Ekonomi dan Bisnis

UMKM Tekstil Ramah Lingkungan Terjepit Fast Fashion, Pelaku Usaha di Medan Ungkap Tantangan Berat

×

UMKM Tekstil Ramah Lingkungan Terjepit Fast Fashion, Pelaku Usaha di Medan Ungkap Tantangan Berat

Sebarkan artikel ini
UMKM tekstil ramah lingkungan
Salah satu produk Nauli Ecoprint adalah tas dari kulit domba dengan motif yang dicetak dengan metode ecoprint. Foto: Dok.Nauli Ecoprint.

Topikseru.com – Tren penggunaan produk tekstil ramah lingkungan terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Namun pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor ini masih menghadapi jalan terjal untuk bisa bersaing dengan dominasi industri fast fashion yang menguasai pasar dengan produksi massal dan harga lebih murah.

Hal tersebut dirasakan langsung oleh Nauli Ecoprint, UMKM asal Medan yang bergerak di bidang mode dan aksesori handmade dengan memanfaatkan bahan-bahan alami sebagai sumber motif dan pewarna.

Arin, staf administrasi dan pemasaran Nauli Ecoprint, mengatakan tekanan terbesar datang dari persaingan harga dan keterbatasan bahan baku.

“Kami terkendala dalam pemasaran dan harga. Berhadapan dengan produk tekstil massal itu sangat berat, sementara bahan baku seperti tanaman untuk motif juga tidak selalu tersedia,” ujarnya kepada Topikseru.com, Jumat (14/11/2025), di Medan Johor.

Minimnya Kesadaran Konsumen Jadi Hambatan Utama

Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menilai persoalan yang dihadapi UMKM ramah lingkungan jauh lebih struktural.

UMKM tekstil ramah lingkungan
Produk Nauli Ecoprint dijajakan pada Festival Kreatifitas dan UMKM di Lapangan Barasokai, Kecamatan Medan Area, Kota Medan, Sumatera Utara, pada Jumat (31/10/2025). topikseru.com/Agus Sinaga

Menurutnya, walau tren eco lifestyle meningkat di kota-kota besar dunia, kesadaran serupa belum mengakar kuat di pasar domestik.

“Kebanyakan konsumen masih fokus pada kualitas lalu harga. Konsumen yang bertanya soal asal bahan baku dan dampaknya ke lingkungan hampir belum ada,” kata Benjamin.

Dia juga mengkhawatirkan produk ramah lingkungan akan terus terdesak jika produk tekstil konvensional tetap mendominasi tanpa regulasi pendukung.

“Saya khawatir industri eco friendly tidak berkembang karena tidak mampu bersaing secara harga. Fast fashion itu murah karena produksinya besar,” tambahnya.

Benjamin menegaskan industri tekstil ramah lingkungan membutuhkan dukungan politik, termasuk regulasi dan kampanye edukatif agar menjadi gerakan bersama dalam mengurangi polusi lingkungan.

Pemerintah Akui Tantangan, UMKM Didorong Terus Berinovasi

Dari sisi pemerintah daerah, UPT Pelatihan Koperasi dan UMKM Sumut menyebut sudah memberikan fasilitasi terhadap pelaku usaha yang bergerak di bidang ekoprint dan tekstil ramah lingkungan.

Kepala Seksi UPT, Chairul Azman, menuturkan pihaknya telah melatih puluhan pelaku UMKM dalam pengembangan produk berbahan alami.

“Tahun lalu sekitar 50 UMKM kami latih untuk meningkatkan keterampilan dan inovasi agar bisa bersaing dengan industri tekstil lainnya. Kami mendukung penuh sektor ini,” kata Chairul.

Dia menegaskan bahwa tekstil ramah lingkungan selayaknya menjadi alternatif masa depan di tengah dominasi fast fashion yang kerap dikritik karena dampak lingkungan dan tingginya limbah produksi.

Ekonomi Hijau: Jalan Panjang UMKM Lokal

Meski tingkat serapan di masyarakat belum setinggi produk konvensional, para pelaku UMKM seperti Nauli Ecoprint tetap bertahan memproduksi karya kreatif berbahan alami, sembari berharap dukungan yang lebih nyata dari pemerintah dan perubahan pola konsumsi masyarakat.

“Kami tetap percaya eco fashion punya masa depan, meski jalannya masih panjang,” ujar Arin.