Topikseru.com – Pada perdagangan Senin (17/11/2025) harga kripto jatuh dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin (BTC) hari ini kembali tertekan dan menyentuh level terendah dalam enam bulan terakhir.
Pelemahan sektor kecerdasan buatan (AI), aksi jual terisolasi, hingga keluarnya dana dari ETF Bitcoin spot membuat pasar kripto berada dalam mode risk off.
Berdasarkan data dari Coinmarketcap, , kapitalisasi pasar kripto global anjlok 1,9% menjadi US$ 3,18 triliun dalam 24 jam.
Kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin (BTC) hari ini jatuh 1,43% dalam 24 jam terakhir.
Saat ini, harga Bitcoin di level US$ 94.167 per koin atau setara Rp 1,57 miliar (Kurs Rp 16.712).
Penurunan tajam juga terjadi pada Ethereum (ETH) sebesar 2,48% menjadi US$ 3.087, Dogecoin (DOGE) ambles 3,34% menjadi US$ 0,15, XRP terkoreksi 1,29% menjadi US$ 2,2, Solana (SOL) jatuh 1,79% menjadi US$ 137, dan Binance (BNB) turun 0,98% menjadi US$ 922.
Dikutip dari Cointelegraph, Bitcoin (BTC) anjlok 11% sejak awal pekan lalu dan menyentuh level posisi terendah sejak Mei.
Kondisi tersebut terjadi seiring melemahnya sejumlah saham teknologi besar yang ikut terseret sentimen negatif dari sektor AI.
Penurunan tajam Bitcoin menghapus sekitar US$ 900 juta posisi long leverage.
Angka ini kurang dari 2% total open interest, sehingga dianggap belum mencerminkan guncangan besar.
Sebagai perbandingan, pada 10 Oktober lalu, likuidasi beruntun akibat likuiditas tipis menyebabkan penurunan 22% pada open interest futures BTC.
Kekhawatiran inflasi kembali mencuat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan rencana pemangkasan tarif untuk menekan harga pangan.
Ekonom senior Allianz, Mohamed El-Erian, menilai risiko resesi meningkat karena rumah tangga berpendapatan rendah semakin terjepit oleh lonjakan biaya hidup.
Di pasar derivatif, premi futures Bitcoin bertahan di sekitar 4%, sedikit membaik dari posisi 3% di awal bulan. Meski masih berada di bawah level netral 5%, minat investor untuk membuka posisi bullish belum sepenuhnya hilang.
Whale dan market maker tercatat menambah posisi long di Binance sejak Rabu setelah harga BTC turun di bawah US$ 100 ribu.
Namun investor besar di OKX justru mengurangi eksposur setelah level US$ 98.000 jebol pada Jumat.
Secara keseluruhan, trader profesional terlihat lebih optimistis dibanding awal pekan.
Pelemahan Sektor AI
Koreksi pasar global pekan ini turut dipicu melemahnya sektor AI yang selama setahun terakhir menjadi tenaga utama bursa saham.
Investor legendaris Michael Burry mempertanyakan apakah penyesuaian masa depresiasi perangkat komputasi telah ‘menggelembungkan’ kinerja sejumlah perusahaan teknologi.
Di sisi lain, ETF Bitcoin spot di AS mencatat net outflow US$ 1,15 miliar dalam dua hari, meski jumlah itu kurang dari 1% total dana kelolaan.
Ditambah lagi, aksi jual dari satu pemegang Bitcoin sejak 2011 menimbulkan kepanikan singkat.
Analis menegaskan aksi jual tersebut bersifat terisolasi dan tidak mencerminkan tren pasar luas.
Indikator volatilitas, delta skew opsi BTC, bertahan di 10%, tidak berubah dari pekan sebelumnya.
Meski berada di atas ambang netral 6%, level ini masih jauh dari puncak 16% bulan lalu.
Dengan penurunan Bitcoin sebesar 24% dari harga tertinggi sepanjang masa, pasar opsi dinilai masih cukup kuat.
Sejumlah perusahaan teknologi bernilai lebih dari US$ 20 miliar mengalami penurunan tajam sejak 5 November, termasuk CoreWeave (CRWV), Ubiquiti (UI), Nebius Group (NBIS), Symbiotic (SYM), dan Super Micro Computer (SMCI).
Data ini menunjukkan investor global cenderung mengurangi risiko dan menahan kas hingga arah ekonomi lebih jelas.
Dengan deretan tekanan tersebut, analis menilai harga Bitcoin kemungkinan masih berada di bawah tekanan dalam jangka pendek.






