Pariwisata

Pandaratan, Kawasan Mistis yang Kini Tampil Manis

×

Pandaratan, Kawasan Mistis yang Kini Tampil Manis

Sebarkan artikel ini
Lanskap Pandaratan, objek wisata di Tapanuli Tengah
Lanskap Pandaratan, objek wisata di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Foto: Damai Topikseru.com/ Damai Mendrofa

Ringkasan Berita

  • Jalanan di Kelurahan Pondok Batu, Kecamatan Sarudik, Tapanuli Tengah masih lengang di akhir pekan lalu.
  • Jalur ini, merupakan akses menuju objek wisata yang kini sedang berbenah.
  • Pasalnya, setelah melintasi tempat pengambilan tiket masuk yang dijaga beberapa warga lokal, jalur diawali dengan tan…

TOPIKSERU.COM, TAPTENG – Terik menyengat meski jam masih menunjuk pukul 10:00 WIB: masih terbilang pagi. Jalanan di Kelurahan Pondok Batu, Kecamatan Sarudik, Tapanuli Tengah masih lengang di akhir pekan lalu. Jalur ini, merupakan akses menuju objek wisata yang kini sedang berbenah. Namanya Pandaratan.

Terletak di tepi pantai. Menuju ke lokasi ini memang sedikit menantang. Pasalnya, setelah melintasi tempat pengambilan tiket masuk yang dijaga beberapa warga lokal, jalur diawali dengan tanjakan dan berbatu. Sedikit menikung di puncak bukit.

Berhentilah sejenak, karena sajian sudah dimulai. Dari puncak ini, terhampar perpaduan lanskap Pandaratan yang memesona. Di kejauhan tampak Pulau Poncan Gadang dan Poncan Ketek. Pulau-pulau bersejarah bagi Kota Sibolga.

Permukaan air laut terlihat dalam guratan-guratan bergelombang yang dilintasi kapal atau perahu nelayan. Belasan bagan-bagan pancang tersusun acak. Sementara di bagian pantai terdapat kawasan Mangrove menghijau terhampar: walau hanya sedikit.

Pasir putih di Pantai Pandaratan. Foto: Topikseru.com/ Damai Mendrofa
Pasir putih di Pantai Pandaratan. Foto: Topikseru.com/ Damai Mendrofa

Belum berhenti. Di sisi kanan bukit, panorama lain tak kalah asik. Beragam bangunan berbaris mengikut garis pesisir Kota Sibolga. Rumah warga, Pelabuhan Sambas yang terus sibuk, nelayan yang hilir mudik dengan perahu kecilnya, serta pelabuhan-pelabuhan perikanan yang dipadati kapal yang sedang melabuh jangkar.

Hmmmm… Bayangkan, betapa aduhainya menikmati paduan keindahan itu saat Sunset bergelayut.

Puas dengan lanskap Pandaratan, perjalanan berlanjut dengan kontur jalan bergelombang menurun. Pelan-pelan saja. Tapi jangan khawatir, melintasi jalur sedikit ekstrim itu tak butuh waktu lama, hanya sekitar 5 menit. Setelahnya, jalan mulai rata dengan material pasir.

Mendekati bibir pantai, sajian baru menanti. Belasan lokasi bersantai yang dikelola warga sekitar berjejer. Terdapat juga warung-warung yang menyediakan menu minuman dan makanan. Silahkan memilih tempat bersantai yang nyaman. Tunggu, tempat bersantai lesehan tidak saja berbentuk pondokan, tapi juga beragam jenis ayunan.

Mulai Dikelola Sejak 2020

Lindung Marbun, satu dari antara belasan pengelola warung dan tempat bersantai di Pandaratan. Pria berusia 46 tahun sedang menggergaji papan bekas saat Topikseru.com belum lama ini berkunjung ke warungnya.

“Mau buat tempat (booth-red) foto, rencana di pantai bang, yang genangannya agak rendah. Biar bisa tamu bisa foto-foto bang,” ucap Lindung dengan ramah.

