Ringkasan Berita
- Kamis (30/10/2025) rupiah spot terus tertekan ditutup di level Rp 16.636 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot.
- Ini membuat rupiah spot melemah 0,11% dibanding penutupan hari sebelumnya ke level Rp 16.617 per dolar AS.
- Hingga pukul 15.00 WIB, rupee India menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ambles 0,48%.
Topikseru.com – Pada penutupan perdagangan hari ini. Kamis (30/10/2025) rupiah spot terus tertekan ditutup di level Rp 16.636 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot.
Ini membuat rupiah spot melemah 0,11% dibanding penutupan hari sebelumnya ke level Rp 16.617 per dolar AS. Pergerakan rupiah pun sejalan dengan hampir seluruh mata uang di Asia.
Hingga pukul 15.00 WIB, rupee India menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ambles 0,48%. Disusul, won Korea Selatan yang anjlok 0,47%.
Selanjutnya, yen Jepang turun 0,45% dan dolar Taiwan yang sudah ditutup terkoreksi 0,34%. Lalu, peso Filipina terlihat tertekan 0,27%.
Berikutnya, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,24% dan yuan China turun 0,13%. Lalu, baht Thailand dan dolar Singapura sama-sama melemah 0,09%.
Sedangkan dolar Hongkong menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang menguat setelah naik 0,03% terhadap the greenback.
Rupiah Spot Menguat 0,09% Level Rp16.602 Per Dolar AS Pagi Ini

Pada awal perdagangan hari ini. Kamis (30/10/2025) rupiah spot tipis di dibuka di level Rp 16.602 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot.
Ini membuat rupiah spot menguat 0,09% dibanding penutupan pada hari sebelumnya yang berada di level Rp 16.617 per dolar AS. Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia.
Hingga pukul 09.00 WIB, pergerakan mata uang di Asia bervariasi. Di mana, yen Jepang menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,14%.
Selanjutnya ada peso Filipina yang terkerek 0,12% dan dolar Singapura yang terangkat 0,05%. Disusul, yuan China yang naik 0,02%.
Berikutnya dolar Hongkong yang terlihat menguat tipis 0,01% terhadap the greenback.
Sementara itu, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,27%. Diikuti, dolar Taiwan yang terkoreksi 0,24%.
Kemudian, won Korea Selatan yang turun 0,14% dan baht Thailand yang melemah tipis 0,03% di pagi ini.
Analis Pasar: Rupiah Spot Bakal Bergerak Berfluktuatif

Pada perdagangan Rabu (29/10/2025) rupiah spot melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,05% secara harian ke level Rp 16.617 per dolar AS.
Senada, berdasarkan kurs Jisdor Bank Indonesia (BI) rupiah juga melemah 0,05% ke posisi Rp 16.631 per dolar AS.
Menanggapi hal tersebut, Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, rupiah ditutup hampir datar. Investor cenderung wait and see hasil pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump pada Kamis (30/10).
Investor juga melihat bahwa dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) malam ini diperkirakan tidak akan ada kejutan dan memangkas suku bunga sesuai dengan perkiraan yakni 25 bps.
“Rupiah diperkirakan masih akan datar, kecuali ada kejutan pada FOMC malam ini,” ucap Lukman kepada Kontan, Rabu (29/10).
Lukman memproyeksikan rupiah bergerak di rentang Rp 16.550 – Rp 16.650 per dolar AS pada Kamis (30/10).
Baca Juga: Energi Mega Persada (ENRG) Catat Kenaikan Penjualan dan Laba di Kuartal III-2025
Sementara Pengamat Mata Uang, Ibrahim Assuaibi melihat sentimen dari dalam negeri yang mempengaruhi pergerakan rupiah diantaranya terkait penilaian dari Lembaga pemeringkat Rating and Investment Information, Inc. (R&I).
Lembaga tersebut mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia atau Sovereign Credit Rating (SCR) pada level BBB+ dengan outlook stabil pada 24 Oktober 2025.
Dalam keterangannya, R&I menilai inflasi Indonesia masih stabil, sementara rasio utang pemerintah tetap rendah dengan kebijakan fiskal dan moneter yang dianggap prudent.
Hanya saja, lembaga yang bermarkas di Jepang itu menekankan perlunya asesmen lanjutan atas langkah pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi sambil menjaga kesehatan fiskal jangka menengah.
Bank Indonesia merespon positif keputusan R&I yang mencerminkan kepercayaan kuat investor internasional terhadap stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional di tengah ketidakpastian global.
Ibrahim menyebut, pentingnya sinergi kebijakan antara Bank Indonesia sebagai otoritas moneter dan pemerintah sebagai otoritas fiskal untuk memperkuat persepsi positif terhadap perekonomian nasional.
Ibrahim memperkirakan rupiah pada Kamis (30/10) bergerak fluktuatif, namun ditutup menguat direntang Rp 16.570 – Rp 16.620 per dolar AS.













