Ekonomi dan Bisnis

Galeri Antik Medan: Cafe Retro yang Menjual Kopi, Buku Bekas, hingga 30.000 Kaset Pita Lawas

×

Galeri Antik Medan: Cafe Retro yang Menjual Kopi, Buku Bekas, hingga 30.000 Kaset Pita Lawas

Sebarkan artikel ini
Galeri Antik Medan
Pemilik Galeri Antik Medan, John Fawer Siahaan, saat ditemui di Jalan HM Joni Medan, Kota Medan, Rabu (1/10/2025). Foto: Topikseru.com/Agus Sinaga

Topikseru.com – Di tengah hiruk-pikuk kota, sebuah ruang nostalgia berdiri hangat di Jalan HM Joni, Kecamatan Medan Kota. Namanya Galeri Antik Medan, sebuah kafe bergaya retro yang memadukan aroma kopi, tumpukan buku bekas, dentingan musik lawas dari kaset pita dan vinyl, hingga asap cerutu lembut yang mengepul pelan.

Tempat ini bukan sekadar tempat ngopi, ia adalah museum hidup bagi para pencinta literatur dan kolektor audio vintage.

Kopi yang Dijual, Buku yang Laku

Pemilik Galeri Antik Medan, John Fawer Siahaan, mengaku terkejut dengan respons pengunjung sejak pembukaan resmi pada Sabtu lalu.

“Awalnya kupikir pemasukan harian datang dari kopi. Ternyata dari buku dan kaset pita duluan yang laku,” katanya kepada Topikseru.com, Selasa malam (30/9/2025).

John menyadari, Medan sedang haus akan toko buku alternatif, yakni tempat yang tenang, privat, dan jauh dari hiruk-pikuk toko buku besar.

Untuk saat ini, ia fokus menjual buku-buku bekas karena keterbatasan modal menghadirkan buku baru.

Dari Buku ke Kaset Pita: Koleksi Capai 30.000 Buah

Namun ada satu hal yang membuat Galeri Antik Medan berbeda dari toko buku second lain, yakni kehadiran 30.000 koleksi kaset pita lawas yang tertata rapi, dari pop, rock, hingga musik daerah.

Kenapa kaset?

“Lirik lagu-lagu lama itu tajam, banyak menggambarkan peristiwa zamannya. Karena banyak yang main di literasi buku, aku ambil jalur audio,” ungkap John.

Harga kaset pita di sini tak punya patokan baku, dimulai dari Rp 5.000 hingga Rp 750.000. Semua tergantung kelangkaan kaset dan kondisi musisinya.

“Kaset ini kayak dollar. Tiba-tiba Coldplay konser di sini, harganya naik. Artisnya meninggal, bisa naik lagi,” katanya sambil tertawa.

Buku dan Kaset, Investasi Emosional dan Finansial

Bagi John, bisnis ini bukan sekadar dagang barang bekas. Ia menyebutnya sebagai investasi rasa dan nostalgia. Tapi secara finansial? Tetap menguntungkan.

“Dulu aku beli buku Hukum Masyarakat Adat Batak seharga Rp 250 ribu. Belum sampai setahun, sudah jadi Rp 500 ribu. Buku itu investasi,” ujarnya.