Lindung Marbun, salah seorang pengelola wisata di Pandaratan. Foto: Topikseru.com/ Damai Mendrofa
Lindung Marbun, salah seorang pengelola wisata di Pandaratan. Foto: Topikseru.com/ Damai Mendrofa

Lindung menata tepian pantai sedemikian rupa. Tempat duduk berkonsep lesehan atau tempat duduk biasa dengan meja, ayunan dan beberapa lokasi swafoto. Misalnya booth foto berlatar kayu tua yang ia temukan terdampar di pantai. Kayu itu berbentuk unik. Lindungnpun mengecatnya, lantas menyusunnya membentuk persegi empat.

Ia mengaku, mengelola lokasi itu sejak tahun 2020. Ihwalnya, Lindung memang sudah biasa datang ke Pandaratan, bahkan sejak usia remaja. Dulu pantai ini menjadi tempat mendarat kapal-kapal nelayan. Dari sana pula, nama pantai ini popular menjadi Pandaratan.

Penuturan Lindung, selain penduduk lokal dan para nelayan, pantai ini sejak lama kerap menjadi tempat berkunjung anak-anak muda. Mereka sekedar bermain, mandi atau bersantai.

Lalu satu waktu, ia mengajak beberapa kerabat dan istrinya. Lindung mengaku para kerabatnya menyukai lokasi tersebut. Dari sana, terbersit ide untuk menjadikan tempat itu sebagai tempat wisata. Para kerabat dan istrinya pun mendukung ide itu.

“Dari sanalah awalnya, walau kondisi keuangan pas pasan, tapi ada keluarga yang mau bantu, dikumpulin lah modalnya, dan mulai mendirikan pondok,” tutur Lindung.

Cerita-cerita Mistis

Pandaratan masih terus berbenah. Meski dengan keterbatasan, misalnya sumber listrik yang masih mengandalkan mesin genset. Namun, untuk akses air, Lindung mengaku telah menemukan sumber yang tepat. Yakni dari mata air perbukitan di kawasan Pandaratan.

Mata air itu ia alirkan menggunakan pipa hingga ke toilet tak jauh dari pondokan yang ia bangun. Toilet yang juga ia sediakan untuk digunakan para pengunjung.

Lindung mengaku, mata air itu bagaikan berkah sekaligus menjadi pengingat khususnya buat dirinya, tentang pentingnya menjaga kawasan Pandaratan.

Ayam Jantan berwarna putih yang disebut sebagai sesajen yang dilepas pengunjung di Pandaratan. Foto: Topikseru.com/ Damai Mendrofa
Ayam Jantan berwarna putih yang disebut sebagai sesajen yang dilepas pengunjung di Pandaratan. Foto: Topikseru.com/ Damai Mendrofa

“Awalnya dulu, pas waktu saya membersihkan tempat ini dan mendirikan pondoklah, ada yang membisikkan di telinga saya, untuk melihat air di bukit, gak ada orang, tapi saya mendengar jelas bisikan itu,” tutur Lindung.

Baca Juga  Mengunjungi Museum Fansuri di Desa Jago-jago

Mendapatkan bisikan itu, Lindung mengaku menurut. Ia lantas menyusuri rimbun hutan Mangrove yang menjadi akses satu-satunya kala itu menuju sumber mata air. Benar saja, Lindung menemukan mata air itu dan mulai mengalirkannya.

Selang beberapa hari, peristiwa tak kalah aneh kembali terjadi. Seorang kakek, berperawakan bungkuk dengan rambut putih mendatanginya dan bertanya soal sumber air itu. Mendapatkan penjelasan dari Lindung, sang kakek pun menitipkan pesan.

“Cuma kamulah yang bisa mengalirkan air ke pinggir pantai ini, kalau ada seandainya orang tersapo (kesambet-red) minumkan saja air ini sama dia, pasti sembuh,” kata Lindung menirukan ucapan si Kakek.

Kini, Lindung agaknya merasakan ucapan konon si kakek. Pernah, ada remaja yang tertusuk ekor ikan Pari. Tanpa fikir panjang, Lindung membawa air dan membasuhkannya di kaki remaja itu.

“Bukan apa bang, sembuh kakinya. Gak langsung sembuh memang, tapi sakitnya reda. Padahal kalau kena ekor Pari kan bahaya. Jadi, gak tahu memang, teringat saja kata-kata oppung itu soal air. Ya kubuatkan. Dan terbukti pula,” urai Lindung.

