Ringkasan Berita
- Di sisi saham kripto, Gemini mencolok dengan lonjakan lebih dari 30% setelah memperoleh persetujuan regulasi untuk me…
- Pemantulan Bitcoin di akhir sesi terjadi seiring pergerakan serupa di pasar saham AS, dengan Nasdaq berhasil menutup …
- Harga Bitcoin (BTC) terlihat naik 0,26% ke US$ 92.530 per koin atau sekitar Rp 1,54 miliar (kurs Rp 16.655) pada saat…
Topikseru.com – Pada perdagangan Jumat (12/12/2025) Pasar kripto masih bergerak mixed meski mayoritas altcoin melanjutkan koreksi, harga Bitcoin justru kembali menguat karena tekanan jual mulai mereda.
Berdasarkan data Coinmarketcap pukul 06.22 WIB, kapitalisasi pasar kripto global turun 0,43% menjadi US$ 3,14 triliun.
Harga Bitcoin (BTC) terlihat naik 0,26% ke US$ 92.530 per koin atau sekitar Rp 1,54 miliar (kurs Rp 16.655) pada saat berita ini ditulis.
Namun, aset kripto lainnnya malah berbeda arah. Ethereum (ETH) jatuh 3,02%ke US$ 3.327, Binance (BNB) terpangkas 1,56% ke US$ 885, Solana (SOL) terkoreksi 0,85% ke US$ 136, Dogecoin (DOGE) anjlok 2,69% ke US$ 0,14, dan XRP ambles 0,71% ke US$ 2,03.
Dikutip dari CoinDesk, tekanan turun pada Bitcoin mulai mereda, dengan pasar menunjukkan tanda-tanda stabil, meski masih belum sepenuhnya keluar dari area risiko, menurut salah satu analis.
Bitcoin (BTC) kembali naik ke US$ 93.000 pada Kamis, seiring pasar mencerna keputusan The Fed, meski sebagian besar altcoin belum mengikuti penguatan tersebut.
Setelah sempat turun ke US$ 89.000 pasca pemangkasan suku bunga The Fed pada Rabu dan dibukanya pasar saham AS dengan melemah tajam, Bitcoin terakhir diperdagangkan di kisaran US$ 92.000, naik tipis dalam 24 jam terakhir.
Pemantulan Bitcoin di akhir sesi terjadi seiring pergerakan serupa di pasar saham AS, dengan Nasdaq berhasil menutup melemah hanya 0,25% setelah sebelumnya sempat anjlok hingga 1,5%. S&P 500 berakhir menguat tipis dan Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 1,3%.
Kenaikan terbesar hari itu datang dari pasar logam mulia, dengan harga perak melonjak 5% ke rekor tertinggi baru di US$ 64 per ounce, dan emas naik lebih dari 1% mendekati US$ 4.300.
Penguatan ini dipicu indeks dolar AS (DXY) yang melemah ke titik terendah sejak pertengahan Oktober.
Di sisi saham kripto, Gemini mencolok dengan lonjakan lebih dari 30% setelah memperoleh persetujuan regulasi untuk menawarkan prediction markets di AS.
Jasper De Maere, desk strategist di Wintermute, mengatakan pergerakan Kamis semakin menegaskan tren bahwa pasar kripto makin terlepas dari ekuitas, terutama pada momen pemicu makro.
“Hanya 18% sesi perdagangan tahun ini yang menunjukkan BTC mengungguli Nasdaq pada hari-hari pemicu makro,” ujarnya.
“Kemarin sesuai pola tersebut: saham menguat sementara kripto terkoreksi, menandakan bahwa pemangkasan suku bunga sudah sepenuhnya diantisipasi pasar, dan pelonggaran kebijakan tambahan tidak lagi menjadi penopang,” tambahnya.
Ia menambahkan bahwa tanda-tanda awal kekhawatiran stagflasi mulai muncul menuju paruh pertama 2026, dan pasar kini mulai mengalihkan fokus dari kebijakan The Fed ke arah regulasi kripto AS sebagai penggerak utama berikutnya.
Perusahaan analitik Swissblock mencatat tekanan jual Bitcoin mulai menurun, dengan pasar menunjukkan stabilisasi, meski belum benar-benar aman.
“Gelombang jual kedua lebih lemah dibanding gelombang pertama, dan tekanan jual tidak meningkat. Ada tanda-tanda stabilisasi… tetapi belum ada konfirmasi,” tulis perusahaan itu dalam unggahan di X.













