukasi

Filosofi Hidup TD Pardede, Raja Tekstil dari Medan yang Memilih Hidup Miskin

×

Filosofi Hidup TD Pardede, Raja Tekstil dari Medan yang Memilih Hidup Miskin

Sebarkan artikel ini
Filosofi Hidup TD Pardede
Tumpal Dorianus Pardede atau TD Pardede yang karib disapa "Katua". Foto: Repro buku "75 Tahun T.D. Pardede

Ringkasan Berita

  • T.D Pardede (1991), pria asal Tapanuli Utara (Taput), ini menganut filosofi hidup sederhana.
  • Tumpal Dorianus Pardede kecil, dalam Apa dan Siapa Sejumlah orang Indonesia 1985 – 1986, menyebut gemar bermain keler…
  • Beranjak usia 7 tahun, dia membagi waktu untuk sekolah, berjualan dan belajar agama.

TOPIKSERU.COM, – “Orang Kaya Harus Belajar Miskin“, adalah filosofi hidup yang dipegang teguh oleh Tumpal Dorianus Pardede atau yang dikenal dengan nama TD Pardede.

Dalam buku Paparan 75 Tahun Dr. T.D Pardede (1991), pria asal Tapanuli Utara (Taput), ini menganut filosofi hidup sederhana.

Pendidikannya tidak tinggi, tetapi lini bisnisnya menjalar dan tumbuh di mana-mana. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan “ketua” yang dalam logat Batak melafalkan “katua”.

TD Pardede pada masa jayanya terkenal sebagai “Raja Tekstil” atau “Raja Uang”. Dia juga tercatat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia di dua zaman, yakni era Soekarno dan Soeharto.

Bakat bisnis pria kelahiran Balige, 16 Oktober 1916 ini memang sudah muncul sejak masih berusia belia. Tumpal Dorianus Pardede kecil, dalam Apa dan Siapa Sejumlah orang Indonesia 1985 – 1986, menyebut gemar bermain kelereng dan kerap menang. TD Pardede sering terlihat muncul di pasar untuk menjual kelereng hasil kemenangannya.

Dari hasil menjual kelereng, Pardede mendapat uang jajan. Sebagian uang itu dia tabung. Beranjak usia 7 tahun, dia membagi waktu untuk sekolah, berjualan dan belajar agama.

Tumpal Dorianus Pardede hanya menamatkan pendidikan formal sampai tingkat Hollandsch Inlandsche School (HIS), sekolah dasar bagi anak-anak pribumi di Balige. Namun, Pardede banyak belajar dari pengalaman di lapangan saat bekerja di perkebunan di Sumatra Timur.

Membangun Pabrik Tekstil

Beranjak dewasa, TD Pardede beralih menjadi pedagang gula merah dan garam di Balige. Kala itu masa pendudukan Jepang, tak jarang dalam menjalankan usahanya dia mendapat perlakuan kasar dari tentara Jepang. Pukulan dan tempeleng dari tentara penjajah turut menghiasi perjalanannya membangun bisnis.

Waktu berjalan, kegigihan Pardede membuahkan dengan menguasai hampir seluruh pasar yang ada di Tapanuli dan melampaui dominasi para pedagang Tionghoa kala itu.

Pada masa revolusi kemerdekaan Tumpal Dorianus Pardede ikut berjuang sebagai perwira dagang. Dia bertugas di bagian perbekalan dan logistik. Hasil penjualan beras yang dia bawa dari Tapanuli ke Pekan Baru disisihkan untuk biaya perjuangan dan memberi makan pasukan.

Di tahun 1949 Pardede berhenti dari dinas ketentaraan dan kembali ke dunia bisnis. Namun, saat itu Pardede menyaksikan penderitaan masyarakat. Banyak masyarakat hanya berkaus kutang atau singlet. Dari kondisi ini lah TD Pardede mendapat ide untuk membangun pabrik tekstil khususnya kaus singlet.

Mimpi Pardede membangun pabrik tekstil akhirnya terwujud dengan berdirinya Knitting Factory T.D. Pardede di Medan. Pabrik ini memproduksi kaus pertama dengan merek Surya.

Raja Uang yang Pilih Hidup Miskin

Bergelimpangan harta dan lini bisnis yang tumbuh pesat tak membuat TD Pardede melupakan filosofi hidup yang dia anut, yakni miskin dan kesederhanaan.

Dia mengajarkan bahwa saat mendapat keberlimpahan harta harus mengingat perjuangan saat masih belum berpunya.

Menjadi orang kaya bukan berarti harus pamer. Kata Pardede, setiap orang kaya harus ingat bahwa rezeki itu berasal dari Tuhan.

Berkat filosofi seperti ini, Pardede cukup dihormati di Indonesia, terutama warga Sumatera Utara.
Sosok TD Pardede juga filantropi. Dia turut membangun beberapa fasilitas umum seperti rumah sakit, tempat ibadah dan sekolah bagi warga Medan.

Kiprah Tumpal Dorianus Pardede berhenti pada 18 November 1991 karena wafat di Singapura.

Tempo (26 Maret 1994) mewartakan sebelum wafat, ‘raja uang’ ini membuat wasiat agar seluruh harta tak dibagikan kepada anak-anaknya.