BursaEkonomi dan Bisnis

IHSG Masih Mempertahankan Penguatan 67,814 Poin Bertengger di Level 8.474,392 Siang Ini

×

IHSG Masih Mempertahankan Penguatan 67,814 Poin Bertengger di Level 8.474,392 Siang Ini

Sebarkan artikel ini
IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mempertahankan penguatan 67,814 poin atau 0,81% ke 8.474,392 di akhir perdagangan sesi pertama hari ini. Kamis (20/11/2025)

Topikseru.com – Pada akhir perdagangan sesi pertama hari ini. Kamis (20/11/2025) pukul 12.00 WIB Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mempertahankan penguatan 67,814 poin atau 0,81% ke 8.474,392 di pasar spot.

Penguatan IHSG ini disokong hampir seluruh mayoritas indeks sektoral. Sektor dengan penguatan terbesar dicetak IDX Sektor Barang Konsumen Non-Primer yang melonjak 2,7% di akhir sesi pertama.

Selanjutnya, IDX Sektor Energi menguat 1,04, IDX Sektor Keuangan menguat 0,68%, IDX Sektor Perindustrian naik 0,61% dan IDX Sektor Infrastruktur menguat 0,54%.

Berikutnya ada IDX Sektor Barang Baku menguat 0,48%, IDX Sektor Barang Konsumen Primer menguat 0,47%, IDX Sektor Kesehatan naik 0,41% dan IDX Sektor Transportasi dan Logistik menguat 0,21%.

Sementara itu, IDX Sektor Properti dan Real Estate menjadi sektoral dengan pelemahan terdalam setelah anjlok 0,89% di akhir sesi pertama.

Berikutnya, IDX Sektor Teknologi terlihat melemah tipis 0,1%.

Total volume transaksi bursa mencapai 19,39 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 10,3 triliun. Sebanyak 358 saham naik harga, 240 turun harga dan 210 flat.

Top gainers LQ45 siang ini terdiri dari:

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) naik 3,09%
PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) naik 3%
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 2,68%
Top losers LQ45 siang ini adalah:

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) turun 2,23%
PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) turun 1,48%
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) turun 1,33%

IHSG Tampil Perkasa Menguat 47,268 Poin Berdiri Tegar di Level 8.453,845 Pagi Ini

IHSG
Penguatan IHSG ini disokong hampir seluruh indeks sektoral. Sektor dengan penguatan terbesar dicetak IDX Barang Baku yang melonjak 1% di pagi ini.

Pada awal perdagangan hari ini. Kamis (20/11/2025) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tampil perkasa IHSG menguat 47,268 poin atau 0,56% ke 8.453,845 di pasar spot.

Penguatan IHSG ini disokong hampir seluruh indeks sektoral. Sektor dengan penguatan terbesar dicetak IDX Barang Baku yang melonjak 1% di pagi ini.

Berikutnya ada IDX Sektor Energi, IDX Sektor Infrastruktur, IDX Sektor Barang Konsumen Non-Primer dan IDX Sektor Barang Konsumen Primer.

Selanjutnya, IDX Sektor Keuangan, IDX Sektor Teknologi, IDX Sektor Transportasi dan Logistik dan IDX Sektor Kesehatan.

Sementara itu, IDX Sektor Properti dan Real Estate menjadi sektoral dengan pelemahan terdalam setelah anjlok 1,3% di pagi ini. Diikuti, IDX Sektor Perindustrian.

Top gainers LQ45 pagi ini terdiri dari:

PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) naik 3,57%
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) naik 2,32%
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 2,06%

Top losers LQ45 pagi ini adalah:

PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) turun 1,09%
PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) turun 0,85%
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) turun 0,8%

Analis Pasar: IHSG Diperkirakan Masih akan Bergerak Sideways Hari Ini

IHSG
Dengan kombinasi sinyal teknikal tersebut, IHSG diperkirakan masih akan bergerak sideways pada perdagangan Kamis (20/11/2025), dengan area support di 8.300 dan resistance di 8.450.

Pada perdagangan Rabu (19/11/2025) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup dengan penguatan 0,53% ke level 8.406,58.

Kenaikan indeks terjadi di tengah keputusan Bank Indonesia (BI) untuk kembali mempertahankan BI Rate di posisi 4,75%, yang merupakan level terendah sejak Oktober 2022.

Keputusan tersebut mencerminkan konsistensi BI dalam menjaga stabilitas inflasi yang tetap berada dalam rentang sasaran serta menjaga keseimbangan nilai tukar Rupiah.

Imbasnya, Rupiah turut menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada akhir perdagangan.

