BursaEkonomi dan Bisnis

Rupiah Spot Melemah 0,04% Dibuka Level Rp16.632 Per Dolar AS

×

Rupiah Spot Melemah 0,04% Dibuka Level Rp16.632 Per Dolar AS

Sebarkan artikel ini
Rupiah
rupiah spot dibuka melemah berada di level Rp 16.632 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,04% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.625 per dolar AS.

Ringkasan Berita

  • Baht Thailand menguat 0,25%, yen Jepang menguat 0,13%.
  • Di Asia, mayoritas mata uang menguat terhadap dolar AS pagi ini.
  • Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 99,23, turun…

Topikseru.com – Pada awal perdagangan Rabu (3/12/2025) rupiah spot dibuka melemah berada di level Rp 16.632 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,04% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.625 per dolar AS.

Di Asia, mayoritas mata uang menguat terhadap dolar AS pagi ini. Baht Thailand menguat 0,25%, yen Jepang menguat 0,13%.

Yuan China menguat 0,07%, ringgit Malaysia menguat 0,05%, dolar Singapura menguat 0,05% dan dolar Hong Kong menguat 0,03% terhadap dolar AS.

Sedangkan mata uang Asia lainnya melemah terhadap dolar AS pagi ini. Peso Filipina melemah 0,27%, won Korea melemah 0,12%, rupiah yang melemah 0,04% dan dolar Taiwan melemah 0,03%.

Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 99,23, turun dari sehari sebelumnya yang ada di 99,35.

Analis Pasar: Rupiah Spot akan Bergerak Fluktuatif Bergerak Rentang Rp16.620–Rp16.640 Per Dolar AS

rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (2/12). Rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,23% secara harian ke Rp 16.625 per dolar AS.

Senada, rupiah di Jisdor Bank Indonesia (BI) juga menguat 0,21% secara harian ke Rp 16.632 per dolar AS.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh ekspektasi bahwa The Federal Reserve akan melanjutkan siklus pelonggarannya.

Ini ditandai dengan meningkatnya CME FedWatch Tool yang menunjukkan bahwa peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Desember adalah sebesar 87,4%.

Penasihat Ekonomi Nasional Gedung Putih, Kevin Hassett, kemungkinan akan ditunjuk sebagai Ketua Fed berikutnya, menggantikan Jerome Powell.

Namun, Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Minggu bahwa ia tidak akan memberi tahu siapa pun siapa yang akan ditunjuk, tetapi ia sudah menentukan pilihannya.

Sementara berdasarkan data, Institute for Supply Management (ISM) mengungkapkan bahwa aktivitas manufaktur pada bulan November yang mengalami kontraksi selama sembilan bulan berturut-turut.

“Data lebih lanjut, yang diungkapkan oleh ISM, menunjukkan bahwa harga input meningkat dan pasar tenaga kerja masih berada dalam kondisi rendahnya tingkat pemecatan dan perekrutan,” ujar Ibrahim.

Ibrahim menambahkan, sentimen domestik yang mempengaruhi rupiah di antaranya laju inflasi nasional.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) hanya naik 0,17% secara bulanan, lebih rendah dibandingkan 0,28% pada Oktober.

Secara tahunan, inflasi mereda menjadi 2,72%, sementara inflasi year to date berada di level 2,27%. Inflasi tersebut terutama ditopang oleh komponen inti yang naik 0,17% dan berkontribusi 0,11% terhadap inflasi nasional.

Baca Juga  Rupiah Spot Berbalik Melemah 0,01% Bersandar di Level Rp 16.572 Per Dolar AS Siang Ini

Ibrahim memproyeksikan rupiah pada Rabu (3/12/2025) bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada rentang Rp 16.620 – Rp 16.640 per dolar AS.

Ramalan Dolar AS di Akhir Tahun 2025

Indeks dolar Amerika Serikat (DXY) mengalami pelemahan setelah kembali berada di bawah level 100. Hal ini karena meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Taufan Dimas Hareva, Research and Development ICDX mengatakan, indeks dolar melemah kembali ke bawah level 100 seiring meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada pertemuan Desember.

Penurunan ini juga dipicu oleh data ekonomi Amerika Serikat yang melemah, termasuk kontraksi pada indeks manufaktur dan indikator aktivitas yang menandakan perlambatan ekonomi.

Kondisi tersebut menekan imbal hasil obligasi AS dan mengurangi daya tarik dolar sebagai aset safe haven.

Di saat yang sama, perbaikan sentimen risiko global mendorong investor keluar dari dolar menuju aset dan mata uang lain yang menawarkan prospek imbal hasil lebih baik.

“Ke depan, indeks dolar diproyeksikan bergerak dalam tren melemah hingga penghujung tahun, dengan kisaran pergerakan diperkirakan berada di area 98 hingga 101 selama tidak ada kejutan data yang berpotensi memicu penguatan dolar kembali,” ujar Taufan.

Taufan menambahkan bahwa ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter yang semakin kuat menjadi faktor utama yang menjaga tekanan pada dolar.

Selain itu, sejumlah bank sentral global seperti European Central Bank (ECB) dan Bank of England (BoE) cenderung mempertahankan kebijakan yang stabil.

Sehingga memberikan ruang bagi mata uang mereka untuk tetap lebih kuat terhadap dolar.

Dalam kondisi tersebut, beberapa mata uang global menunjukkan potensi pergerakan yang lebih stabil dibanding dolar AS, terutama yang didukung oleh prospek kebijakan moneter yang relatif lebih ketat atau fundamental ekonomi yang masih solid.

Euro dan poundsterling, misalnya, berpotensi mempertahankan momentumnya selama bank sentral masing-masing menjaga suku bunga tetap tinggi dan inflasi melandai secara bertahap.

Lalu, mata uang komoditas seperti dolar Australia dan dolar Selandia Baru juga dapat mengambil manfaat apabila sentimen risiko global terus membaik dan permintaan komoditas terjaga.

Sementara itu, aset defensif seperti Yen Jepang dan Swiss Franc tetap relevan sebagai mata uang safe haven ketika terjadi ketidakpastian global.

Meskipun ruang penguatannya sangat bergantung pada arah kebijakan bank sentral dan dinamika imbal hasil obligasi negara maju.

“Dengan demikian, pergerakan sejumlah mata uang hingga akhir tahun akan sangat ditentukan oleh kombinasi sentimen risiko global, arah kebijakan moneter bank sentral utama, serta perkembangan situasi geopolitik yang sewaktu-waktu dapat memengaruhi preferensi investor,” jelas Taufan.