BursaEkonomi dan Bisnis

Rupiah Spot Melemah 0,15% Terduduk di Posisi Rp16.690 Per Dolar AS Siang Ini

×

Rupiah Spot Melemah 0,15% Terduduk di Posisi Rp16.690 Per Dolar AS Siang Ini

Sebarkan artikel ini
Rupiah
rupiah spot melemah 0,15% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berada ke posisi Rp 16.690 per dolar AS di pasar spot.

Topikseru.com – Pada perdagangan Rabu (1/10/2025) rupiah spot melemah 0,15% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berada ke posisi Rp 16.690 per dolar AS di pasar spot.

Sebelumnya, pada Selasa (30/9/2025), rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,09% secara harian ke posisi Rp 16.665 per dolar AS.

Presiden Komisioner HFX Internasional Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, proyeksi pergerakan rupiah untuk hari ini kemungkinan akan didominasi oleh faktor eksternal Amerika Serikat.

Sentimen safe haven yang sempat menahan pelemahan rupiah akibat risiko government shutdown di AS kini menjadi pusat perhatian.

Jika Kongres gagal mencapai kesepakatan pendanaan dan penutupan benar-benar dimulai pada Rabu dini hari (waktu AS), dolar AS secara global mungkin akan melemah lebih lanjut, memberikan ruang bagi rupiah untuk kembali menguat.

Namun, jika terjadi kesepakatan menit-menit terakhir atau jika pasar mulai mengabaikan isu penutupan, perhatian akan langsung beralih ke ekspektasi pemotongan suku bunga The Fed.

“Mengingat kuatnya komitmen Bank Indonesia untuk melakukan intervensi, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang yang ketat, kemungkinan besar di sekitar level psikologis Rp 16.600 hingga Rp 16.750 per dolar AS pada Rabu (1/10),” ujarnya.

Rupiah Spot Dibuka Melemah Tipis 0,03% Dibuka Di Level Rp16.670 Per Dolar AS

rupiah di pasar spot dibuka melemah tipis di awal perdagangan hari ini. Rabu (1/10/2025), rupiah dibuka di level Rp 16.670 per dolar Amerika Serikat (AS).

Ini membuat rupiah melemah tipis 0,03% dibanding penutupan pada hari sebelumnya ke level Rp 16.665 per dolar AS.

Hingga pukul 09.00 WIB, mata uang di Asia bergerak bervariasi. Di mana, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah ambles 0,16%.

Berikutnya ada peso Filipina yang terkoreksi 0,11% dan yen Jepang yang tergelincir 0,04%. Disusul, dolar Singapura yang melemah tipis 0,02%.

Sementara itu, baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah terkerek 0,02%.

Kemudian ada yuan China dan dolar Taiwan yang sama-sama terkerek 0,01%. Diikuti, dolar Hongkong yang naik 0,009% di pagi ini.

Lalu ada ringgit Malaysia yang bergerak stabil dengan kecenderungan menguat terhadap the greenback.

Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia: Rupiah Spot Bisa Kembali ke Level 16.000 atau Bahkan Lebih Kuat

Pada perdagangan kemarin rupiah spot yang melemah hingga menyentuh kisaran Rp 16.700 per dolar AS dalam sepekan terakhir dinilai berlebihan.

Baca Juga  Rupiah Spot Menguat Tipis 0,05% Berada di Level Rp16.621 Per Dolar AS

Menanggapi hal tersebut, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menegaskan bahwa stabilitas rupiah bisa kembali pulih apabila koordinasi kebijakan moneter dan fiskal lebih koheren.

Menurut Fakhrul, salah satu tekanan utama bagi rupiah adalah minimnya kejelasan mengenai pemanfaatan arus dolar yang masuk ke Indonesia.

“Jika dolar milik WNI di luar negeri ditarik pulang, pertanyaannya adalah disalurkan ke instrumen apa, ke sektor mana, dan dengan syarat bagaimana. Tanpa kejelasan itu, pasar membaca kebutuhan dolar Indonesia di masa depan justru meningkat, terutama untuk pembayaran bunga,” jelasnya dalam keterangannya.

Ia menilai pemerintah bisa segera memperkuat pendalaman pasar keuangan dengan menghadirkan instrumen kredibel, seperti penerbitan global bond pemerintah atau obligasi dolar oleh BUMN strategis, misalnya Pertamina dan PLN.

Fakhrul mencatat, kebutuhan pembiayaan dolar sektor swasta saat ini menurun, yang terlihat dari loan to deposit ratio (LDR) non-rupiah perbankan di bawah 80%.

“Harus langsung ada prospek proyek dan pinjaman dolar yang jelas. Itu yang membuat pasar percaya bahwa dolar masuk ke Indonesia punya arah,” ujarnya.

Untuk menahan pelemahan rupiah, Fakhrul mengusulkan tiga langkah strategis.

-Pertama, Pemerintah, Pertamina, atau PLN segera menerbitkan dolar bond untuk menampung likuiditas.

-Kedua, bank-bank nasional yang memiliki likuiditas dolar diarahkan menyalurkan pinjaman ke pasar luar negeri, sejalan dengan misi penguatan BUMN perbankan.

-Ketiga, meninjau ulang kebijakan bunga deposito USD 4% yang dinilai memengaruhi ekspektasi pasar secara drastis.

Lebih jauh, Fakhrul menekankan pentingnya membangun pasar mata uang dan derivatif dalam negeri yang lebih dalam. Saat ini, Indonesia menghadapi keterbatasan aset berdenominasi dolar, baik dalam bentuk pinjaman maupun obligasi.

“Kita sudah berhasil menurunkan kebutuhan dolar lewat kewajiban penggunaan rupiah di berbagai transaksi. Ke depan, yang mendesak adalah memperluas instrumen pasar dan memperkuat analisis risiko,” tegasnya.

Meski saat ini rupiah masih berada di level Rp 16.700 per dolar, Fakhrul menilai kondisi tersebut sudah overshooting.

Dengan asumsi suku bunga AS akan turun dan neraca perdagangan Indonesia masih surplus besar, peluang penguatan rupiah cukup terbuka.

“Kalau kebijakan bisa dijalankan dengan koheren, rupiah bisa kembali ke level 16.000 atau bahkan lebih kuat. Jadi bukan saatnya membeli dolar sekarang,” pungkasnya.