Ringkasan Berita
- Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga terkoreksi ke Rp 16.325 per dolar…
- PMI Jasa AS Cetak Rekor Tertinggi Sejak Desember Berdasarkan data S&P Global US Flash PMI, Indeks Output Komposi…
- Indeks Output Manufaktur turun ke 51,2 dari 52,1.
Topikseru.com – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di akhir pekan ini.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva menyebut, salah satu biang pelemahan kurs adalah kokohnya kinerja sektor jasa di AS yang tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Jasa yang tetap solid.
“Rupiah kembali mengalami pelemahan. Ini dipicu penguatan dolar AS yang tertahan setelah rilis data ekonomi AS yang beragam. PMI manufaktur memang melemah, tetapi sektor jasa tetap kuat menopang greenback,” kata Taufan melansir Antara, Jumat, 25 Juli 2025.
Pada penutupan perdagangan Jumat di Jakarta, rupiah melemah 25 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp 16.320 per dolar AS.
Sebelumnya, rupiah masih bertengger di level Rp16.295 per dolar AS. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga terkoreksi ke Rp 16.325 per dolar AS, dari posisi sehari sebelumnya di Rp 16.283 per dolar AS.
PMI Jasa AS Cetak Rekor Tertinggi Sejak Desember
Berdasarkan data S&P Global US Flash PMI, Indeks Output Komposit PMI AS naik dari 52,9 pada Juni menjadi 54,6 di bulan ini.
Lonjakan itu ditopang sektor jasa yang mencatat aktivitas bisnis tertinggi sejak Desember 2024. PMI Sektor Jasa naik ke 55,2 dari 52,9.
Sebaliknya, sektor manufaktur AS justru menunjukkan perlambatan. Indeks Output Manufaktur turun ke 51,2 dari 52,1.
PMI Manufaktur AS bahkan terkontraksi ke zona di bawah 50, turun menjadi 49,5 dari sebelumnya 52,9.
Ekspektasi The Fed, Peluang Rupiah Stabil
Taufan menilai, meskipun data jasa mendongkrak dolar, pasar juga melihat peluang bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan mendatang. Kebijakan ini dinilai bisa memberi ruang bagi mata uang emerging markets, termasuk rupiah, untuk bernapas.
“Ekspektasi The Fed tidak agresif menahan laju penguatan dolar. Pasar juga masih menanti data Durable Goods Orders AS yang bisa mempengaruhi arah dolar dalam jangka pendek,” jelas Taufan.
Di pasar domestik, Bank Indonesia diharapkan tetap sigap menjaga stabilitas kurs dengan intervensi ganda di pasar valas dan obligasi negara.









