BursaEkonomi dan Bisnis

Analis Pasar: Penguatan Rupiah Berpotensi Terbatas Dipicu Dolar Tertekan Kebijakan The Fed

×

Analis Pasar: Penguatan Rupiah Berpotensi Terbatas Dipicu Dolar Tertekan Kebijakan The Fed

Sebarkan artikel ini
Rupiah
Analis Pasar menilai tekanan dolar AS masih akan berlanjut, namun ruang pelemahannya yang lebih besar kemungkinan terjadi tahun depan.

Ringkasan Berita

  • Berdasarkan data yang dilansir oleh Trading Economics, Rabu (3/12/2025) pukul 18.37 WIB, indeks dolar (DXY) tercatat …
  • Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan dolar AS masih akan berlanjut, namun ruang pelemahannya y…
  • “Saat ini masih tertekan, namun pelemahan lebih lanjut yang lebih besar mungkin akan terjadi tahun depan, ketika Th…

Topikseru.com – Pada perdagangan Rabu (3/12/2025) Indeks dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah seiring ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data yang dilansir oleh Trading Economics, Rabu (3/12/2025) pukul 18.37 WIB, indeks dolar (DXY) tercatat turun 0,37% ke level 99,988 secara harian, dan sudah melemah 1,23% dalam sebulan terakhir.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan dolar AS masih akan berlanjut, namun ruang pelemahannya yang lebih besar kemungkinan terjadi tahun depan.

“Saat ini masih tertekan, namun pelemahan lebih lanjut yang lebih besar mungkin akan terjadi tahun depan, ketika The Fed mulai diisi oleh orang-orang dekat Trump,” ujarnya.

Baca Juga  Rupiah Spot Melemah 0,90% Dalam Sepekan Terkerek Data Ekonomi AS yang Positif

Menurutnya, pelemahan dolar tidak otomatis mengangkat rupiah signifikan. Sebab, Bank Indonesia (BI) cenderung menjaga stabilitas ketimbang membiarkan volatilitas dari penguatan maupun pelemahan besar.

Lukman juga memperkirakan BI akan memanfaatkan momentum pelemahan dolar untuk memangkas suku bunga sejalan dengan kebijakan longgar pemerintah.

Untuk ke depan, ia melihat pergerakan rupiah akan dipengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed dan BI.

Yang banyak ditentukan oleh rilis data ekonomi utama seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan tenaga kerja.

Selain itu, tensi geopolitik terutama di kawasan Asia yang melibatkan China, AS, dan sekutu juga menjadi faktor penting.

Sentimen sektor keuangan global pun berpotensi mempengaruhi nilai tukar. Lukman menyoroti volatilitas pasar ekuitas yang meningkat akibat kekhawatiran koreksi teknologi.

“Sentimen di pasar ekuitas juga masih penuh ketidakpastian oleh kekhawatiran pecahnya gelembung AI,” ujarnya.

Dengan berbagai faktor tersebut, ia memperkirakan rupiah pada kuartal I-2026 akan bergerak dalam rentang Rp16.400–Rp16.800 per dolar AS.