Ringkasan Berita
- Kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin (BTC) hari ini terlihat naik tajam 2,09% dalam 24 jam terakhir.
- Revisi tersebut datang setelah data tenaga kerja AS awal pekan ini menunjukkan koreksi besar, dengan 911 ribu lapanga…
- Menurut Skew, analis pasar kripto, tren inflasi produsen biasanya tertinggal 1–3 bulan dari inflasi konsumen (CPI).
Topikseru.com – Pada perdagangan Kamis (11/9/2025) pukul 6.10 WIB, kapitalisasi pasar kripto global turun 1,7% menjadi US$ 3,94 triliun dalam 24 jam.
Kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin (BTC) hari ini terlihat naik tajam 2,09% dalam 24 jam terakhir.
Saat ini, harga Bitcoin di level US$ 113.885 per koin atau setara Rp 1,87 miliar (kurs, Rp 16.447).
Pasar kripto melesat dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin (BTC) hari ini naik tajam setelah data inflasi produsen Amerika Serikat (AS) atau Producer Price Index (PPI) dirilis jauh lebih rendah dari perkiraan.
Penguatan juga terjadi pada Ethereum (ETH) sebesar 0,71% menjadi US$ 4.346, XRP terkerek 0,98% menjadi US$ 2,97, Binance (BNB) naik 1,11% menjadi US$ 892, Solana melonjak 3,17% menjadi US$ 223, dan Dogecoin (DOGE) melesat 1,37% menjadi US$ 0,24.
Berdasarkan data yang dilansir dari Cointelegraph, harga Bitcoin kembali melesat setelah data inflasi produsen Amerika Serikat (AS) atau Producer Price Index (PPI) dirilis jauh lebih rendah dari perkiraan, sehingga memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.
Data PPI AS untuk Agustus turun menjadi 2,6% secara tahunan, lebih rendah dari konsensus 3,3%.
Sementara itu, PPI inti (tidak termasuk pangan dan energi) turun ke 2,8%, jauh di bawah perkiraan 3,5%.
Secara bulanan, PPI bahkan mencatat kontraksi, hanya kedua kalinya sejak Maret 2024. Selain itu, data inflasi Juli juga direvisi lebih rendah.
Revisi tersebut datang setelah data tenaga kerja AS awal pekan ini menunjukkan koreksi besar, dengan 911 ribu lapangan kerja dihapus dari laporan 12 bulan terakhir.
Suku Bunga The Fed
Analis menilai data tersebut semakin menguatkan kemungkinan The Fed segera memangkas suku bunga.
Menurut Skew, analis pasar kripto, tren inflasi produsen biasanya tertinggal 1–3 bulan dari inflasi konsumen (CPI).
Sehingga data CPI mendatang masih bisa menunjukkan angka yang lebih tinggi. Namun, tren jangka menengah tetap mengarah pada pelemahan inflasi.
Sejarah mencatat, Bitcoin kerap menunjukkan volatilitas jangka pendek saat The Fed memangkas suku bunga, tetapi kemudian cenderung reli.
Data CryptoQuant menunjukkan, pada Maret 2020, pemangkasan suku bunga membuat rasio Market Value to Realized Value (MVRV) jatuh mendekati 1, yang menandakan undervaluasi.
Saat itu, Whale Ratio juga melonjak karena aksi jual besar-besaran investor besar.
Volatilitas Bitcoin, Tantangan Investor
Namun, ketika likuiditas kembali membanjiri pasar, MVRV pulih dan whales beralih akumulasi, mendorong bull run 2020–2021.
Pola serupa terjadi pada akhir 2024 ketika siklus pelonggaran kembali dimulai.
Jika pola ini terulang, pemangkasan suku bunga The Fed pada 2025 bisa memicu gejolak jangka pendek, namun secara keseluruhan menciptakan kondisi likuiditas yang mendukung Bitcoin untuk kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) baru.













