Ringkasan Berita
- Harga Bitcoin (BTC) hari ini longsor dan terancam masuk fase bear market, sinyal teknis picu potensi koreksi hingga 77%.
- Berdasarkan data dari Coinmarketcap, kapitalisasi pasar kripto global anjlok 2,1% menjadi US$ 3,11 triliun dalam 24 jam.
- Kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Harga Bitcoin (BTC) hari ini longsor 1,59% dalam 24 jam terakhir.
Topikseru.com – Pada perdagangan Kamis (20/11/2025) pukul 06.34 WIB Pasar kripto anjlok dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin (BTC) hari ini longsor dan terancam masuk fase bear market, sinyal teknis picu potensi koreksi hingga 77%.
Berdasarkan data dari Coinmarketcap, kapitalisasi pasar kripto global anjlok 2,1% menjadi US$ 3,11 triliun dalam 24 jam.
Kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Harga Bitcoin (BTC) hari ini longsor 1,59% dalam 24 jam terakhir.
Saat ini, harga Bitcoin di level US$ 91.309 per koin atau setara Rp 1,52 miliar (Kurs Rp 16.706).
Penurunan tajam juga terjadi pada Ethereum (ETH) sebesar 3,4% menjadi US$ 3.011, Binance (BNB) ambles 4,17% menjadi US$ 894, Dogecoin (DOGE) terpangkas 4,38% menjadi US$ 0,15, XRP jeblok 4,69% menjadi US$ 2,1, dan Solana (SOL) jatuh 3,05% menjadi US$ 136.
Dikutip dari CoinTelegraph, awan gelap kembali menyelimuti pasar kripto setelah indikator teknikal utama Bitcoin memunculkan sinyal bearish yang selama ini kerap menjadi awal dari fase bear market.
Sinyal tersebut datang dari indikator SuperTrend, yang resmi memberikan tanda ‘jual’ pada grafik mingguan Bitcoin.
Menurut laporan Cointelegraph, sinyal serupa di masa lalu berujung pada kejatuhan harga Bitcoin antara 77% hingga 84%, seperti yang terjadi pada bear market 2018 dan 2022.
Grafik mingguan menunjukkan SuperTrend berbalik arah dari hijau ke merah dan bergerak di atas harga Bitcoin pekan lalu, sebuah kombinasi yang historisnya menandai berakhirnya bull market.
Sinyal ini semakin kuat setelah pasangan BTC/USD ditutup di bawah moving average (MA) 50-minggu pada Minggu lalu.
“SuperTrend mingguan berubah merah untuk pertama kalinya sejak Januari 2023. Ini bisa menjadi tanda awal bear market meskipun belum pasti,” ujar analis Bitcoinsensus dalam unggahan di X.
Jika pola historis berulang, Bitcoin berpotensi terkoreksi dalam hingga US$ 75 ribu, dipicu melemahnya permintaan dari perusahaan treasury Bitcoin dan keluarnya dana dari ETF Bitcoin spot berbasis AS.
Zona Extreme Fear
Sentimen pasar juga ikut memperburuk kondisi. Crypto Fear & Greed Index kini berada pada level 11, zona ‘extreme fear’ terdalam sejak Februari lalu.
Pergerakan historis Bitcoin saat indeks berada di level serupa menunjukkan dua kemungkinan skenario, yaitu pada 2021, indeks berkutat di zona ketakutan ekstrem selama tiga bulan.
Harga Bitcoin sempat turun 40%, namun kemudian bangkit dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di level US$ 69 ribu.
“Ada peluang besar bahwa rasa sakit jangka pendek masih akan terjadi, namun potensi pembalikan bisa muncul dalam 2–3 minggu ke depan,” ujar analis Milk Road dalam buletin Rabu (19/11/2025), sembari menambahkan bahwa sentimen buruk tidak menutup potensi Bitcoin mencetak rekor tertinggi baru dalam jangka menengah.
Namun skenario terburuk juga harus diwaspadai. Pada Mei 2022, ketika indeks Fear & Greed masuk zona extreme fear dan bertahan di sana selama dua bulan, Bitcoin jatuh dari US$ 69 ribu hingga menyentuh US$ 15 ribu, fase terberat bear market 2022.







