BursaEkonomi dan Bisnis

Rupiah Spot Menguat 0,03% Berada di Level Rp16.567 Per Dolar AS Pagi Ini

×

Rupiah Spot Menguat 0,03% Berada di Level Rp16.567 Per Dolar AS Pagi Ini

Sebarkan artikel ini
Rupiah
rupiah spot menguat berada di level Rp 16.567 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 0,03% dari akhir pekan lalu yang ada di Rp 16.570 per dolar AS

Ringkasan Berita

  • Pukul 09.12 WIB rupiah spot menguat berada di level Rp 16.567 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 0,03% dari akhi…
  • Di Asia, mayoritas mata uang menguat terhadap dolar AS.
  • Baht Thailand mencatat kenaikan terbesar yakn 0,26%, disusul pesso Filipina yang naik 0,19%.

Topikseru.com – Pada perdagangan Senin (13/10/2025) pagi. Pukul 09.12 WIB rupiah spot menguat berada di level Rp 16.567 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 0,03% dari akhir pekan lalu yang ada di Rp 16.570 per dolar AS.

Di Asia, mayoritas mata uang menguat terhadap dolar AS. Baht Thailand mencatat kenaikan terbesar yakn 0,26%, disusul pesso Filipina yang naik 0,19%.

Yuan China menguat 0,08%, dolar Singapura naik 0,06%, dolar Hong Kong naik 0,04% dan rupiah naik 0,03% terhadap dolar AS.

Sedangkan mata uang Asia lainnya melemah terhadap dolar AS pagi ini. Yen Jepang melemah 0,44%, dolar Taiwan melemah 0,15%, won Korea melemah 0,08%, ringgit Malaysia melemah 0,007%.

Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 98,88, turun dari akhir pekan lalu yang ada di 98,97.

Analis Pasar: Indeks Dolar AS Dapat Berada di Posisi 101,70 Pada Akhir Tahun

Dolar AS
indeks dolar AS (DXY) tercatat di level 98,978, turun 0,56% secara harian. Namun menguat hampir 2% dalam sepekan, dan naik 1,35% dalam sebulan terakhir.

Pada perdagangan Jumat (10/10/2025), indeks dolar AS (DXY) tercatat di level 98,978, turun 0,56% secara harian. Namun menguat hampir 2% dalam sepekan, dan naik 1,35% dalam sebulan terakhir.

Indeks dolar Amerika Serikat (AS) sempat merangkak naik pada pekan lalu. Namun, penguatannya dinilai hanya sementara.

Menanggapi hal tersebut Research & Development PT Trijaya Pratama Futures, Alwy Assegaf mencermati, pelemahan mata uang euro (EUR) dan yen (JPY) pada pekan lalu menyokong penguatan sementara dolar AS.

Di Eropa, gejolak politik terjadi di Prancis, dipicu pengunduran diri Perdana Menteri Sebastien Lecornu setelah kurang dari sebulan menjabat. Meskipun, Presiden Emmanuel Macron telah menunjuknya kembali sebagai Perdana Menteri pada Jumat (10/10/2025).

Baca Juga  Rupiah Spot Menguat Tipis 0,02% Bertengger di Level Rp16.586 Per Dolar AS

Sementara itu, Alwy melanjutkan, pelemahan yen tak terlepas dari terpilihnya Sanae Takaichi sebagai pemimpin baru Partai Demokrat Liberal di Jepang.

“Takaichi dikenal pro terhadap kebijakan Abenomics, sehingga yen melemah cukup signifikan,” terangnya.

Alwy menjelaskan, Abenomics merujuk pada kebijakan yang diambil Shinzo Abe saat menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang pada 2012. Kebijakan ini pro terhadap stimulus jumbo dan suku bungga longgar.

Maka, Alwy menilai naiknya Takaichi dinilai memperbesar keraguan pasar terkait kebijakan suku bunga acuan Bank of Japan (BoJ) di sisa tahun. “Dengan terpilihnya Takaichi, harapan BoJ akan menaikkan suku bunga pun sirna,” tuturnya.

Bagaimanapun, menurut Alwy, penguatan dolar AS masih tak begitu signifikan ke depan. Apalagi, mengingat government shutdown yang merugikan perekonomian negara.

Belum lagi, setelah pemerintahan AS kembali dibuka, RUU pendanaan akan disetujui agar lembaga pemerintah bisa beroperasi lagi. Artinya, akan ada penambahan biaya atau penambahan anggaran

Berangkat dari sana, isu debt ceiling atau batas utang AS dapat muncul di akhir tahun.

“Maka, setelah shutdown dibuka, nanti ke depannya masih ada ancaman lagi,” ujar Alwy.

Sementara itu, Pengamat Mata Uang Ibrahim Assuaibi mencermati, Presiden AS Donald Trump baru saja memberikan ancaman tarif impor tambahan sebesar 100% kepada Tiongkok.

“Hal ini atas perlindungan terhadap Tiongkok yang memperketat ekspor tanah jarang,” ujarnya.

Ibrahim menilai, hal ini akan berdampak luar biasa terhadap dinamika tarif. Apalagi, pada 1 Oktober lalu, Trump telah menerapkan bea impor dan akan kembali menerapkan pada 14 Oktober dan 1 November 2025 mendatang.

“Artinya perang dagang akan terus memanas dan inflasi jadi tak jelas,” imbuh Ibrahim.

Ibrahim memprediksi indeks dolar AS dapat berada di posisi 101,70 pada akhir tahun.

Sementara Alwy menilai rebound dolar AS hanya sementara. Hingga akhir tahun, Alwy memprediksi indeks dolar AS akan berada di area support 96,38 dengan resistance di level 100.