Ekonomi dan Bisnis

Digempur E-Commerce, Pedagang Pasar Pringgan Keluhkan Sepinya Pembeli

×

Digempur E-Commerce, Pedagang Pasar Pringgan Keluhkan Sepinya Pembeli

Sebarkan artikel ini
e-commerce
Aktivitas pedagang di Pasar Pringgan, Jln Iskandar Muda, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, Sumatera Utara, Jumat (26/9/2025), Foto: Topikseru.com/Agus Sinaga

Ringkasan Berita

  • Sembiring (41), pedagang Pasar Pringgan, menyebut kondisi ini sudah berlangsung cukup lama.
  • Beberapa lapak bahkan terlihat kosong karena minimnya aktivitas jual beli.
  • "Potongan untuk pedagang sampai 20%, ke driver juga 20%.

Topikseru.com – Sejumlah pedagang Pasar Pringgan, Kota Medan mengeluhkan kondisi pasar yang semakin sepi pembeli akibat pergeseran pola konsumsi masyarakat ke layanan e-commerce dan belanja online.

Sembiring (41), pedagang Pasar Pringgan, menyebut kondisi ini sudah berlangsung cukup lama. Beberapa lapak bahkan terlihat kosong karena minimnya aktivitas jual beli.

“Sudah lama kayak gini. Kalau pagi masih agak lumayan, tapi siang ke sore makin sepi,” ujar Sembiring saat ditemui Topikseru.com, Jumat (26/9/2025).

Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah maraknya platform belanja online yang menawarkan kemudahan transaksi hanya lewat ponsel.

“Orang-orang malas ke pajak, sekarang bisa belanja dari rumah. Kemarin sempat ada kerja sama juga, tapi tidak bertahan lama karena pedagang diminta menyediakan komoditas lengkap sesuai standar e-commerce,” jelasnya.

Baca Juga  Menteri Teten Beri Peringatan Tegas kepada TikTok, Segera!

Dia menambahkan, potongan biaya yang dikenakan e-commerce juga cukup besar.

“Potongan untuk pedagang sampai 20%, ke driver juga 20%. Berat bagi kami,” ucap Sembiring.

Pedagang Kurangi Pasokan Komoditas

Ibu Sinurat, pedagang sayuran, mengaku terpaksa mengurangi pasokan komoditas, khususnya cabai merah, karena daya beli masyarakat menurun.

“Biasanya bawa 10-20 kilogram cabai merah. Sekarang modal besar, tapi tidak laku, jadi dikurangi. Kadang cuma bawa 10 kilo pun tidak habis,” katanya.

Harga cabai merah di Pasar Pringgan kini bertahan di level Rp 85.000 per kilogram, dan sudah sepekan tidak berubah.

Meski demikian, para pedagang mengaku masih terbantu dengan iuran pasar yang ditetapkan PUD Pasar Medan, sehingga beban biaya operasional relatif ringan.

Fenomena ini menegaskan tantangan serius pasar tradisional menghadapi era digital. Dengan penetrasi e-commerce yang semakin kuat, pedagang konvensional dituntut beradaptasi agar tetap mampu bersaing.