Daerah

Pasar Pandan 20 Tahun Terbengkalai, Pedagang Tetap Berjualan Meski Sepi Pembeli

×

Pasar Pandan 20 Tahun Terbengkalai, Pedagang Tetap Berjualan Meski Sepi Pembeli

Sebarkan artikel ini
Pasar Pandan
Boru Aritonang (61), seorang pedagang di Pasar Pandan Tapteng yang tetap menjajakan jualan meski kondisi sepi, Sabtu (4/1). Foto: Topikseru.com/ Jasman Julius

Ringkasan Berita

  • Mirisnya, pasar tradisional ini hampir 20 tahun terbengkalai dan tidak ter-manajemen dengan baik.
  • Padahal ada banyak pedagang yang menggantungkan hidup di pasar ini.
  • Seperti halnya yang diungkapkan seorang pedagang Boru Aritonang (61) yang setiap pekan selalu berjualan di Pasar Pandan.

TOPIKSERU.COM, TAPTENG – Pasar Pandan yang berada di kawasan Terminal Baru, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, kondisinya sangat memprihatinkan. Padahal ada banyak pedagang yang menggantungkan hidup di pasar ini.

Mirisnya, pasar tradisional ini hampir 20 tahun terbengkalai dan tidak ter-manajemen dengan baik. Kondisi ini berdampak pada pendapatan pedagang yang saban hari berjualan di sini.

Saat topikseru.com menyambangi kawasan ini, belum ada tanda-tanda yang terlihat bahwa Pasar Pandan dan Terminal Baru itu segera difungsikan.

Kawasan yang semestinya menjadi penggerak roda ekonomi masyarakat ini hanya aktif dua kali dalam sepekan, yakni saat pasar dibuka pada Selasa dan Sabtu.

Pasar Pandan di Tapanuli Tengah tak bernasib mujur seperti pasar tradisional yang ada di negara Jiran Malaysia. Meski memiliki nama yang sama, Pasar Pandan di Johor Bahru, Malaysia, sukses menjadi nadi ekonomi.

Kendati demikian, para pedagang yang menggantungkan hidup di Pasar Pandan Tapteng tak surut semangat. Meski kondisi pasar sepi pembeli, mereka tetap menjajakan jualannya.

Seperti halnya yang diungkapkan seorang pedagang Boru Aritonang (61) yang setiap pekan selalu berjualan di Pasar Pandan.

Meski telah menjajakan jualan hampir 20 tahun di pasar tersebut, Boru Aritonang masih berharap pasar tradisional di Tapanuli Tengah ini kembali bergairah.

“Sudah 20 tahun saya jualan di sini, tetapi belum ada tanda-anda pasar ini akan ramai,” ucap Boru Aritonang.

Dia menceritakan bahwa pasar ini telah menjadi tempat menggantungkan hidup sehari-hari.

Namun, kondisi pasar yang sepi membuat Boru Aritonang tidak berharap yang lebih, untuk dapat memenuhi hidup sudah cukup baginya. Kadang ketika ada rezeki dapat untung lebih itu yang dilipat dan ditabung.

Baca Juga  Nikita Willy Melahirkan Anak Kedua di AS dengan Metode Persalinan Water Birth
Pasar Pandan
Suasana Pasar Pandan di kawasan Terminal Baru di Kabupaten Tapteng, yang terpantau lengang. Foto: Topikseru.com/ Jasman Julius

“Suami saya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Jadi, tidak ada pilihan lain selain bertahan berjualan di sini,” ujar Boru Aritonang.

“Memang dapat kiriman dari anak-anak, tapi tidaklah cukup, karena masih ada tanggungan satu orang lagi anak yang masih sekolah,” imbuhnya.

Ibu enam orang anak ini tidak tahu pasti mengapa Pasar Pandan dan Terminal Baru tersebut belum diaktifkan.

Namun, sebagai pedagang dia berpendapat bila pemerintah mengaktifkan terminal sehingga angkutan kota (angkot) masuk ke terminal, pedangan seperti dirinya pasti akan ketiban rezeki.

“Bila jalur angkot dialihkan melalui pasar Pandan dan pasar pandan lama dipindahkan, pasti pasar ini akan ramai,” kata Boru Aritonang.

Baik Boru Aritonang maupun pedagang lain yang menggantungkan hidup di pasar tradisional itu, hanya bisa berharap suara mereka bisa didengar. Selebihnya, mereka berpasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai pemberi rezeki.

Mereka juga bersyukur masih bisa menjajakan jualan dua hari dalam sepekan, yakni di hari Selasa dan Rabu. Namun, pembeli di pasar ini tidak lah ramai, sehingga tak jarang pedagang pulang dengan pendapatan seadanya setelah dipotong retribusi kepada Pemda.

“Pendapatan enggak menentu, kadang dapat sedikit ya itu lah untuk biaya hidup. Tapi kadang juga ada yang enggak laku. Kalau enggak laku kita bawa pulang lagi, mau gimana lagi,” ucap Boru Aritonang.

Dia bersama pedagang lain menyampaikan harapan kepada pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah. Mereka berharap pemerintahan baru kelak bisa memperhatikan nasib para pedagang.

“Masinton -Mahmud (MaMa) tolong perhatikan kami pedagang ini. Semoga janji kampanye dalam membenahi Tapteng dapat direalisasikan, agar Tapteng ini bisa seperti apa yang disampaikan itu (naik kelas),” pungkasnya.