Ekonomi dan Bisnis

Pedagang Pasar Halat Medan Keluhkan Sepinya Pembeli dan Beratnya Iuran Bulanan

×

Pedagang Pasar Halat Medan Keluhkan Sepinya Pembeli dan Beratnya Iuran Bulanan

Sebarkan artikel ini
Pasar Halat Medan
Aktivitas Masyarakat di Pasar Tradisional Halat, Kecamatan Medan Area, Kota Medan, Sumatera Utara, Rabu (24/9/2025), Foto: topikseru.com/Agus Sinaga

Topikseru.com – Sejumlah pedagang di Pasar Halat Medan, Kelurahan Kota Matsum IV, Kecamatan Medan Area, Kota Medan, mengeluhkan kondisi pasar yang semakin sepi pembeli. Situasi ini diperparah sejak gelombang aksi unjuk rasa pada akhir Agustus lalu, yang membuat aktivitas perdagangan kian lesu.

Farida (63), pedagang sayur yang sudah berjualan sejak tahun 1980, mengaku Pasar Halat tidak lagi seramai dulu. Bahkan, ia harus berpindah tempat setiap kali hujan turun karena atap pasar yang bocor.

“Kalau sepinya sudah lama, tapi semenjak ada demo-demo kemarin semakin sepi. Kalau hujan, ini kami kena, jadi pindah ke tempat kosong yang nggak dipakai pedagang lain,” kata Farida kepada Topikseru.com, Rabu (24/9/2025).

Sistem Iuran Memberatkan Pedagang

Pasar Halat Medan
Kondisi di Pasar Hala Medan, Rabu (24/9/2025). Foto: Topikseru.com/Agus Sinaga

Keluhan juga datang dari pedagang rempah-rempah, Ibu bre Tarigan. Ia mengaku sistem iuran bulanan pasar terasa berat di tengah kondisi pembeli yang semakin sedikit.

Baca Juga  Harga Bahan Pokok di Medan Melonjak Usai Banjir dan Longsor, Pasokan Seret di Sejumlah Pasar

“Kalau dulu perhari bisa kami bayar, sekarang kan sudah pakai perbulan. Kondisi sepi seperti ini, uangnya terpakai buat kebutuhan rumah tangga. Kalau sudah lapar, apa mau dibuat,” ujar Tarigan.

Menurutnya, beban iuran yang tidak sebanding dengan pendapatan membuat pedagang semakin kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi Pasar Sepi dan Tak Terawat

Pantauan Topikseru.com menunjukkan banyak lapak pedagang yang kosong dan tidak terisi. Suasana pasar tampak lengang, bahkan beberapa bagian fasilitas terlihat tidak terawat.

Kondisi ini menambah keresahan pedagang yang menggantungkan hidup dari aktivitas jual beli di pasar tradisional tersebut.