BursaEkonomi dan Bisnis

Research Retail MNC Sekuritas: IHSG akan Menguji Support di Level 7.983 dan Resistance di 8.100

×

Research Retail MNC Sekuritas: IHSG akan Menguji Support di Level 7.983 dan Resistance di 8.100

Sebarkan artikel ini
IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis di pasar spot. IHSG turun 0,14% ke level 8.040,03, meski sempat menguat di awal sesi.

Ringkasan Berita

  • IHSG turun 0,14% ke level 8.040,03, meski sempat menguat di awal sesi.
  • Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai koreksi IHSG disertai tekanan jual.
  • Menurut Nafan, katalis pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) dan The Fed seharusnya menjadi angin segar bag…

Topikseru.com – Pada perdagangan Senin (22/9/2025) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis di pasar spot. IHSG turun 0,14% ke level 8.040,03, meski sempat menguat di awal sesi.

Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai koreksi IHSG disertai tekanan jual. Namun secara teknikal, IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatan.

“IHSG masih berpotensi naik ke rentang 8.098–8.155. Tetapi pada skenario terburuk, koreksi bisa cukup dalam ke level 7.383–7.534,” tulisnya dalam riset.

Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebut secara teknikal IHSG masih berada dalam tren positif.

Ia memperkirakan IHSG akan menguji support di level 7.983 dan resistance di 8.100.

Baca Juga  IHSG Meski Menguat di Akhir Pekan Tapi Justru Melemah Tipis Turun 16,23 Poin di Selama Sepekan

Menurut Nafan, katalis pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) dan The Fed seharusnya menjadi angin segar bagi perekonomian domestik serta pasar saham.

“Namun saat ini pelaku pasar menanti rilis data M2 Money Supply Agustus 2025, yang menjadi salah satu indikator penting stabilitas ekonomi nasional,” jelasnya.

Selain itu, penguatan harga emas juga memberi sentimen positif pada emiten pertambangan emas.

Goldman Sachs bahkan memproyeksikan harga emas bisa menembus US$ 5.000 per troi ons di tengah ketidakpastian global, termasuk dinamika politik Amerika Serikat dan geopolitik internasional.

“Hal ini akan menguntungkan emiten emas seperti ANTM, ARCI, BRMS, HRTA, MDKA, PSAB, UNTR, serta tambahan emiten baru EMAS,” ungkap Nafan.

Katalis lain yang ditunggu investor adalah pencatatan perdana saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), di Bursa Efek Indonesia (BEI).

IPO EMAS dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 23 September 2025, dan diperkirakan akan menambah warna pada sektor pertambangan emas di pasar modal.