Pertumbuhan Kredit Melambat, Permintaan Pinjaman Lemah

Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati adanya perlambatan pertumbuhan kredit perbankan. Pada Oktober 2025, kredit hanya tumbuh 7,36% secara tahunan (yoy), turun dari 7,7% pada September dan menjadi yang terendah sejak Juli 2025.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai tingginya porsi kredit belum tersalurkan (undisbursed loan) menunjukkan lemahnya permintaan di lapangan.

Baca Juga  IHSG Turun 39,80 Poin ke Level 8.530,46 Berlawanan Arah dengan Bursa Asia Pagi Ini

“Undisbursed loan yang mencapai Rp2.450 triliun atau 22,9% dari pagu kredit menunjukkan masih lemahnya permintaan pinjaman di tengah daya beli kelas menengah yang tertekan,” ujar Alrich.

Pasar Menanti Sentimen Eksternal dari China dan AS

Dari sentimen global, perhatian investor akan tertuju pada keputusan suku bunga pinjaman Bank Sentral China (PBoC) yang dijadwalkan rilis dalam waktu dekat. Selain itu, data tenaga kerja Amerika Serikat juga dinanti, dengan proyeksi menunjukkan adanya perbaikan kondisi pasar tenaga kerja.

Kedua faktor tersebut dipandang berpotensi menjadi katalis tambahan bagi pergerakan aset berisiko di kawasan Asia, termasuk pasar saham Indonesia.

Teknikal IHSG Masih Mengindikasikan Gerak Sideways

Secara teknikal, IHSG menutup perdagangan di atas moving average 5 (MA5). Namun, indikator MACD mulai mengarah pada potensi death cross, sementara Stochastic RSI menunjukkan pelemahan.

Dengan kombinasi sinyal teknikal tersebut, IHSG diperkirakan masih akan bergerak sideways pada perdagangan Kamis (20/11/2025), dengan area support di 8.300 dan resistance di 8.450.

“Untuk besok, IHSG berpeluang bergerak di rentang tersebut sambil menunggu sentimen global yang lebih jelas,” kata Alrich

Alrich merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai memiliki potensi menarik di tengah pergerakan pasar yang cenderung terbatas. Saham-saham tersebut mencakup: HRTA, SMGR, ISAT, PYFA, dan SSIA.Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup dengan penguatan 0,53% ke level 8.406,58.

Kenaikan indeks terjadi di tengah keputusan Bank Indonesia (BI) untuk kembali mempertahankan BI Rate di posisi 4,75%, yang merupakan level terendah sejak Oktober 2022.

Keputusan tersebut mencerminkan konsistensi BI dalam menjaga stabilitas inflasi yang tetap berada dalam rentang sasaran serta menjaga keseimbangan nilai tukar Rupiah. Imbasnya, Rupiah turut menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada akhir perdagangan.

Pertumbuhan Kredit Melambat, Permintaan Pinjaman Lemah

Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati adanya perlambatan pertumbuhan kredit perbankan. Pada Oktober 2025, kredit hanya tumbuh 7,36% secara tahunan (yoy), turun dari 7,7% pada September dan menjadi yang terendah sejak Juli 2025.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai tingginya porsi kredit belum tersalurkan (undisbursed loan) menunjukkan lemahnya permintaan di lapangan.

“Undisbursed loan yang mencapai Rp2.450 triliun atau 22,9% dari pagu kredit menunjukkan masih lemahnya permintaan pinjaman di tengah daya beli kelas menengah yang tertekan,” ujar Alrich kepada Kontan, Rabu (19/11/2025).

Pasar Menanti Sentimen Eksternal dari China dan AS

Dari sentimen global, perhatian investor akan tertuju pada keputusan suku bunga pinjaman Bank Sentral China (PBoC) yang dijadwalkan rilis dalam waktu dekat. Selain itu, data tenaga kerja Amerika Serikat juga dinanti, dengan proyeksi menunjukkan adanya perbaikan kondisi pasar tenaga kerja.

Kedua faktor tersebut dipandang berpotensi menjadi katalis tambahan bagi pergerakan aset berisiko di kawasan Asia, termasuk pasar saham Indonesia.

Teknikal IHSG Masih Mengindikasikan Gerak Sideways

Secara teknikal, IHSG menutup perdagangan di atas moving average 5 (MA5). Namun, indikator MACD mulai mengarah pada potensi death cross, sementara Stochastic RSI menunjukkan pelemahan.

Dengan kombinasi sinyal teknikal tersebut, IHSG diperkirakan masih akan bergerak sideways pada perdagangan Kamis (20/11/2025), dengan area support di 8.300 dan resistance di 8.450.

“Untuk hari ini, IHSG berpeluang bergerak di rentang tersebut sambil menunggu sentimen global yang lebih jelas,” kata Alrich

Alrich merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai memiliki potensi menarik di tengah pergerakan pasar yang cenderung terbatas. Saham-saham tersebut mencakup: HRTA, SMGR, ISAT, PYFA, dan SSIA.