Kisah mistis Pandaratan tidak itu saja. Entah sejak kapan, ada saja yang datang bukan sekedar berkunjung. Tapi melakukan ritual. Mereka membawa sesajen, menabur bunga atau makanan. Bahkan melepas ayam putih.

“Itu ayamnya bang. Ya, berkeliaran di sini. Ada dua ekor itu, yang satunya lagi entah kemana. Ya dibiarin saja, gak ada yang ganggu (ayam) itu bang,” kata Lindung.

Pengunjung Kian Ramai

Meski terangkai dalam beberapa cerita mitos, Pandaratan tak tergambarkan secara angker, apalagi menakutkan dan berbahaya. Lindung menuturkan, pengunjung yang datang ke tempat ini dari waktu ke waktu kian ramai. Bahkan, sering kali para pelajar dan mahasiswa menjadikan tempat ini sebagai tempat kemping.

Apalagi, kata Lindung untuk datang ke Pandaratan tidak sesulit dulu. Kendaraan roda dua dan empat sudah dapat parkir tak jauh dari tempat para pengelola wisata.

Booth foto dari kayu terdampar di pantai yang dibentuk oleh Lindung Marbun. Foto: Topikseru.com/ Damai Mendrofa
Booth foto dari kayu terdampar di pantai yang dibentuk oleh Lindung Marbun. Foto: Topikseru.com/ Damai Mendrofa

“Kalau pengunjung tidak hanya dari Tapteng dan Sibolga bang, dari Medan pun pernah. Bahkan ada pengunjung tetap itu bang, dari Sidimpuan, datang akhir pekan hanya untuk istirahat. Nanti dia tidur di ayunan, anaknya main di pantai, udah selesai main anaknya, mereka pulang,” kata Lindung.

Potensi Wisata Mangrove

Selain panorama keindahan dan suasana yang nyaman, Pandaratan menyimpan potensi lain yang layak untuk dikelola. Yakni hutan Mangrove. Pasalnya, selain tutupan hutan, terdapat sebentuk danau kecil, dan pohon-pohon mangrove mengelilinginya.

Meski terbilang dalam luasan yang sedikit, namun hutan ini tentu layak mendapatkan sentuhan pengembangan. Tentu, ide pengembangan tersebut dalam konsep wisata yang ramah dan berkelanjutan. Mengingat Mangrove menjadi satu aspek penting yang harus dijaga di kawasan pesisir.

Lindung Marbun saat menunjukkan Hutan Mangrove di Pandaratan. Foto: Topikseru.com/ Damai Mendrofa
Lindung Marbun saat menunjukkan Hutan Mangrove di Pandaratan. Foto: Topikseru.com/ Damai Mendrofa

Lindung mengakui, dalam proses berkembangnya Pandaratan hingga saat ini, Mangrove belum menjadi perhatian khusus. Kendati, ia dan sejumlah pengelola lain beberapa kali pernah terlibat diskusi tentang bagaimana pengembangan terhadap hutan tersebut.

“Apalagi memang hutan ini ada punya, jadi kalau mau ada pengelolaan, ya harus diskusi dulu. Tapi saya yakin, yang punya itu mungkin akan terbuka untuk kerjasama,” kata Lindung.

Butuh Dukungan dan Pembenahan

Menjaga Pesona Pandaratan, tentu membutuhkan dukungan banyak pihak. Tidak saja soal sarana dan prasara yang lebih mendukung bergeraknya aktifitas ekonomi. Tapi, juga upaya menjaga kelestarian dan terwujudnya pengelolaan wisata berkelanjutan.

Misalnya, dukungan terciptanya pengelolaan pantai yang lebih ramah. Kawasan Mangrove yang lebih terjaga serta pengelolaan sampah yang lebih bertanggungjawab.

Ekspektasi tersebut agaknya dapat terwujud pada masa mendatang. Lindung dan sejumlah pengelola lain, saat ini telah membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan menjadi mitra binaan dari Dinas Pariwisata Tapanuli Tengah.

Sementara, baru-baru ini, pihak Bank Indonesia juga telah datang berkunjung untuk bertemu pengurus Pokdarwis dan membahas tentang peluang kerjasama ke depan. Tidak itu saja, pengelola Bank Sampah Yamantab (BSY) juga telah bertemu dengan para pengurus dalam satu kegiatan pelatihan pembuatan kerajinan tangan dari sampah sachet.